kembali

10 0 0
                                        

Raya memasuki kamar inap yang lebih mirip kamar pribadi. Bukan karena kemewahannya, namun terlampau seringnya ia memasuki ruangan itu dalam satu tahun ini.
"Pagi om, pagi tante"sapanya pada dua orang berusia paruh baya yang telah seperti orangtua kandungnya sendiri.
"Oh, pagi sayang"balas sang wanita.
"Gimana keadaan hazel? Masih kayak kemaren?"tanya raya melirik sesosok manusia yang tengah terbaring di ranjang.
"Udah baikan, dia melewati masa kritis ketiganya lebih baik dari sebelumnya. Mungkin karena sudah berpengalaman"ucap pria yang tengah memeriksa jalan infus.
"Om sama tante kalo mau sarapan silahkan, biar hazel aku yang jaga. Mumpung hari ini gak ada kuliah"tawar raya.
Sepasang suami istri itu berpandangan sebelum akhirnya mengangguk kecil.
"Tolong ya, raya. Kalau ada apa-apa langsung hubungi om kamu ini"ucap ibu hazel.
Raya mengangguk pasti.
"Tenang aja, tan. Raya pasti langsung  hubungin om kalo ada apa-apa" ucapnya seraya mengangkat kedua jempolnya.

Setelah di pastikan nya kedua orangtua hazel telah benar-benar keluar, raya duduk di kursi samping ranjang hazel. Di genggamnya lembut jemari hazel. Raya berusaha keras untuk menahan airmata nya. Bagaimana tidak? Sepupunya yang selama ini selalu memberinya harapan tengah terbaring tak berdaya dengan keadaan memprihatinkan. Rambut hazel yang dulunya hitam kecoklatan sebahu kini berubah putih memanjang. Bahkan warna alisnya pun ikut memutih. Wajahnya yang dulu selalu mengukir senyum  kini terlihat kaku. Tubuh hazel bahkan kini seperti kulit membungkus tulang sebab hanya cairan infus lah yang menjadi satu-satunya sumber gizinya.
"Zel, sampai kapan kamu mau hukum aku kayak gini? Udah hampir satu setengah tahun kamu "tidur". Udah cukup zel, aku benar-benar ngerasa bersalah sekarang. Tolong buka mata kamu"isak raya kini pecah.
Entah kenapa ia selalu emosional setiap berbicara pada hazel walau ia hanya seperti berbicara sendiri.
"Kamu tahu? Gak ada satu hari pun aku lewatin tanpa doa untuk kesembuhan kamu. Aku ngerasa jadi pembunuh selama kamu belum buka mata kamu. Karenanya.... karenanya tolong buka mata kamu zel, semuanya kangen sama kamu. Orangtua kamu, aku, mas jagad, dan juga teman-teman kamu zel. Tolong, bangunlah...."
Perlahan namun pasti, kedua kelopak mata hazel membuka. Namun ia segera kembali memejamkan matanya karena cahaya tajam menusuk.
"Aku udah bangun kok ray"lirih hazel nyaris seperti bisikan.
Raya terdiam, seakan tak percaya dengan pendengaran nya sendiri.
"Z-z-zel? Kamu... kamu bangun?"ucap raya tak percaya seraya menutup mulut nya sendiri.
Hazel tak menjawab, namun ia berusaha tersenyum kecil sebagai sebuah jawaban.
"Tunggu sebentar ya"seru raya cepat lalu berlari keluar memanggil dokter terdekat.





"Bagaimana, bram?"tanya ayah hazel pada rekan se profesi nya yang telah memeriksa hazel.
Dokter bram tersenyum lebar.
"Ini benar-benar sebuah keajaiban, war. Hazel nyaris tak memiliki gangguan kesehatan apapun setelah sadar. Hanya saja dia harus menormalkan berat badannya dan juga mungkin kembali melatih motorik nya" jelas dokter bram.
Kedua orangtua hazel mengangguk mengerti.
"Oh ya hazel, mungkin kamu harus melewati beberapa minggu lagi di rumah sakit ini. Gakpapa kan?"tanya dokter bram seraya mengelus puncak kepala hazel.
"Gakpapa om, makasih ya udah ngerawat aku selama koma"
Dokter bram tersenyum lebar.
"Santai aja, om cuma ngecek keadaan kamu beberapa kali sehari. Yang ngerawat dan dampingin kamu selama ini ya keluarga kamu. Karenanya kamu benar-benar beruntung, zel"
Hazel balas tersenyum. Kini matanya sudah dapat beradaptasi dengan cahaya dan juga otot-otot wajahnya kembali merenggang sehingga tidak terlalu sulit lagi untuk tersenyum.
"Syukurlah, kamu sudah sadar nak"ucap ayahnya haru.
"Maaf sudah membuat kalian khawatir. Aku sudah kembali"ucap hazel tak kalah haru dari keluarganya.
"Ya, dan ayah sungguh bersyukur tentang itu zel"
"Oh ya ray, jangan merasa bersalah lagi karena ini semua bukan salah kamu. Dan yang terpenting aku udah sadar kan?"
Raya yang masih sesenggukan coba di tenangkan oleh ibu hazel. Namun bukan nya mulai reda, tangis raya semakin menjadi yang justru membuat hazel tertawa kecil.
"Jelek tahu muka kamu nangis gitu"ejek hazel.
"Makasih, udah berjuang buat bangun zel"ucap raya di sela tangis nya.




You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 05, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

save youStories to obsess over. Discover now