Minggu
Pagi ini aku pergi ke kedai kopi. Bukan dalam kafe di mall favoritku , melainkan dalam sebuah kedai sederhana. Terlalu sederhana untuk disebut kafe namun cukup besar dan nyaman untuk sekadar disebut angkringan.
Satu yang paling kusukai dari kedai ini adalah suasananya yang hangat, meski tidak semewah kafe favoritku namun tempatnya yang memang jauh dari perkotaan membuat suasananya begitu teduh dan nyaman. Hamparan sawah dan gunung di kejauhan begitu terasa bersahabat, aku tidak tau ada tempat setenang ini di kota kita, sampai kau mengajakku kemari enam bulan lalu.
Aku masih ingat sekali saat itu, kau memesan kopi hitam tanpa gula dan aku memesan coklat panas. Karena ya, tidak tersedia milkshake di sini. Kau bilang "Ini adalah tempat favoritku, minuman favoritku, dan suasana favoritku. Dan aku mengajakmu ke mari karena aku ingin berbagi." Aku bertanya "Berbagi hal-hal yang kau sukai?". Kau mengangguk lalu sambil tersenyum kau menjawab "Ya. Aku ingin berbagi hal yang kusukai bersama orang yang kusukai."
Aku yakin tidak bisa menyembunyikan rona merahku saat itu. Huh. Saat itu, saat kau masih sehangat kopi dalam gelas di depanku, masih begitu dekat sehingga mudah untuk merengkuhmu. Sekarang? Kau tak ubahnya gunung di hadapanku. Terlihat di depan mata, namun begitu jauh. Hadir namun tak menemani. Karena hadirmu rasanya hanya seperti keharusan dan bukan lagi keinginan.
Kenapa satu bulan ini kau berbeda sekali?
Kemana kamu yang hangat? Yang mencoba selalu dekat?. Kau begitu dingin, jauh dan acuh. Apa ada sikapku yang salah? Atau memang aku yang belum sepenuhnya mengenalmu?.
Mungkin ini memang karena aku belum benar-benar mengenalmu. Aku tak tau apa yang sekarang sedang mengganggu pikiranmu. Penyebab diammu. Karena itu, aku yang biasanya berusaha mengusir rinduku padamu dengan pergi ke kafe favoritku, menikmati milkshake favoritku dan membaca buku favoritku. Sekarang memutuskan untuk berhenti melakukannya. Karena aku sadar, itu justru membuatku semakin jauh darimu, semakin tak mengenalmu. Dan saat aku selesai dengan semua kesenanganku, aku kembali berkutat dengan rinduku padamu.
Oleh sebab itu, pagi ini aku memutuskan ke kedai ini, membeli minuman favoritmu di kedai ini. Menatap hamparan sawah, memandang gunung di kejauhan. Merasakan hembusan angin menerpa lembut permukaan wajah. Indah. Suasana kedai ini juga bersahabat, tidak asing seperti kafe perkotaan atau ramai seperti angkringan pedesaan. Yang kurasa adalah damai. Aku mengerti kau menyukai keindahan dan keteduhan. Sepi namun merasa damai lebih baik dari pada ramai namun merasa sendiri.
Lalu aku beralih pada segelas kopi di depanku. Aku menggerakkan tanganku dan menggenggam gelas kopi itu. Hangat. Lalu aku mengangkat tanganku dan meminumnya. Baru sedikit aku mencecapnya, keningku sudah berkerut. Pahit sekali. Aku meletakkan gelas kopi itu kembali. Tentang kedai ini dan suasananya aku bisa mengerti, namun rasa kopi ini, entahlah. Kenapa kau memilih rasa sepahit ini untuk menemanimu? Apa yang kau dapat dari rasa sepahit ini? Aku sungguh tak mengerti. Atau mungkin karena aku belum terbiasa? Apa aku harus mencobanya sekali lagi? Baiklah aku akan mencobanya lagi.
Aku mengangkat kembali gelas di hadapanku, aku memejamkan mata bersiap dengan pahitnya rasa kopi ini, namun sebelum bibir gelas ini menyentuh bibirku, gerakanku terhenti oleh sebuah suara. "Kalo mau tau apa yang dirasain orang lain, kenapa nggak tanya langsung? Kalo nggak biasa minum kopi tanpa gula, kenapa dipaksa?". Mendengar suara itu aku langsung membuka mata dan meletakkan gelas yang ku genggam. Itu adalah suaramu, suara yang satu bulan ini jarang sekali ku dengar.
Aku menoleh kepadamu dan menatap matamu. "Karena aku rindu sama kamu, karena aku ingin tau gimana sebenarnya kamu, apa yang kamu rasakan, apa yang sebenarnya menjadi penyebab kamu lebih sering diam? Aku ke sini, ngelakuin ini, mencoba menjadi kamu. Supaya aku tau alasan sebenarnya, mengapa kamu mencipta jarak dengan diam?".
Kamu yang awalnya berdiri di samping meja, kini beranjak duduk di kursi tepat di hadapanku. Kau bilang "Kalau rindu kenapa nggak minta ketemu? Kalau ingin tau gimana sebenarnya aku kenapa nggak tanya langsung? Apa yang sebenarnya aku rasa, cuma aku yang tau, apa susahnya sih tanya? Bicara?". Mendengar jawabanmu justru membuatku semakin tak mengerti padamu.
"Gimana aku bisa tanya? Bicara? Kalo kamu aja lebih sering diam? Apa kamu bakap jawab? Apa kamu bakal bilang yang sejujurnya?". Kamu menghembuskan napas lalu menggenggam tanganku. "Kenapa aku nggak bakal jawab? Kalo kamu tanya pasti aku jawab. Dan perihal jujur atau tidak, kenapa kamu ragu? Kenapa kamu nggak percaya kalo aku bakal jawab jujur?. Kamu tau, kenapa sekarang aku lebih sering diam? Karena kamu juga begitu, kamu menyimpan yang kamu rasain sendirian. Bahkan tentang aku, kamu lebih milih jauh- jauh kesini, sendiri, dibanding menghubungi aku dan tanya langsung. Kenapa kamu nggak percaya sama aku? Aku nggak butuh kamu mengerti segala hal tentang aku, menyukai semua yang aku sukai. Kamu percaya, sepenuhnya. Itu sudah segalanya."
Aku merasakan mataku berkaca-kaca. Kamu mengatakannya dengan lembut sambil menggenggam tanganku. Namun rasanya aku seperti ditampar oleh kata-katamu, aku sadar tentang kesalahanku, harusnya aku membagi segalanya denganmu, bahkan masalah tentangmu harusnya aku membicarakannya denganmu, bukannya memendam dan berusaha mencari tau sendiri. Ternyata diammu karena kau merasa bicara pun takkan sepenuhnya ku percaya. Dan keberadaanmu tak sepenuhnya kubutuhkan. "Maaf, aku tak bermaksud membuatmu merasa begitu. Tapi sekarang aku tau aku salah, terima kasih sudah mau bicara, aku percaya. Sepenuhnya. Aku janji mulai saat ini aku tak akan menyimpan semuanya sendiri. Aku akan membicarakan yang kurasakan dan apa-apa yang menyangkut tentang kita."
Kau melepas genggaman tanganmu dan menghapus air mata yg mengalir di pipiku. Kau tersenyum. "Maaf membuatmu menangis, maaf jika aku membuatmu bingung dengan perubahan sikapku. Hanya saja aku tidak tau bagaimana cara membuatmu mengerti, kalau aku tidak hanya butuh perhatian namun juga kepercayaan. Sekali lagi maaf."
Aku tersenyum dan mengangguk.
Kau memgangkat gelas di depanku dan meminum kopi hitam tanpa gula itu. "Kamu tau apa yang ku dapat dari rasa sepahit ini?". Aku menggeleng. "Nikmat, aku merasakan nikmat karena aku percaya semakin pahit kopi semakin nikmat ia dirasai. Aku tidak bilang rasanya menjadi manis namun pahitnya kopi jauh lebih kusuka dibanding manis yang dihasilkan jika kopi dicampur dengan gula atau campuran lain. Cobalah." Kau menyerahkan gelas itu padaku.
Aku menggeleng
"Kenapa kau tidak percaya padaku?"
Aku kembali menggeleng "Justru aku menolak meminumnya karena percaya padamu. Kamu bilang, kamu percaya kopi itu nikmat meskipun rasanya pahit. Karena itu kamu meminumnya. Sedangkan yang kupercaya kopi itu tidak enak karena rasanya terlalu pahit, sebab itu aku tidak meminumnya." Kamu tersenyum lalu mengacak-acak puncak kepalaku. "Ini yang kumaksud, kamu tak harus sepenuhnya mengerti aku, menurutiku. Namun kamu percaya, sepenuhnya. Itu sungguh lebih dari cukup. Akan aku pesankan coklat panas."
Kamu berlalu dan meninggalkanku untuk memesan, aku menatap punggungmu dan tersenyum.
Sekarang aku tahu kenapa kamu suka pahitnya kopi dari pada manisnya kopi jika ditambah gula atau yang lain. Karena kopi pada dasarnya memang pahit, rasa asli dari kopi adalah pahit itu sendiri, nikmat dari kopi yang sebenarnya, ya rasa asli kopi yaitu pahit. Sedangkan rasa manis dari gula atau campuran lain, itu bukan lagi nikmat sesungguhnya dari kopi. Jadi, kamu adalah orang yang lebih menyukai kejujuran, hal yang sebenarnya, sifat yang sebenarnya. Keterus terangan meskipun itu pahit tapi itulah yang sebenarnya. Tanpa campuran kebohongan, kepura-puraan. Sekarang aku tak hanya percaya padamu, namun juga mengerti bagaimana kamu.
Terima kasih sayang karena sudah berterus terang.
11 Agustus 2019
Mailhazu
***
Thank for reading
If you feel like it, tap the vote
If you like coffee you can tell at comment.
Thank you
Mailhazu
YOU ARE READING
Aku, Kamu dan Pahit Kopi
Short StoryTentang aku, kamu, diam, percaya, dan pahit kopi hitam. oneshoot story
