"See? RM loves me so bad." {}
Since: august/19
⚠WARNING⚠
Adult content does not mean sexual issues only. In this fanfiction there are several scenes of violence, crime and free from sexual content. Be wise in choosing reading!
This is my agressive b...
Aku ingat musim panas enam bulan yang lalu, aku pindah ke rumah adik ibuku, Bae Yoongi.
Pada awalnya kukira Pamanku yang satu itu akan senang sebab keponakan cantiknya datang berkunjung. Apalagi saat mulutku berkata bahwa aku akan tinggal di sana selama beberapa bulan ke depan-sampai aku lulus dari SMA, dia langsung menekuk wajahnya menjadi tiga lipatan, berteriak murka sampai mulut merconnya mengeluarkan kalimat-kalimat yang mampu membunuhku dalam sekejap.
Aku juga sempat ingin menangis kencang tatkala Yoongi berkata, "Memangnya kau habis tidur dengan siapa sampai diusir dari rumah begini? Minta tinggal di rumahku pula. Kenapa tidak menyewa flat saja?"
Oh, tidak. Tidak, Paman Yoongi tersayang. Aku bukan gadis seperti itu. Tidur dengan seorang lelaki diluar nikah jelas bukan caraku. Sekali pun orang-orang menganggapku gila, tetapi otakku masih seratus persen berada dalam kondisi aman terkendali dan terhindar dari hal-hal mesum semacam itu. Lagi pula, tidak ada yang mengusirku. Aku kabur dari rumah, tanpa tekanan, atau paksaan dan murni dari kemauanku-sebab beberapa hal serius telah terjadi dan aku bukan gadis berhati besar yang mampu memaafkan banyak hal.
Intinya, aku mengalah. Jadi, aku pergi.
Namun alih-alih menangis kencang sampai membuat telinga Yoongi lepas, aku malah meratapi nasib malang yang kualami sekarang. Kalau saja aku punya uang, percayalah, sudah dari dulu-dulu sekali aku menyewa sebuah flat yang ada di seberang sekolahku dan hidup dengan damai seorang diri. Tapi, tidak bisa. Jangankan menyewa sebuah flat, uang untuk makan sehari-hari saja masih belum tahu harus mencari ke mana. Ingin bekerja paruh waktu pun percuma. Tidak akan ada yang menerima. Memang tempat mana yang mempekerjakan anak di bawah delapan belas tahun? Bisa-bisa mereka tersandung kasus memalukan sebab mempekerjakan anak di bawah umur.
Kalau bukan karena jarak rumah Yoongi yang dekat dengan sekolahku, aku juga tidak akan sudi memohon tinggal di sini-terlebih serumah dengannya-dan membiarkan lelaki apatis itu menghinaku seperti tadi.
Menyebalkan.
Lalu apa yang kudapat? Yoongi malah mengomel panjang kali lebar-padahal yang kutahu dia itu tipikal lelaki yang jarang berbicara, membuatku sedikit terkejut sebab dia mendadak cerewet seperti ibu-ibu penagih utang. Tetapi, toh, Yoongi tetap mengizinkanku tinggal meski dia menyampaikan izinnya dengan cara pergi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dan otakku dengan cepat dapat menangkap maksud Yoongi.
Dia mengizinkanku, tapi karena gengsinya ketinggian jadi dia tidak mengatakan apa-apa. Tak apa, pikirku mengerti. Yang penting aku bisa tinggal di sini. Tidak jadi gelandangan.