Nama ku "Agus S. Putra Hadi" di ganti menjadi "Arra Hadi Zaidan". Aku lahir di kota perwira Purbalingga. Anak pertama dari pasangan Hadi Prayitno (ayahku) dan Sarwini (Ibuku). Aku lahir 27 tahun yang lalu. Sempat tinggal di Jogja. Namun harus pindah lagi ke Purbalingga untuk sekolah dan kembali pindah ke kota Depok Jawa Barat untuk pesantren serta sekolah.
*
Aku hanya dua bersaudara dengan adik perempuan ku bernama Dewi Rosana. Nama yang cantik,secantik orang nya. Dia anak nya sangat pendiam tapi kalau sudah dekat udah ngomong nya bablas terus gak mau di rem. Namun masa kecil kami harus terpisah. Adik ku besar di Purbalingga ikut dengan nenek nya. Sedangkan aku besar di Depok ikut dengan bibi dan Ibu.
**
Aku beranjak dewasa. Entertaint adalah mimpi ku. Ya, agar bisa menjadi orang yang terkenal. Namun setelah semua nya aku dapat kan. Tak sesuai dengan ekspetasi ku. Aku kira terkenal itu enak,banyak duit dan mau apa aja bisa. Dan ternyata TIDAK...!!!.
Terkenal adalah momok yang menakutkan bagi ku. Tak ada ruang untuk kebebasan dalam mengeksplor apa yang aku mau. Ya,harus mengikuti alur si "MANAGER". Pokoknya gak enak deh. Dunia entertaint aku jalani hampir 7 tahun lamanya. Badan ku kurus kering. Pucat,gak enak di pandang kalau gak di make over. Sampai teman-teman ku mengira aku pemakai (pecandu narkoba). Ya mungkin karena melihat badan ku yang kurus kering.
***
4 tahun lama nya,aku bagai mesin ATM untuk seseorang yang ku kira bakal jadi masa depan ku. Namun kenyataan nya "NIHIL" coy. Dia membuang ku bagai sampah yang tak berguna lagi. Ya,itu kenyataan nya.
Namun pada akhir nya di pertengahan tahun 2018 aku mencoba belajar hijrah. Meninggalkan semua kegiatan ku di entertaint. Bahkan harus kena penalty karena melanggar kontrak yang sudah di tanda tangani di tahun 2017. Tapi Ya sudahlah. Aku mantap untuk hijrah.
Dengan harapan bahwa Allah akan selalu dan semakin dekat dengan ku.
"La Tahzan,mas Arra". Ucap seorang kakek di dekat ku. Yang aku tak tahu dari mana ia datang nya.
"Nggih,Kek. Matur suwun...". Aku mengecup tangan nya. Sunggug harum sekali tangan beliau.
"Allah rindu pada mu. Allah ingin kan kamu kembali kepada-Nya. Sungguh beruntung nya diri mu,Mas Arra".
"Barrakallah,Aamiin Ya Rabbi". Aku menatap ke langit-langit masjid itu.
***
Allah maha baik. Tak kurang dari satu tahun apa yang aku semoga kan tersemogakan. Aku melihat seorang wanita di tengah keramaian pildes Desa KedungBenda,Kemangkon Purbalingga. Dia berjalan bergandeng tangan dengan ibu nya.
"Ya Allah. Sungguh cantik sekali wanita itu. Hati ini sangatlah damai ketika aku melihat nya. Jika saja,ia menjadi istri ku. Sungguh aku laki-laki yang sangat beruntung". Ucap ku dalam hati.
Namun,tak di sangka Ibu nya serta ia pun mengucapkan hal yang sama dengan ku.
"Oh,itu si penulis "Kupluk Cinta". Ramah sekali orang nya. Siapa wanita yang jadi istri nya pasti harus ekstra sabar. Agar tidak terlalu cemburu". Ucap Hanna yang hanya bisa memandangi Arra dari kejauhan.
Hanna Khalida Parven (Yuliana Safitri) adalah istri ku. Ya ini kisah tentang hijrah ku, perjalanan cinta ku serta awal mula pertama kali Aku bertemu dengan ia (istriku).
Hanna Khalida Parven anak kedua dari 4 bersaudara. Dari pasangan Muhammad S. Heryanto dan Ibu Taty Rohyati. Lahir di kota Sukabumi dan besar di kota Perwira Purbalingga.
"Haduh,nek aku due mantu kaya kae tah seneng banget. Kayane wonge maring sapa-sapa'a ramah pisan". Ucap Ibu Hanna dalam hati nya.
Dan ketika itu,hujan pun turun sangat deras. Para malaikat turun untuk memberi keberkahan. Dan mengaamiinkan setiap do'a para hamba-hamba Allah.
Ini lah real story pasangan yang nikah secara ekspres. Hanya 4 kali pertemuan dan pertemuan ke-4 langsung "SAH".
Dalam novel "Ketika Para Malaikat MengAamiinkan".
Lanjutan dari novel "CINTA DUA WAKTU" di Storial.Co
****
"Mas Arra,udah mau nikah?. Kok,bahas nya nikah-nikah mulu sih?". Tanya Hanna.
"Hehhehe.... Iya dong mau nikah. Masa gak mau nikah?". Jawab ku sambil tersenyum.
"Alhamdulillah,kalau sudah mau nikah. BTW udah ada calon nya?".
"Udah dong. Insha Allah,ini orang nya yang lagi di ajak chatting. Hehhehe....". Hanna,masih saja belum paham atas pembahasan ku.
"Bukan kah,yang lagi di ajak chatting itu aku??". Hanna,masih saja belum paham dengan kode dari Arra.
"Yess,calon istri ku yaitu kamu".
"Aku,tidaklah mengajak mu untuk berzina (pacaran). Aku mau mengajak mu beribadah dengan ku. Yaitu menikah". Pesan singkat via whatsapp dari ku .
"Mas serius??? Mau ngajak Aku nikah. Nikah kan ribet mas?". Balasan singkat dan jelas dari Hanna.
"Ya,aku mau menikah dengan mu. Menjadikan dirimu istri serta ibu dari anak-anak ku". Sambung ku.
"Tapi kan...?. Mas belum pernah lihat Aku?".
"Allah,yang akan memberitahu ku tentangmu. Dan Aku yakin,kamu lah jodoh ku".
"Beri aku waktu atas pertanyaan mu itu nggih mas. Aku akan shalatkan terlebih dulu. Apa pun jawaban ku,atas pertanyaan mu. Kamu siap menerima nya dengan lapang dada?".
"Insha Allah,lahir batin Aku siap menerima apa pun jawab dari mu".
***
"Ya,Arra". Ayah Hanna menggenggam tangan ku sangat kuat. Hati sungguh bergetar.
"Nggih...". Jawab ku
"Kulo,nikah aken lan kawin aken putri kulo Hanna Khalida Parven. Dengan mahar artho kalih atus ewu di bayar tunai".
Dag....dig....dug....
"Kulo tampi nikah lan kawin nipun Hanna Khalida Parven putri bapak Muhammad S. Heryanto dengan mahar artho kalih atus ewu di bayar tunai".
"Bagaimana saksi,SAH?". Ucap bapak penghulu.
"SAH...SAH....SAH...". Para saksi bersorak riang mendendangkan kalimat SAH.
"Alhamdulillah...".
#ketikaparamalaikatmengaamiinkan
VOUS LISEZ
Ketika Para Malaikat Mengaamiinkan
Roman d'amourAda satu kalimat "Jodoh itu cerminan diri kita". Ya,kalimat itu mungkin yang aku pegang sampai aku bertemu dengan istri ku. Siapkan oksigen tambahan jika baca cerita ini. Jangan baper akut. Karena ini sudah bucin akut. Ini bukan cerita tentang Romeo...
