Di sekolah, masih pukul 06.10 pagi. Terlalu pagi untuk keributan yang diciptakan Gevin. Laki laki satu ini baru saja menghantam seseorang di hadapannya. Laki laki yang merupakan adik kelasnya itu terlihat tak berdaya. Namun apa yang bisa dilakukan kepada seorang Gevin? Dia bahkan tak peduli seberapa lama ia harus di skors nantinya. Tangan Gevin mengalah di depan anak itu. Sebuah amplop coklat muda keluar dari saku jaket si anak dan di letakkan di atas telapak dingin milik Gevin. Ya, semua orang melihatnya sebagai 'pemerasan dan kekerasan'
Tak bisa aku pungkiri. Aku juga berfikir demikian. Melihat dari lantai 3 tanpa berbuat apapun. Hanya melihat dan menilai. Terdengar tak adil kan? Tapi nyatanya memang seperti itu. Sama seperti siswa siswi lain. Kami kembali ke kelas setelah bel masuk berbunyi. Kembali belajar dan belajar, seperti biasanya.
"Kak Gevin kok berani ya kaya gitu di tengah lapangan?" Ran, teman sebangkuku mulai bicara di tengah pelajaran matematika yang membosankan
"Kalo gak berani bukan kak Gevin berarti" jawabku yakin sambil terus mencatat poin poin penting pelajaran
"Dia gak takut apa yang yang iseng terus nyebarin ke sosmed?"
"Tau dah, udah ga mikir kaya gitu kali dia" aku dan Ran masih berbicara. Hingga segerombolan orang lewat di depan kelasku. Ramai dan agak ribut.
"Terserah kalo ibu emang mau seret saya, tapi jangan seret temen saya, mereka ga tau apa apa" seru sebuah suara di balik pintu kelasku
"Mereka melihat, tapi tak mencoba menghentikan kamu, jadi-"
"Terus mereka yang bergerombol nonton saya di koridor? Ga adil kalo cuman teman teman saya yang di perlakukan seperti ini" suara itu dengan cepat menyambar ucapan seorang wanita
"Oke, hanya kamu, ikut ibu ke ruang bk" wanita itu kembali bersuara.
"Oke fix itu kak Gevin lagi di seret ke ruang BK sama bu Novi" batinku.
"Kalian jangan ngikutin kelakuan kakak kelas kamu itu ya anak anak" guru matematika ku tiba tiba menutup spidolnya dan mulai bicara yang tak sejalan dengan pelajaran.
"Jangan mentang mentang dia udah jadi senior, dia seenaknya saja berperilaku di sekolah. Apalagi seperti tindakannya tadi pagi." ucap Bu Rika dengan banyak penekanan.
Setelah itu, bel istirahat berbunyi. Banyak anak berhamburan keluar kelas, tak terkecuali aku dan Ran. Perut yang menggerutu minta diisi sejak tadi mulai tak bisa ditahan.
Langkah kaki kami menyusuri koridor. Kemana lagi kalau bukan kantin. Namun di tengah perjalanan itu, mataku tertarik pada satu titik. Gevin. Di tengah halaman parkir. Wajahnya terlihat sedang berargumen dengan seseorang, tidak, dua orang. Setelah itu ia pergi menjauh dari dua orang itu. Ke belakang gedung sekolah, ke arah gudang lebih tepatnya.
Tapi entahlah. Aku tidak terlalu peduli dengannya. Tujuanku hanya belajar, kuliah, selesaikan sekolah, dan jadi apa yang aku impikan. Dan mungkin tak akan ada cukup waktu untuk memgurus hal hal semacam yang di lakukan oleh kak Gevin.
"Pesen apaan?" Ran menarik denganku untuk segera duduk di kursi kantin setelah kami sampai.
"French Fries sama es teh satu" ucapku menjawab pertanyaannya
"Yaudah, tungguin bentar gw yang mesen" Ran lalu bangkit lagi dari lduduknya. Ikut mengganti dia barisan terpendek di depan warung yang menjual pesananku.
Tanganku merogoh saku rok abu abuku, mencari ponsel yang sejak tadi tak aku keluarkan. Saat aku membuka instagram, nyaris semua akun yang ada di sekolahku memposting perkelahian Gevin tadi pagi. Cukup merusak nama, menurutku.
Ran kembali saat aku masih sibuk dengan timeline instagramku.
"Makan tuh,"Ran memecahkan lamunanku yang yenggelam diantara postingan postingan di Instagram.
CZYTASZ
Eagle
Dla nastolatkówMasa lalu tak pernah pergi. Begitu juga remaja yang satu ini. Masa lalu yang kelam, membuat dirinya menjadi kelam pula. Gelap, dingin dan sendiri. Tapi hati kecilnya tetap hangat. Wanitanya merasakan itu.
