"Ini lapangan apa jahannam?!"
Hembusan angin panas berhasil menerpa wajah dan kulitku. Dan tak sedikit juga air keringat keluar dari sela-sela kulit putih milikku. Sepertinya mentari sedang menertawaiku sekarang.
Tapi tak apa, aku sudah terbiasa dengan perlakuan mentari itu. Dia seperti teman bagiku, dan sekaligus bisa menjadi musuhku. Dan seperti biasa, sunyi dan keheningan menjadi obat penenang untukku sekarang.
Perkenalkan, namaku Adimas Putra Yunanda. Aku duduk dibangku kelas 12, tepatnya di 12 ips 2. Kau tau? Aku sedang menikmati sisa hidupku sekarang. Berdiri dengan hormat didepan bendera kebangga-an kita. Bukan lagi upacara, tapi hukuman yang sedang menimpaku. Selalu begini, lagi dan lagi. Dan aku cukup bosan bangun dan selalu menjalani rutinitas yang sama.
Sudah ku tebak, di jam segini pasti para satpam sekolah sedang tertidur pulas di pos depan. Tanpa pikir panjang aku pun melompati pagar tinggi itu. Sempat tersangkut pagar yang membuat seragamku sobek. Tapi tak apa, lagi pula itu akan sobek ditiap harinya.
"Sekolah sialan!" aku pun segera pergi dari tempat mengerikan itu dan memesan gojek untuk mengantarku pergi ke sebuah minimarket. Tak seperti biasanya, tempat itu sangatlah ramai dengan para mahasiswa perkuliahan. Tak heran lagi, bus pariwisata sudah menunggunya didepan minimarket itu.
Aku segera berlari masuk untuk membeli makanan seadanya, lalu ikut menaiki bus itu bersama dengan para mahasiswa yang lainnya. Dengan penyamaran seadanya, masker dan topi yang menutupi wajahku tak menjadi permasalahan. Sampai bus itu berhenti di depan sebuah hutan. Pikirku tak salah lagi, mereka sedang mengadakan perkemahan.
"Kalau tau begitu, aku tidak akan menaiki bus ini." aku hanya bisa membatin. Aku pun segera turun dan mengikuti para makhluk itu. Mereka mulai membangun tendanya masing-masing. Tapi aku? Ah ayolah, aku hanya membawa satu jaket dan makanan seadanya. Sialnya aku!
Aku pun duduk dibawah pohon agak jauh dari mereka. Menenggelamkan wajahku sambil mendengarkan hembusan angin yang dingin, dicampur dengan teriknya matahari yang tak lagi bisa menyentuh kulitku karena rimbunnya pohon-pohon disana. Benar-benar suasana yang aku inginkan. Aku mulai menutup mataku dan terlelap.
Oke, suasananya pun berganti. Tempat yang tadinya begitu indah dengan angin yang tenang berubah menjadi tempat yang menyeramkan. Mentari sudah mulai menenggelamkan dirinya. Semua tampak gelap, seperti hanya aku yang berada disini. Hanya terdengar suara jangkrik dan para hewan lainnya yang tak ku ketahui itu.
"Sepertinya akan malam. Aku harus pulang!" aku pun mulai berjalan keluar dari hutan itu yang dibantu dengan senter pada ponselku. Untung saja perkemahan mereka tak terlalu jauh dari jalan raya, sehingga dengan mudah aku bisa keluar dari sana. Aku sudah memesan gojek, tapi abang gojek itu tak juga datang. Terpaksa aku pun berjalan kaki menyelusuri jalan panjang itu. Ah, cukup tahu, jalan raya ini benar-benar gelap. Bahkan cahaya dari lampu jalan pun tidak terpasang. Sempat terlintas difikiranku, seperti halnya yang terjadi pada film hantu biasanya. Namun aku segera mengusir fikiran konyol itu.
Langkahku berhenti setelah melihat seorang gadis merintih kesakitan meminta tolong di pinggir jalan. Sempat ragu untuk mendekatinya, karena ku pikir dia hantu atau semacamnya. Yang benar saja? Ada gadis sendirian ditempat seperti ini? Apalagi ini sudah malam. Dengan ragu aku pun menghampiri gadis itu, dia tersungkur tak berdaya dengan muka yang begitu pucat dan banyak luka ditubuhnya.
'Benar-benar kacau.' pikirku.
"Tolong, tolong bawa aku pergi dari sini!" ya, hanya kata itu yang keluar dari mulutnya.
'Kurasa dia bukan hantu.' batinku mulai memberanikan diri untuk terus mendekatinya.
Aku mulai membantunya untuk duduk, merapikan rambutnya yang hampir menutupi wajah pucatnya. "Kenapa lo bisa disini? Lihat, tubuh lo luka-luka!" tanyaku ragu-ragu.
आप पढ़ रहे हैं
Stop Leaving Me!
टीन फिक्शनKetika seseorang sudah mendapatkan rasa nyamannya, mengapa rasa kehilangan tetap melekat pada dirinya? Ingat, waktu tidak akan pernah bisa berhenti. Ingat, dia juga tidak akan bisa tetap disampingmu. Kisah sekelompok lelaki kocak penuh ambisi, bagi...
