Si Manis Itu

23 3 0
                                        

Dinginnya malam menyengat ke celah kain pembungkus badan. Digesekkannya kedua belah telapak tangan untuk mencari kehangatan.

Melinda menghela napas. Dirinya tampak kedinginan di hadapan nyala api unggun yang ada di depannya. Sesekali telapak tangannya di arahkan ke arah api.

"Dingin" gumamnya. Bunyi gemeletuk giginya dapat terdengar. Rinda di sebelahnya menengok, "Kalo dingin mending ke dalem, lagi pula ini cuman mau main ToD." sarannya.

Melinda menggeleng, "Ga enak sama yang lain Rin." jawabnya. Rinda hanya menghela napas mendengar jawaban dari kawannya yang keras kepala ini.

"Oke mulai nih ya ToD nya. Harus terima lho apapun konsekuensi nya. Ga boleh ada yg curang" kata Risal memulai. Dia berdiri di sebelah sebuah meja dekat Melinda. Melinda yang mendengar pun segera mendekati Risal.

Karena merasa teman temannya sudah berkumpul. Risal mulai memutar sebuah botol bekas diatas meja.

Yang terkena pertama kali adalah cewe, Melinda ga terlalu kenal karena dia ga terlalu dekat dengan teman sekelasnya. Permainan terus berlanjut hingga giliran Melinda yang kena.

"Oke Lin, ToD?" tanya Risal. Melinda memilih T, karena menurutnya ga ribet. "Yang mau ngasih pertanyaan?" tanya Risal.

Seorang cowo mengangkat tangannya tinggi kemudian, "Siapa orang yang lu suka di sekolah?" tanya dia.

Melinda menatap cowo itu datar. "Gak ada" jawabnya. Kemudian memasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket. "Gue udahan dulu ya. Ga kuat dingin banget." pamit Melinda yang kemudian melangkah pergi menuju penginapan.

Yang lain mengangguk. "langsung istirahat Mel, biar besok seger. Masih banyak yang bakal kita lakuin soalnya." teriak Risal.

Cowo yang memberikan Melinda pertanyaan diam. Tak lama dia bangkit, "gua ke kamar dulu guys," pamitnya. " Dani mau PDKT guys" ucap orang di samping cowo tadi, yang dihadiri geplakan di kepala oleh Dani. "Banyak bacot." ketus Dani lalu pergi.

Yang lainnya hanya dapat tertawa geli dengan nasib Benu. Salah sendiri menggoda Dani yang galak.

***

Melinda bangun lebih pagi dari lainnya. Iya, diakan tidur paling awal. Bangunnya ya paling awal juga. Dia kemudian pergi ke kamar mandi guna mencuci wajahnya, biar lebih segar.

Setelah itu, dia keluar dari penginapan menuju ke halaman penginapan. Niat awalnya untuk berolahraga sebentar. Misal lari-lari mengelilingi penginapan.

Namun, siapa sangka dia akan bertemu dengan Dani yang sudah siap dengan pakaian santainya, yang sepertinya akan berlari pagi.

"Hai Mel! " sapa Dani pada Melinda. Melinda menengok, " Oh, Hai. " batasnya singkat.

" Mau lari ya? " tanya Dani. Modus, karna dia tau bahwa cewe itu akan lari pagi. Seperti sehari sebelumnya,Dani membuntuti Melinda yang tengah lari pagi kemarin.

" Iya. " jawab Melinda singkat. Dia begitu canggung dengan pemuda di hadapannya ini.

" Oh, sekalian nih bareng ama gue, gue juga mau lari nih. " balas Dani. Melinda hanya mengangguk. Dan langsung berlari.

Pagi ini, Dani mulus menjalankan misi pendekatan dengan Melinda.

****

Hari-hari berlalu setelah liburan mereka di puncak. Sudah sebulan juga dari masa liburan itu. Dani semakin gencar untuk mendekati Melinda.

Melihat respon Melinda yang positif membuat Dani tanpa ragu ingin menyatakan perasaannya nanti pulang sekolah. Di hadapan rumah Melinda. Iya, Dani tadi pagi menjemput Melinda. Dengan alasan sejalur untuk ke sekolah.

Bermodalkan dengan jam tangan dan bunga mawar putih setangkai. Dani mulai menjalankan aksinya. Selepas Melinda turun dari boncengannya. Dani kemudian turun dari motornya, melepaskan helm yang tadi dikenakannya. Lalu mengambil jam serta bunga di dalam tasnya.

Dengan mantap Dani menyerahkan dua benda tersebut. " Mel, udah lama gue suka sama lu. Ini gua mau bilang, jadi pacar gue mau?" tanya Dani mantap.

Melinda hanya tertawa receh. Sungguh, cara menembak Dani lucu menurutnya.

Diraihnya jam dan juga bunga mawar putih di tangan Dani. Senyum Dani melebar.

"Kalo gue pake jamnya minggu besok pas lu jemput gue, berarti gue terima. Tapi kalau ga gue pake artinya gue tolak. " kata Melinda.

Dani hanya menatap bingung. Dia harus menunggu jawabannya seminggu begitu? Tanyanya dalam hati.

" Makasi buat tumpangannya, Dani" kata Melinda lalu berbalik berjalan menuju rumahnya.

Dani hanya menatap punggung cewe itu.

Tunggu seminggu lagi Dan, siapa tau si manis bakal nerima lu kan?? Berdoa aja, katanya dalam hati.

Iya berdoa aja Dan.

***end***


One! Done!

One! Done!

Hoppla! Dieses Bild entspricht nicht unseren inhaltlichen Richtlinien. Um mit dem Veröffentlichen fortfahren zu können, entferne es bitte oder lade ein anderes Bild hoch.



Du hast das Ende der veröffentlichten Teile erreicht.

⏰ Letzte Aktualisierung: Feb 22, 2020 ⏰

Füge diese Geschichte zu deiner Bibliothek hinzu, um über neue Kapitel informiert zu werden!

Free Time Wo Geschichten leben. Entdecke jetzt