1.SURABAYA

14 1 0
                                        

Aku mengemasi barang barang ku. Ku tatap kembali kamar yang sudah menjadi peristirahatanku selama ini. Tidak luas, hanya terdiri dari satu dipan dengan kasur kapuk yang sudah tak empuk lagi mungkin kapuknya perlu diganti tapi harga mengganti kapuk cukup mahal bisa 300 sampai 400 ribu rupiah, uang sebanyak itu bisa dipakai untuk menyalakan tungku api di dapur ibu selama seminggu, itupun kami harus irit irit berbagi dengan saudarku yang berjumlah enam orang. Terkadang aku suka mengeluh karena jumlah anak ibu dan bapak yang terlalu banyak. Bahkan di kamar sekecil ini pun aku masih harus berbagi dengan adik ku Asri. Kalau hujan turun bocor disana sini, dinding nya terbuat dari kayu yang sudah mulai keropos termakan rayap. Bapak bilang asal bisa menjadi tempat berlindung dari teriknya matahari, dinginnya malam dan juga serbuan hewan buas yang kadang suka turun ke lereng gunung ketika malam hari sudah bagus, masih banyak yang tak bisa menetap atau tinggal di rumah yang layak.
Lagi lagi aku hanya mendengus kesal. Bapak itu jadi orang terlalu nerimo. Dan ibu selalu marah marah karena kekurangan uang, padahal ibu dan mas Parji, kakak ku yang pertama sudah ikut membantu memberikan pemasukan tambahan kepada keluarga ini tapi tetap saja kurang. Terlebih setelah satu satunya ladang milik kami yang merupakan warisan Mbah ti untuk bapak itu harus tergusur untuk pembangunan jalan tol semakin sulitlah hidup kami. Tanah itu memang kecil tapi sangat berguna untuk keluarga kami, setidaknya kami bisa menanam sayuran atau buah buahan sehingga kami tak perlu lagi membelinya. Pada awalnya bapak mempertahankan tanah itu, enggan menjualnya. Tapi, karena tanah itu hanya sepetak saja ia akhirnya kalah dengan orang orang yang sudah sepakat menjual tanahnya. Akhirnya bapak menjualnya dengan harga yang lebih murah, coba saja dari awal bapak mau menjualnya pasti harganya masih sedikit mahal. Dan uang yang tak seberapa itu akhirnya habis juga untuk kebutuhan sehari hari dan biaya sekolah ku.
"Ngilmu kuwi seng garai manungso mulyo, bedane karo kewan. Pakmu karo mbok mu ki yo wong ra duwe, ra duwe bondo yo ra duwe ilmu. Makane kowe tak sekolahne mboh piye polahe pak mu karo mbokmu seng penting kowe iso sekolah seng bener amreh piye dadi wong pinter, wong seng mulyo. Ojo kayo pak, mbok mu. Kakang mu Parji yo wes ngewangi, amreh kowe iso sekolah sok nak dadi wong gede dadio wong seng ngerti. Kowe rabakal dadi opo opo nak ra mergo keringet karo weluhe keluargamu. Mulo nak ono opo opo seneng opo susah seng pertama mbok eling yo kudu keluargamu."  Itu pesan terakhir bapak sebelum aku memutuskan untuk merantau ke kota. Mengadu nasib, berharap mendapat pekerjaan yang aku inginkan agar bisa mengangkat derajat bapak dan ibu. Aku telah menyelesaikan pendidikan hingga tingkatan SMA suatu pendidikan paling tinggi dikeluarga ku. Mas parji sendiri hanya sempat sekolah sampai kelas 3 SD, mbak wiwit kakak ke-dua ku sudah lebih dipersunting oleh juragan tahu dari kampung sebelah ketika duduk di bangku kelas 5 SD, suami mbak Wiwit itu pelit gak pernah mau bantu perkonomian kami sedangkan mbak Wiwit hanya nurut sama suaminya. Tapi ibu tetap saja lebih sayang mbak Wiwit, karena mbak Wiwit cantik dan jarang minta uang sama ibu, gak nyusahin kaya aku kerjanya minta uang terus padahalkan aku minta uang buat sekolah. Ibu mau anak perempuannya cepat menikah, syukur kalau dapat juragan. ibu bisa hidup mulia, tak perlu hidup susah seperti ini. Harapan ibu jatuh pada adikku Ambar, ia selalu nurut sama ibu bahkan ketika ibu menjodohkannya dengan juragan dodi yang usianya terlampau jauh berbeda dengan dik Ambar ia hanya menurut. Bapak dan aku melarang, malah ibu mengancam akan memutuskan sekolahku yang kala itu tinggal 1 tahun lagi. Akhirnya dengan berat hati bapak merelakan dik Ambar menikahi juragan Dodi . Aku merasa bersalah pada dik Ambar, tapi bapak berkata "yen kowe rumongso salah marang adimu, Ojo gawe kecewo wong sih wis berkorban kanggo kowe" Aku tahu bapak memiliki harapan besar padaku sebab itu aku tak boleh mengecewakan bapak. Kelak aku kan membanggakan keluarga ini dengan ilmu yang aku punya dan juga ke dua adik ku, mereka harus mendapatkan pendidikan yang layak seminimal minimalnya seperti aku.

***
Surabaya, menjadi kota tujuanku. Selain dekat dengan kampung halaman yang hanya memakan waktu perjalanan sekitar 6 jam saja, aku sering mendengar upah disini tak jauh beda dengan ibu kota. Dan juga disini banyak sekali pabrik jadi aku akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan. Tujuan utama ku adalah mencari alamat mbak Turi, salah satu anak bude Tinah yang merupakan kakak bapak. Bapak dan bude berpesan padaku setelah sampai Surabaya aku harus langsung mencari alamat mbak Turi. Jika tidak di kantornya ya di kost kosant nya. Aku memilih mendatangi mbak Turi di kantornya alasannya adalah karena  alamat kantornya lebih mudah ditemukan.
"Mau cari siapa mbak ?" Tanya seorang bapak bapak berkumis yang berdiri didepan pintu. Ditangannya memegang sebuah pentungan. Yang belakangan akhirnya aku tahu dia seorang satpam yang ditugaskan untuk menjaga ke amanan kantor. Aku meringis, sedikit hilang nyaliku ketika melihatnya. Meskipun ia tersenyum ramah tapi tetap terkesan garang.
"Ehh ehh itu pak mau ketemu mbak Turi."
"Mbak ini siapanya bu Turi ?" Aku terdiam sedikit heran kenapa mbak Turi dipanggil bu, atau aku salah orang. Satpam itu kembali memanggilku untuk yang kedua kalinya membuyarkan seluruh lamunanku.
"Saya sodaranya mbak Turi."
"Tunggu sebentar ya." Satpam itu berlalu begitu saja tanpa menunggu persetujuanku. Ia tak mempersilahkan ku masuk. Dari luar dapat ku lihat ia berbicara dengan seorang perempuan yang duduk di depan sebuah meja. Setelah berbicara sebentar lantas perempuan itu menekan beberapa tombol pada telepon dan mulai berbicara. Aku tak mendengar apa yang mereka bicarakan di dalam. 15 menit menunggu akhirnya satpam itu keluar bersama seorang perempuan aku tahu ia mbak Turi, wajahnya terukir senyum kala bertemu dengan ku. Aku memperhatikan penampilan mbak Turi yang berbalut dengan setelan kemeja berwarna putih dengan dilapisi jas yang berwarna senada dengan celananya, hitam. Rambutnya tergerai indah sebahu. Aku berdecak kagum memandangi mbak Turi, penampilannya seperti seorang bos besar yang sering ku lihat ditelevisi.
"Makasih ya pak, nyampe kapan dik ?"tanya nya sambil menyalami ku. Kepalanya dimajukan sedikit, aku tak mengerti apa maksudnya. Ia tersenyum kemudian menarik tanganku dan mengajakku berpelukan.
"Seperti ini cara bersalaman orang kota." Batin ku, tersenyum malu, aduh norak sekali aku ini.
"Kamu udah makan belum ?" Pertanyaan mbak Turi kali ini hanya kubalas dengan gelengan kepala.
"Yowes, ayo makan dulu di katin. Jam pulang kerjaku sebentar lagi, kamu tunggu aku di kantin dulu gak apa apa kan ? Nanti sepulang kerja aku jemput kamu di kantin."
"Mbak pulang jam berapa ?"
"Jam 5." Teriak mbak Turi yang sudah mulai menjauh. Aku manggut manggut mengerti. Aku segera memesan makanan untuk mengisi perutku yang sudah berbunyi dari tadi.
Pukul 5 sore mbak Turi keluar dari kantornya. Aku dapat melihatnya dari kejauhan. Ia menghampiriku wajahnya terlihat bahagia sama seperti tadi saat pertama kali bertemu.
"Maaf ya kamu jadi nunggu aku, kita jalan kaki aja, kosant aku deket kok dari sini." Mbak Turi membantuku mengangkat tas yang berisi pakaian ku. Sepanjang jalan ia banyak bercerita tentang surabaya. Dan aku hanya menjadi pendengar setianya sesekali aku mengangguk atau kadang tertawa jika ia bercerita hal lucu. Kami sampai di depan rumah berpagar besi yang dicat hijau. Diluar gerbang terdapat sebuah papan bertuliskan "KOST MELATI". Mbak Turi mengajak ku masuk ke dalam. Kamarnya cukup luas, bahkan sangat luas. 3 kali lipat kamarku di kampung. Dengan perabot yang lengkap, kasur busa yang empuk, meja rias, lemari bertingkat dan juga kamar mandi di sudut ruangan. Aku sampai terbengong bengong melihatnya. Maklum saja aku belum pernah memasuki kamar seluar ini.
"Kamu mandi dulu deh, baju baju biar aku beresin. Tadi ibu sudah nelpon aku, selama kamu belum dapt kerja kamu tinggal sama aku aja dulu Ning. Supaya paklek juga tenang." Aku manggut manggut menanggapi kalimat mbak Turi.
"Kamu gak punya HP Ning."
"Hehe, enggak mbak."
"Yawes, nanti pake HP ku yang lama aja dulu. HP jadul sih tapi masih bisa buat komunikasi. Lumayan buat nyari kerja."
"Njeh mbak, matorsuwon ya mbak."
"Iyo yo wes ndang adus, mari ngene kita metu golek kartu."
Mbak Turi melemparkan handuk yang baru ia ambil dari lemari. Dan aku bergegas menuju kamar mandi. Tubuhku sudah lengket karena keringat. Surabaya, panas, tak bersahabat dengam ku yang biasa hidup dilereng gunung. Tapi demi bapak dan kedua adikku aku harus beradaptasi dengan cepat.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 11, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

selembar kertasWhere stories live. Discover now