Toko kecil itu akan muncul ketika kau merasa bahwa hidupmu sudah tidak berguna lagi. Mereka akan menawarkan beberapa benda-benda ajaib yang akan membantumu mengatasi setiap masalah yang kau alami. Tetapi saat kau sudah terikat kontrak dengan toko ini maka kau tidak bisa pergi begitu saja. Kau harus membayar apa yang mereka berikan, tapi tidak dengan uang melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih berharga daripada itu.
"Apapun keluh kesahmu kami siap untuk membantu."
Tetapi...
"Saat kau mendapatkan sesuatu maka kau akan kehilangan sesuatu juga. Apa yang kau tanam itulah yang akan kau tuai."
*Owner of BigHit Shop
Cerita ini hanya fiktif belaka. Kesamaan nama, karakter, jalan cerita, suasana, tempat, dsb adalah suatu ketidaksengajaan. Karya ini murni hasil dari otak payah milik author. Maaf jika masih banyak kekurangan dan kesalahan. Terima kasih dan selamat membaca~
***
Hyorin POV
Jujur saja, aku tidak pernah suka dengan aroma kantor kepala sekolah. Aroma khas dari bunga kasturi yang menyengat selalu membuat kepalaku pusing. Inilah alasan kenapa aku selalu malas jika harus datang dan masuk ke ruangan serba rapi ini. Ah...rasanya sampai kapan pun aku tidak akan pernah bisa menyukai tempat ini.
Aku berdiri bersama dengan empat orang lainnya. Tiga lelaki, sisanya dua perempaun yaitu aku dan perempuan berkacamata yang tidak aku kenal. Dan kini kami sedang berhadapan dengan kepala sekolah yang sedari tadi duduk nyaman di kursi 'Kebesaran'-nya.
"Persiapan olimpiade akan dilaksanakan selama tiga bulan. Minggu depan kalian sudah bisa memulainya." Mata itu sayu, terlihat jelas sekali di balik kacamata yang tebalnya kira-kira sekitar setengah sentimeter. Dari penampilannya kalian bisa tahu bahwa umur beliau sudah tidak muda lagi. Walaupun begitu kau bisa merasakan wibawa yang luar biasa saat ia berbicara.
"Bu Lee akan memberikan jadwal persiapannya besok. Jadi, kalian bisa menemuinya di kantor guru." Sesekali kepala sekolah membetulkan kacamatanya yang melorot. Tapi matanya yang sayu itu masih terus menatap kami satu persatu.
"Kalian paham? Apa ada yang ingin ditanyakan?"
Semua hanya menggelengkan kepala.
"Hyorin..." kali ini mata itu menatap intens hanya kepadaku.
"Aku harap kau bisa memikirkan keputusanmu sekali lagi. Pikirkan matang-matang. Ini adalah kesempatan emas. Pasti kau sudah tahu, kan? Kau bisa memilih universitas favorit manapun yang kau inginkan jika kau ikut dan menang dalam olimpiade."
Aku hanya diam. Mencoba mengalihkan pandangnku kebawah. Aku yakin, pasti mereka yang berdiri bersamaku ikut menatapku seperti kepala sekolah.
"Aku tidak tahu alasan kau menolak kesempatan ini, kau juga tidak pernah mau cerita. Tapi tolonglah, ini demi kebaikanmu dan semuanya."
Aku masih diam, menatap kedua kakiku yang terbalut rapi oleh sepatu berwarna hitam. Rasanya, sedikit malu dan kesal. Apa mereka tidak bisa mengerti juga? Aku akan terus menolak tawaran itu mentah-mentah walaupun kalian bersujud di kakiku.
"Aku rasa sudah cukup. Kalian boleh pergi."
Kami membungkuk bersamaan dan keluar ruangan secara bergantian.
Kami berpencar, dan aku sudah tidak peduli lagi dengan mereka. Toh, kami memang tidak akan pernah bertemu lagi, bukan? Olimpiade? Semakin lama aku semakin jijik mendengar kata itu.
YOU ARE READING
A BigHit Shop
FanfictionToko kecil itu akan muncul ketika kau merasa bahwa hidupmu sudah tidak berguna lagi. Mereka akan menawarkan beberapa benda-benda ajaib yang akan membantumu mengatasi setiap masalah yang kau alami. Tetapi saat kau sudah terikat kontrak dengan toko in...
