Story ini mungkin bakal sering author up soalnya cuma cerita ringan, hehe.
Tapi trgantung mood jga si,, kalo mood nya author ini lagi baek ya bakal sering2 up.
Makannya kalian bantu bikin mood author ini jadi baek...
Caranya gampang kok,,
Cuman tinggal klik bintang di setiap part/bagian (vote), terus comment kritik n saran kalyan, jangan lupa buat follow akun wattpad author @hans_dn (wajiibb) , terus kalian bisa share story (cerita) ini ke temen2 kalyan, kerabat2, dkk.
Gampang, kaaannn???
Ok, let's do it!
Salam dari author yg banyak maunya ini...
Jadilah readers yang aktif, dengan cara vote dan comment.
###
Prologue
Fasya POV
Hari ini adalah hari dimana lengkungan itu terukkir indah dipipiku. Lengkungan yang katanya dapat mengubah segalanya, itu kata Tamara. Tapi aku masih belum percaya akan itu. Sebentar lagi kalian juga akan tahu siapa Tamara itu.
Pertama kali kami bertemu, itu saat aku tersesat di belakang sekolah. Hari itu adalah hari ulang tahunku yang ke delapan. Aku dan keluargaku pindah ke kota pelajar ini sejak seminggu yang lalu, tidak menutup kemungkinan jika aku belum mengenal tetangga dekatku, karena mebereskan rumah itu tak semudah dan sesingkat yang kukira. Justru dengan acara ulang tahunku ini, kami akan mengundang tetangga dekat kami. Dan hal yang membuat pesta ulang tahunku berbeda adalah, aku tidak menghadiri pesta tersebut.
***
Author POV
Seorang gadis kecil dengan dress pink selutut dan mahkota yang bertengger manis dikepalanya sedang berlari menuruni anak tangga rumahnya. Wajahnya tampak riang dan berseri, lesung dan semu merah yang ada dipipi sangat kontras dengan kulit putih bersihnya, membuat kesan tersendiri ketika orang melihatnya.
"Mom, Fasya mau jalan-jalan bentar ya!" ucap gadis cilik itu kepada wanita dewasa yang ia sebut Mom.
"Be careful, honey! Jangan lama-lama. Sebentar lagi pesta ulang tahunmu akan segera dimulai!" sahut wanita dewasa ketika melihat anaknya tengah berdiri di ambang pintu.
"Ok!" sahut gadis dengan wajah bak peri itu sambil mengacungkan jempolnya, sungguh wajahnya benar-benar menggemaskan, kalian bahkan ingin mencubit pipinya saat melihat ekspresi wajahnya. Dengan gesit ia memakaikan sepatu yang berwarna senada dengan dress yang ia kenakan dikedua kaki mungilnya. Setelah behasil berdiri, ia berlari-lari kecil untuk mencapai pagar kayu rumahnya.
Ia berjalan menuju ayunan yang terletak tak begitu jauh dari rumahnya. Ayunan ini sangatlah sederhana, hanya dari sebilah kayu yang diikat ujungnya menggunakan tambang dengan bunga yang melilit setiap inci dari tali tambang tersebut. Entah siapa yang membuatnya, namun sungguh indah dimata peri kecil itu.
Mata berwarna cokelat terang milik gadis cilik itu tertuju pada seekor kupu-kupu dengan corak merah yang tampak indah diwaktu senja seperti sekarang. Langkah kakinya terus mengejar kupu-kupu itu. Hingga kupu-kupu itu menghilang di balik semak-semak.
Langkahnya terhenti ketika ia tengah berada di tepi danau yang entah dimana letaknya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak yang dikelilingi oleh pohon-pohon rimbun yang menjulang tinggi. Harapannya kini hanya satu, dapat kembali pulang ke rumah barunya dan bertemu kedua orang tuanya dengan selamat. Bibir tipis peri kecil itu terus memanggil mamanya, berharap mamanya akan menemukannya.
YOU ARE READING
When She is Gone
Teen FictionCopyright ©2018 Akulah sang perajut mimpi. Yang menghendaki pergi berasal dari sunyi. Ketika ku mendayung seribu kali. Hanya demi satu tujuan yang ku kehendaki. Apa balasannya? Ah... Itu tidaklah penting
