Pagi ini hujan dan aku sudah setengah perjalanan menuju ke sekolah. Angkot yang kutumpangi sudah penuh oleh penumpang, hanya tersedia satu tempat duduk lagi di dekat pintu. Itu pun berupa bangku kecil tambahan yang sengaja disimpan disana agar angkot dapat memuat lebih banyak penumpang.
Angkot yang kutumpangi berhenti untuk menaikkan penumpang. Penumpang baru ini seorang lelaki berseragam SMA, saat kulihat label sekolahnya ternyata ia satu sekolah denganku, seragamnya sedikit basah terkena air hujan. Mau tidak mau lelaki tersebut duduk di bangku kecil tambahan itu. Dengan postur tubuhnya yang tinggi dan tegap, ia terlihat sedikit kerepotan saat harus duduk di bangku sekecil itu. Setelah menemukan posisi duduk yang nyaman, lelaki itu mengangkat kepalanya dan melihat ke sekeliling angkot, lalu tanpa sengaja matanya bertemu dengan mataku yang memang sejak tadi memperhatikannya. Selama beberapa detik kami bertatapan, sampai akhirnya ia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.
Aku yang kaget dengan reaksi lelaki tersebut, mencoba membalas senyumnya. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya ke jalan raya. Sepanjang perjalanan aku mencoba mencuri-curi pandang pada lelaki itu, sepertinya ia sedang melamunkan sesuatu. Aku jadi bertanya-tanya, apa ya yang sedang ia pikirkan?
"Kirii.." Aku sedikit berteriak untuk memberhentikan angkot.
Lelaki tadi terlihat sedikit kaget dengan suaraku, lalu seperti tersadar dari lamunan, ia mulai merogoh saku celananya dan mengeluarkan satu lembar uang lima ribuan. Setelah angkot berhenti, ia keluar duluan, lalu disusul aku, setelah aku beberapa penumpang yang juga satu sekolah denganku ikut turun. Untung hujan sudah berhenti, jadi aku tidak perlu kerepotan membuka payung saat turun angkot.
Lelaki itu sudah berjalan agak jauh saat aku selesai membayar ongkos. Aku hanya bisa menatap punggungnya yang tegap terus berjalan. Sesekali ia berhenti untuk menyapa teman-temannya. Saat ia berhenti itulah, aku menyalipnya dan mencoba menoleh ke arahnya untuk melihat wajahnya sekali lagi. Dan aku melihat wajahnya yang sedang tersenyum lebar ke arah teman-temannya. Aku pun ikut tersenyum sambil meneruskan berjalan.
@*@
Lelaki itu bernama Reihan Firdaus. Ia bisanya dipanggil Rei. Saat aku melihat wajahnya ketika di angkot tadi, aku cukup kaget. Rei biasanya pergi ke sekolah menggunakan motor, dan ini pertama kalinya aku melihat ia naik angkot. Ini pertama kalinya pula aku bisa melihat wajah Rei sedekat tadi. Sebenarnya ketika di angkot tadi, yang memperhatikan dia bukan hanya aku saja, tapi beberapa penumpang yang berpakaian SMA juga terlihat mencuri-curi pandang ke arah Rei. Apalagi yang satu sekolah denganku, mereka juga pasti sama kagetnya dengan aku, karena bisa satu angkot dengan Rei.
Rei termasuk idola sekolah. Dengan wajah yang tampan, kulit yang bersih, badan yang tegap dan tinggi, bibir yang selalu tersenyum, dan sikapnya yang selalu ceria dan ramah kepada siapapun, ia dikenal oleh seluruh masyarakat sekolah. Dia juga terkenal di luar sekolah, karena prestasinya di bidang beladiri karate. Aku menganggap bahwa Rei merupakan sosok yang nyaris sempurna. Memang agak berlebihan sih, tapi wajar saja menurutku, karena aku memang tidak mengenalnya, aku hanya bisa melihat tampilan luarnya dan menatapnya dari jauh.
@*@
Namaku Ophelia Oktriana. Sekarang aku berusia 16 tahun dan duduk di bangku kelas 2 SMA. Aku merasa bahwa aku hanya gadis biasa, tidak ada hal yang luar biasa pada diriku. Banyak yang bilang aku imut-imut. Badanku memang kecil, bahkan sejak SD setiap upacara bendera aku selalu baris di paling depan. Kulitku khas orang Indonesia, sawo matang. Rambutku hitam lurus sebahu. Badanku tidak gemuk dan tidak kurus, ya bisa dibilang proporsional lah dengan tinggi badanku.
Aku agak susah bersosialisasi dengan orang lain. Makanya aku hanya punya 4 teman dekat, Sarah, Nadia, Anisa, dan Laras. Sarah adalah temanku sejak SD, Nadia temanku sejak SMP, Anisa baru bertemu ketika masuk SMA, sementara Laras adalah sahabatku di SMP namun dia pindah ke Bandung. Aku juga termasuk orang yang susah untuk memulai pembicaraan dengan seseorang, kecuali dengan 4 sahabatku. Tapi kalau masalah otak, aku lumayan cerdas. Aku selalu masuk 10 besar sejak SD sampai sekarang, walau tidak pernah masuk 3 besar. Dengan keadaanku yang seperti ini, aku memutuskan untuk masuk ekskul Magz, majalah sekolah mingguan. Di ekskul ini, aku tidak perlu berbicara dengan banyak orang, karena aku ditempatkan di bagian editor. Kerjaanku adalah memilah, mengedit, dan mengetik berita yang akan ditampilkan di Magz setiap minggunya.
YOU ARE READING
Angkot
Teen FictionOphel adalah siswi SMA yang senang naik angkot. Banyak cerita yang ia dapatkan di dalam angkot. Apakah cerita cinta nya pun akan berhubungan dengan angkot?
