Part One

389 15 5
                                        

Alexandra Genevieve, gadis berusia 22 tahun. Mahasiswa yang sudah memasuki semester 7 dan sedang mempersiapkan dirinya untuk skripsi sebagai tugas akhir.

Gadis cantik itu sedang menunggu temannya di sebuah kafe dekat kampusnya. Teman sebangkunya ketika di sekolah menengah atas.

Genevieve sedang membaca artikel melalui smartphone miliknya sembari menunggu kedatangan temannya.

Seorang pria, salah satu pengunjung kafe yang duduk tidak jauh darinya, sedang memperhatikannya. Genevieve tahu itu. Meskipun pria asing itu memakai tudung kepala serta kacamata yang ia pakai, Genevieve tahu jika pria itu memperhatikannya sejak tadi. Tentu saja membuat gadis itu tak nyaman.

Tiba-tia pria asing tersebut berdiri dan berjalan ke arahnya. Genevieve menundukan kepalanya takut. Ia pura-pura membaca buku mengenai feminis yang sedang ia pegang.

"Sorry, gue telat!"

Genevieve mengangkat kepalanya ketika suara yang ia kenal terdengar di telinganya. Suara temannya, Adit.

Mata Genevieve melirik ke arah pria asing tersebut yang mengurungkan niat untuk menghampiri dirinya. Pria bertudung itu pun kembali ke kursinya.

"Syukurlah kamu cepet datengnya!" Kata Genevieve agak berbisik. Mata Genevieve kembali melirik ke pria bertudung itu.

"Loe kenapa?" Adit menyadari ada sesuatu yang aneh dari raut wajah temannya itu.

Genevieve baru menyadari jika Adit tidak datang sendirian. Ada seseorang pria asing yang ikut duduk di sebelahnya. Pria asing, wajahnya terlihat seperti orang barat.

"Orang yang duduk di arah jam 12, ia terus melihat ke arahku."

Adit mengikuti arahan Genevieve. "Yang mana?"

Genevieve memutar kedua bola matanya. "Posisiku, arah jam 12!"

Adit baru mengerti yang dimaksudkan oleh temannya itu. Kedua pria itu membalikan badannya dan melihat seorang pria yang baru saja tertangkap basah, lalu melarikan diri.

"Loe kenal?" Tanya Adit

Genevieve menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa liat wajahnya. Dia terlalu jauh dan mataku minus." Ia menyeruput milkshake cokelatnya.

"Oh ya, kenalkan. Dia, Devan. Teman gue. Gue pernah cerita soal Devan ke loe, kan." Adit memperkenalkan pria yang duduk di sebelahnya.

Otak Genevieve memutar memori yang ia punya. Raut wajahnya berubah ketika dirinya mengingat sesuatu.

Waktu ia masih duduk di sekolah menengah atas, Adit pernah menceritakan tentang sahabatnya yang bernama Devan.

"Devan, kenalkan.. dia Genevieve. Teman gue, yang pernah gue ceritain ke elo."

"Kamu cerita apa memangnya?" Genevieve menatap Adit penuh curiga.

"Cerita mengenai betapa menyedihkannya loe saat berpacaran dengan Stephan!" Jawab Adit yang disambut dengusan sebal gadis itu.

"WUAANJAY!" Hardik Genevieve.

Devan memiliki darah keturunan Jerman sehingga memiliki perawakan orang Eropa. Pria tampan itu mengulurkan tangannya pada Genevieve. "Devan."

Genevieve tersenyum. Tangannya menyambut uluran tangan pria tampan itu. "Genevieve."

Gadis itu teringat cerita yang diceritakan oleh Adit mengenai Devan. Devan seorang playboy. Lebih tepatnya, mantan playboy.

Mungkin.

Memiliki paras tampan. Genevieve tidak akan menyangkal fakta tersebut. Namun, hatinya tidak akan terpaut pasa pria-pria playboy. Mungkin kalau cerita-cerita yang ada di novel, film atau wattpad pasti menyeritakan akhir kisah dimana seorang playboy yang akhirnya tobat karena seorang gadis.

TWO BOYFRIENDSStories to obsess over. Discover now