☀️
"GEGE!!" Teriakan itu serasa memekakkan telingaku, suara paling garing seantero dunia, suara yang selalu mengalahkan jam alarm disetiap pagi. Siapa lagi pemilik suara itu kalau bukan suara mama. Aku terlahir dari keluarga yang berkecukupan dan kasih sayang yang sangat memanjakanku di setiap hari. Mama yang terlahir dari darah indonesia, sunda dan papa yang memiliki darah indonesia bercampur spanyol. Pagi ini di awali dengan suara garing dari mama dan bersiap menuju sekolahku.
"Gelisya montana binti Bagas adhikari, turun sekarang juga!" Lagi- lagi mama harus berteriak dan membuatku bergegas untuk mengambil tasku. "Iya mama, sayangku cintaku" jawabku sembari memeluk mama yang sedang menyiapkan roti untuk sarapan. "Kamu itu hari pertama sekolah di SMA yang baru, jangan telat nanti enggak ada yang mau sama kamu" ujar mama dengan sedikit ledekan diakhir yang hanya kubalas dengan anggukkan sekilas. Selesai sudah sarapan ditemani dengan pesan dari mama tadi, sekarang sudah waktunya pergi kesekolah bersama pak Gulto.
Pak Gulto adalah supir yang biasa mengantar dan menjemputku di sekolah, seperti anak manja tapi tidak apa-apa selagi membuat mama lebih tenang akan keselamatanku. 30 menit perjalan dan sampai sudah aku di depan gerbang besar dan bertuliskan " SMA Elang Jaya Bandung". Pertama menginjakan kaki sebagai murid disini seperti ada kebahagiaan tersendiri. Bangunan yang gagah dan kokoh sudah sangat memanjakan mataku, sekolah yang sudah pasti sekolah terbaik dan nomor satu di Bandung ini dilengkapi dengan seluruh fasilitas yang bagus dan taman yang sudah mengharumkan nama sekolah lewat lomba "Taman terbaik di sekolah" dan terkenal dengan sekolah elite tanpa MOS.
Pak Gulto dan mobilnya sudah hilang dari depan gerbang sekolahku dan ini saatnya aku untuk masuk kedalam kelas. Sebenarnya aku juga tidak tahu dimana letak kelasku, tapak demi tapakku lalui dengan pikiran kosong dan bingung karena tidak ada satupun orang yang ku kenal disini. Tiba-tiba aku terduduk dilantai karena ada seseorang yang menabrak tubuhku, hal pertama yang ada dipikiranku adalah pinggulku yang sakit karena jatuh dalam posisi terduduk dan yang kedua adalah siapa pelakunya? Kulihat ada laki-laki berbadan gagah dan mata yang menatap tajam kearahku tapi jujur dia sangat tampan.
Lupakan tentang hal ketampanannya karena yang penting adalah keselamatan pinggulku. Tapi anehnya tak ada yang laki-laki itu lakukan kecuali diam menatapku yang sedang meringis dan mengelus pinggulku yang sedikit nyeri. "Lo enggak ada niatan minta maaf karena udah nabrak gue?" Tanyaku sedikit ketus. Lagi-lagi dia hanya diam dan meninggalkanku dalam keadaan pinggul yang masih nyeri akibat ulah lelaki itu. Karena sedikit malu terduduk di lantai akupun bergegas menyusul kemana laki-laki itu pergi, saat bertemu lagi dengannya aku berniat untuk mengajak berkenalan karena sepertinya cuma dia yang bisa membantuku.
"Stop, berhenti dulu dong, gue mau nanya" ujarku sambil menahan tubuhnya agar tak pergi dan lelaki itu hanya mematung tanpa mengeluarkan sepatah katapun. "Nama lo siapa?" Tanyaku, "Arga" jawab laki-laki itu dan sepertinya dia sedikit jengkel denganku. "Gue Gelisya.M dan lo bisa panggil gue Gege" ujarku dengan usaha memperkenalkan diri kepada Arga agar mau membantuku. Tidak ada yang keluar dari mulutnya hanya saja eskpresi dinginnya itu membuatku kesal tapi gemas. "Ikut gue" hanya dua kata yang tapi bisa memunculkan lekukkan sabit di wajah Gege.
Gege dengan senang hari membuntuti arga layaknya pembantu membantu majikan dingin bak batu es. Gaga hanya menatap ubin lantai sambil berjalan mengikuti arga, Gege merasa jika langkahnya terhenti karena menabrak sesuatu. Benar saja Gege menabrak punggung arga yang daritadi sudah berhenti didepan kantor kepala sekolah. "Ke kantor ya nanya nya?" Tanya gege kepada arga yang hanya menatapnya. "Mading" ujar arga sembari menunjuk mading. "Huh ternyata mading gue kira nanya ke KEPSEK" Batinku sedikit kesal.
Memang benar jika ada pengumuman tentang kelas di mading yang sudah dipadati manusia yang akan menjadi temanku secara tak langsung. Aku sudah sangat teliti mencari namaku dikelas unggulan minimal aku ada di IPA 1, ternyata tidak ada. "APA!!" teriak batinku tak percaya kalau aku berada di kelas IPA 3 , kelas paling akhir yang ada dideretan kelas IPA. Tapi untungnya aku tidak masuk di kelas IPS, sedikit penasaran dengan kelas Arga yang tadi membantuku. Kuteliti secara detail setiap nama tapi tidak ada. "Apakah dia kakak kelas?" Bertanya dengan diri sendiri sepertinya tak membuahkan hasil.
Tidak ada yang dikenal begitu pula dengan tidak ada orang yang mengenalnya sepertinya itu sama saja. Aku menyelusuri koridor sekolah dan memcari ruang kelasku dan tepat berhenti disebuah ruangan. Kulihat sekeliling kelas yang masih lumayan tertib dan beberapa murid yang sedang duduk bersama, apalah dayanya aku yang tidak mengenal siapapun. Aku melihat dari ujung ke ujung berharap ada perempuan yang duduk dan belum memiliki teman sebangku agar aku bisa ikut duduk bersamanya.
Mataku berhenti melirik saat melihat bangku kosong di sebelah perempuan yang memang sedikit manis, aku akui tapi jelas aku lebih darinya. "Permisi boleh aku duduk disini?" Tanyaku kepada perempuan yang masih sibuk dengan bukunya, "iya silahkan" ternyata keluar dari dugaanku kalau perempuan ini jutek tapi ternyata lumayan baik.
"Namaku Gelisya Montana" ujarku sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan dengannya, karena jujur aku tidak mengenalnya bahkan tidak pernah bertemu sekalipun. "Namaku kenara harisya, kamu bisa kok panggil aku keke" jawabnya sambil menyalami tanganku. "Kamu juga bisa panggil aku Gege" jawabku, "sepertinya nama kita punya kemiripan ya hahaha" ujarnya dengan senyum merekah bak mawar yang baru mekar. Mungkin kalian heran dengan sikap Gege yang berbeda saat berbicara dengan Arga maupun Keke.
Saat Gege berbicara dengan Arga dia memilih untuk menggunakan gue- lo tapi berbeda dengan keke yang selalu berbicara kalem. Kebanyakan orang bilang kalau sudah kenal dekat mereka baru akan terlihat sifat aslinya entah konyol atau menyebalkan. Gege melirik teman sebangkunya itu yang tetep fokus kepada bukunya, "Keke kamu ada kenal ga sama orang yang anda disini, maksudku murid yang ada disini?" Tanyaku kepada keke, "Ada kok, kakakku juga disini" jawab keke dengan antusian menjawabi pertanyaan Gege. "Oh yaa, tadi aku sebel deh ketemu sama orang nyebelin banget" ucapku kepada Keke, "Siapa emangnya?" Tanya keke, "Kurang tau tapi dia ga banyak bicara, namanya siapa ya? Aduh lupa" jawabku sambil mengingat siapa nama laki- laki itu.
"Ohh, aku ingat ke kalau ga salah namanya ar, eh ar apa ya lupa?" Ujarku terus mengingat nama laki-laki itu. "Arga! Iya ke arga" ujar Gege membuat keke sedikit kaget "ya ampun ge, dia itu laki-laki dingin yang ada disini, manusia ter-irit seasia tenggara, itu juga temennya kakak aku" jawab Keke. "Kamu tau dia ya ke?" Tanyaku penasaran, "tau banyak aku tentang dia karena sering main ke rumah" jawab keke. "Nanti aku ceritain ya, ge itu udah ada ibu guru" jawab keke sembari memajukan wajahnya kedepan agar Gege tau kalau ada ibu guru yang baru masuk kedalam kelas.
Hai semuanya!! Baca harus vote ya capek akutu ngetik hehehe! 💕
YOU ARE READING
D O U B T
Teen FictionLaki-laki berhati salju, yang bahkan sulit ditaklukan oleh perempuan yang hangat bagai matahari. Dikecewakan berulang kali, akankah perempuan berhati matahari ini percaya? Keraguan besar. #6 Read (31.08.19)
