Pencuri, perampok, sampah masyarakat. Itulah peran si cokelat. Tampang kucing dengan hati preman. Celana lusuhnya dan luka gores di mana-mana pada tubuhnya itu tidak sinkron dengan wajahnya. Itulah cover si cokelat.
Larinya gesit dengan sekarung barang curian di pelukannya. Dari surai cokelat yang melambai itu, ia adalah seorang anak perempuan.
“BABI KEPARAT!!!” korban pencurian si cokelat hanya berteriak memaki kesetanan. Tubuh tambunnya dengan lemak bergelambir tak kuat mengejar. Siapakah yang lebih nampak seperti babi?
Si cokelat berlari sejauh mungkin memasuki lorong-lorong sempit di antara rumah-rumah besar. Di sambut pintu menuju saluran air bawah tanah. Ia bukan manusia laba-laba, namun terlatih untuk meliukkan tubuhnya bergelantungan di pipa saluran air. Di bawahnya air pembuangan mengalir dengan deras. Aliran yang terlihat sangat tajam.
Seperti terbiasa atau memang terbiasa, si cokelat sampai pada pintu rahasia di langit-langit. Tempat yang sangat rahasia dan sulit dijangkau.
“Apa yang kau dapat hari ini sayangku?” ketika si cokelat baru saja berhasil menapakkan telapak tangannya untuk naik, suara itulah yang menyambutnya. Suara seorang pria.
“Guci kecil yang aku yakin mahal. Toko guci itu terkenal dengan keaslian bebatuan yang dijadikan hiasan.” Jawab si cokelat sambil menepuk-nepuk pantat dan lengannya yang basah.
Pria yang menyambut si cokelat tadi membawa hasil curian si cokelat ke mejanya dan memeriksa. “Bagus sekali nak, dengan ini kau bisa makan enak dan membeli baju malam ini.”
Pria itu bertepuk tangan tak jelas seperti orang gila. Menatap wajah datar si cokelat. Daripada wajah datar, wajah si cokelat lebih seperti wajah mengantuk dengan galak. Dengan mata paling hijau yang sempurna. Mata zamrud itu. Keindahan yang gelap? Akankah mata itu dapat dihidupkan kembali?
