Cinta pertama,mereka bilang cinta pertama itu sulit dilupakan,
meskipun selalu saja berakhir dengan kegagalan,
entah itu karena bertepuk sebelah tangan ataupun kandas dalam perjalanan,
tapi tidak jarang juga berakhir di pelaminan,
yah..meskipun itu hanyalah kecil kemungkinan,
setiap orang mempunyai kisahnya sendiri tentang cinta pertama,begitu pula diriku dan seorang wanita.
Saat itu,tahun 2009 saat aku duduk di bangku kelas 2 SMA,
seperti halnya anak SMA pada umumnya aku sudah mulai mengetahui yang namanya cinta dan memiliki,
dan saat itu pula aku bertemu dengan nya,
dia adalah sayoko seorang wanita rupawan yang terkenal ceria dan disukai banyak orang,
tetapi ternyata menyimpan sebuah fakta kelam
Saat cahaya matahari sore bersinar terang melewati jendela-jendela kelas yang kosong,
di tanganku sebuah buku diary merah muda dengan bercak polkadot putih kugenggam,
entah milik siapa buku diary ini.
Dengan perasaan ragu aku membukanya,
halaman pertama di tulis sangat rapi, berisi alasan mengapa dia mulai untuk menulis.
Lalu pada halaman kedua dan seterusnya, entah mengapa bentuk tulisan terkesan agak berbeda
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 22,juni 2009
Hari ini lagi-lagi ayah memukul ibu, dan melontarkan kalimat yang tidak sepantasnya, suara tangisan ibu terus mengiang di telingaku, aku ingin menghampiri dan memeluknya, tetapi ibu selalu bilang untuk jangan ikut campur
---------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 25,juni 2009
Hari ini ayah membawa wanita lain kerumah, wajah ibu terlihat sangat sedih, air mata pun mulai menggenangi, membuat bingung wanita yang ayah bawa, dengan wajah tak berdosa ayah berkata bahwa ibu adalah pembantu dirumah ini, dan ayah menyuruh ibu untuk merapikan kasur
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 30,juni 2009
Malam ini malam yang sangat dingin, dalam keadaan mabuk ayah mengamuk selepas kalah judi, dia melampiaskan semua kekesalannya pada ibu, suara tangisan ibu terus membanjiri malam, aku menutup telingaku dengan bantal, aku tak tahan dengan perasaan perih karena mendengar tangisan ibu
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 8,agustus 2009
Hari ini ibu terlihat sangat frustasi, air mata terus menetes dari mata indahnya, sebilah pisau sudah tergolek di meja, aku bertanya pada ibu apa yang akan ia lakukan, tetapi ibu tidak menjawab, membuat hatiku berdesir perih, air mataku mengalir tak tertahankan, aku memeluk ibu dan mengusap air matanya. apapun yang ingin ibu lakukan, lakukanlah bersamaku
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 9,agustus 2009
Sepulang sekolah ibu tidak terlihat di dapur, aku pikir ibu pasti sedang beristirahat di kamar, jadi aku memutuskan untuk tidak membangunkannya dan memasak sendiri, tetapi sampai jam makan siang sudah berlalu, ibu tak kunjung keluar dari kamarnya, mungkin aku harus membangunkannya sekarang fikirku, dan saat aku memasuki kamar ibu ternyata dia sudah mati tergantung dengan seutas tali mencekik lehernya
----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 10,agustus 2009
Hari ini adalah hari pemakaman, dan ayah bahkan tidak hadir di saat-saat terkhir ibu
----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 15,agustus 2009
Dalam keadaan mabuk ayah membawa teman-temannya kerumah, dan salah seorang temannya mendobrak masuk ke kamar ku, dia menggenggam kedua tanganku dengan tangan kanannya yang besar, lalu tangan kirinya mulai meraba dan menjalar kedalam pakaianku, aku mencoba mencegahnya, aku berteriak memanggil ayah dengan harapan dia peduli, air mataku megalir dan tanpa bisa kucegah lagi semuanya terjadi..., Dalam kedaan tanpa busana dan setengah sadar aku melihat ayah mendapatkan bayaran dari menjual anaknya
-----------------------------------------------------------
-----------------------------------------------------------
Dear diary, 18,agustus 2009
Aku sudah tidak memiliki alasan untuk tersenyum, sudah tidak ada lagi hal yang membuatku bahagia,dan aku sudah tidak punya alasan lagi untuk hidup
-----------------------------------------------------------
Sesampainya aku dilembar terakhir buku diary,
Aku terpaku sejenak, menghusap air mataku yang tanpa sadar sudah mengalir,
aku menutup buku itu.
Suara langakah terdengar dari koridor memunculkan sosok wanita tinggi dengan tubuh ramping dari pintu,
rambut hitamnya tergerai lurus,
matanya yang coklat memantulkan cahaya matahri sore,
dia menghampiriku yang hanya tinggal seorang diri dikelas
Perasaan perih menyayat hatiku, menampik fakta bahwa buku diary ini milik sayoko,
seorang wanita yang membuatku luluh dengan senyuman manisnya
"itu punyaku"
Ucapnya dengan tersenyum seperti biasa bahkan disaat sulit seperti ini,
entah benteng kesabaran apa yang membentuk hatinya
Aku menjulurkan tangan ku dan memberikan buku itu padanya, tanpa berakta apapun
Dia melihat mataku yang terkesan lesu
"jangan-jangan kau sudah membacanya ya?"
"ooh jadi begitu"
Tanpa perlu kujawab dia sudah dapat menyimpulkannya sendiri dari ekspresiku
Dia berbalik badan dan melangakah maju meninggalkanku,
sebuah perasaan pedih meremas hatiku seakan dia akan tergi untuk selamanya,
tanpa sadar tubuhku bergerak mendekapnya dari belakang, lalu ku sandarkan kepalaku dipundaknya, lehernya yang putih dan ramping mempunyai aroma sedap yang mebuatku nyaman.
"aku mohon jangan pergi,dan tetaplah disini,karena aku mencintai mu"
Dia memegang tanganku yang melingkari pinggangnya,
dan melepas pelukkan ku dengan perlahan,
dia berbalik badan dan mendekatkan bibirnya yang lebut di telingaku,
sebuah kalimat yang tidak terdengar jelas dibisikannya,
lalu dia pergi meninggalkanku sendiri
keesokan harinya saat pagi hari sekolah sudah terlihat sangat ramai, mobil polisi terparkir di depan gerbang sekolah,
seluruh siswa begerumun di sekeliling aula ,
dari desas-desus yang kudengar ada seorang wanita yang bunuh diri,
aku langsung berlari memecah keramaian, dari dalam aula tubuh rinjani bergantung oleh seutas tali tambang,
berayun-ayun,
seorang wanita penyabar telah mati, mati dengan mencekikkan dirinya di tiang plafon aula,
sakit yang sangat berat telah merobohkan benteng kesabarannya yang kokoh
Tubuhku mengigil melihatnya diturunkan dari gantungan,
tubuhnya yang telah kaku mulai dimasukkan kedalam kantung jenazah,
pelukannya hari itu bagai sebilah pisau yang menusuk-nusuk hatiku. Aroma tubuhnya bagai racun yang menyesakkan dadaku air mataku mengalir,
aku berteriak-teriak tapi suaraku hilang bak ditelan angin
"aku juga mencintaimu, tetapi aku sudah terlalu kotor untukmu"
sebuah kalimat yang dibisikannya hari itu dan terus berbekas sampai saat ini
seburuk apapun kisahnya cinta pertama itu tidak akan bisa dilupakan.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
