Ayub adalah anak yang soleh dan tampan. Dia anak tunggal dari ibu Aisnyah dan pak Zulkifli. Ayahnya meninggal sejak Ayub kelas 1SMP. Sedangkan Ibunya mulai sering sakit sejak Ayub lulus SMA. Semenjak itu Ayub yang menjadi tulang punggung keluarga, dia bekerja sejak pagi sampai malam, tanpa kenal lelah.
Setelah setahun bekerja, Ayub di pecat. Penyebabnya karena dia tidak memandang mata lawan bicaranya, jika itu Prempuan. Para karyawan Prempuan mengatakan Ayub sombong, sok ganteng, sok baik, dan banyak perkataan lainnya. Setiap berganti pekerjaan, Ayub selalu di pecat dengan permasalahan yang sama.
Sampai akhirnya Ayub bertekad membuka kantor penerbitan sendiri, dengan modal tabungan ibunya yang sudah lama disimpan dan pinjaman saudaranya. Awalnya Ayub diberi saran temannya meminjam uang ke Bank, Tetapi Ayub menolaknya lalu membacakan hadist,
".لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آكِلَ الرِّبَا، وَمُوكِلَهُ، وَشَاهِدَيْهِ، وَكَاتِبَهُ"
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat orang yang makan riba, pemberi makan riba, dua saksi transaksi riba, dan orang mencatat transaksinya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan disahihkan Al-Albani) Ibunya yang mendukung anaknya, lalu meminjam uang ke bank tanpa diketahui Ayub (walaupun akhirnya Ayub mengetahuinya).
Kemudian Ayub meminta saran pada Ibunya. Beliau mengatakan sembari tersenyum lebut pada anaknya, "Ibu ada sedikit tabungan uang yang Ibu simpan untuk kuliah mu, jika kamu membutuhkannya Ibu akan memberikannya dan Ibu juga akan meminjam uang kepada Pamanmu," Ayub yang mendengar perkataan Ibunya senyum lalu memeluk tubuh ibunya yang yang kecil.
Usaha dimulai dari nol dengan bajet pas-pasan, hal tersebut tidak membuat Ayub kendur. Dia yang mempromosikan penerbitannya di social media, teman kantornya yang dulu, dan menenpel brosur tentang penerbitannya tanpa kenal lelah.
Lambat laun penerbitannya berkembang. Ibunya yang melihat berkembangan usaha anaknya menyarankan Ayub mengajak Fitri menjadi karyawan untuk membantunya bekerja.
Fitri adalah teman Ayub sejak SD, Setelah lulus SMA dia bekerja di penerbitan karena kepintarannya dalam mendisain cafer buku dan komputer. Dia berhenti dari pekerjaan sebelumnya karena lingkungannya kurang bagus.
Fitri karyawan pertama di kantor penerbitan Dan juga yang merasakan jatuh bangunnya kantor tersebut, Sampai-sampai pernah tak di gaji,oleh karena itu Ayub sangat mempercayai Fitri.
Ibu menghampiri Ayub yang sedang duduk di kamarnya ,“Ayub... ibu ada calon untukmu, seperti yang sudah kita bahas 2 tahun yang lalu. Kamu janji akan menikah di usiamu yang ke 26 tahun, besok calon istrimu akan datang. Jadi cutilah bekerja untuk satu hari,” Kata ibu menatap mata anaknya itu. Ayub yang tak bisa menolak keinginan ibunya, dia mengiyakan dengan senyum dan menganggukan kepala.
Besoknya gadis yang di calonkan untuk Ayub datang, Namanya Ratifa berumur 25 tahun. Dia berhijab, cantik, baik, dan pandai mengaji. Dan saat berbicara dengan Ayub, dia menundukan pandangannya. Dia bekerja sebagai guru mengaji dan TK.
Setelah seminggu mereka saling mengenal ibunya bertanya, “Ayub anakku sayang, bagaimana hubungan mu dengan Ratifa? Dia calon istri yang sesuai dengan istri impianmu, benarkan?”
Ayub yang melihat wajah ibunya yang berharab supaya dirinya menikah dengan Ratifa, sangat sedih menceritakan bahwa Ratifa bukanlah istri impianku. “Ibu, maaf kan Ayub. Karena Ratifa bukanlah gadis yang akan menjadi istri Ayub, karena dia tidak dapat menundukan pandangannya bu,” Kata Ayub lembut dan pelan supaya tak menyakiti hati ibunya.
Ibunya terkejut dan bertanya dengan suara lembut khasnya, “kenapa? Bukannya saat kalian pertama kali bertemu Ratifa tak sekalipun melihat matamu, tetapi bagaimana kamu tahu kalo Ratifa tidak menjaga matanya?”
Ayub yang tidak mau adanya salah paham lalu menjelaskan, “ Saat saya pergi ke rumah Ratifa untuk mengantar kue buatan Ibu. Saya melihat Rafika bersama seorang pria sedang berbicara di halaman rumahnya. Ratifa terlihat sangat sedih begitu juga Pria yang sedang bicara dengannya, ”
Ibunya yang mendengar penjelasan anaknya terkejut. Dia melihat sekali wajah anaknya yang sedih. “Lalu bagaimana Apa kamu sudah menanyakan padanya?” tanya ibu penasaran dengan nada lembut. “Aku sudah menanyakannya. Dia mencintai laki-laki itu sejak SMA dan sejak SMA pun mereka pacaran,” kata Ayub sedih lalu menatap mata ibunya yang terkejut.Sejak itu ibunya tak mencari calon istri untuk Ayub, tetapi itu tak bertahan lama.
Sebulan kemudia ibunya mengenalkan gadis lain bernama Misa Khairunnisa berusia 26 tahun. Dia samahalnya dengan Ratifa seorang guru, cantik, pandai mengaji, dan saat berbicara dengan Ayub dia menundukan pandangannya.
Tetapi takdir berkata lain, Nis bukanlah juga istri yang di takdirkan bersama Ayub. Ibunya yang penasaran lalu bertanya dengan nada lembut,“Anakku sayang, kenapa kamu memutuskan sendiri hubungan mu dengan Nisa?”
“Ibu Nisa memang Sesuai dengan istri jika di deoan Ayu tetapi jika dibelakang Ayu dia berbeda, ” Kata Ayub sedih.
Ibunya yang mendengar perkataan itu pun bertanya kembali, “Apa sebabnya kamu mengatakan Hal tersebut, ”
Ayub mengingat kembali kenjadian beberapa waktu yang lalu saat dia mendengar percakapan Nisa dengan sahabatnya di telpon, "Hei friend lo tau gak, cowok yang dijodohin sama nyokap gue cakep dan kaya. Tapi dia so alim, masa tatapan mata aja gak mau. Gue terpaksa nunduk mulu , pegel kelama-kelamaan leher gue. Tapi kemaren nyokap gue juga jodohinn gue sama anak temannya. Orangnya juga kaya tapi sayangnya jelek entar malu-maluin gue bawa ke kondangan," kata Ayub sedih.
Ibunya yang mendengar penjelasan kaget,dengan sifat asli Nisa. lalu berkata dengan sangat menyesal, “Ayub maaf kan ibumu yang selalu salah memilih calon istri untukmu,” ibunya pun memeluk Ayub dengan sangat erat. Sejak itu ibunya tak pernah lagi memilih gadis untuk Ayub, biarkanlah anaknya yang memilih istri yang dia impikan.
Ibunya mengetahui kalau anaknya sangatlah dekat dengan Fitri, yang usianya berjarak 2 tahun. Awalnya ibuAyub, ingin menjodohkan ayub dengan Fitri. Tetapi karena tak mau hubungan persahabatan mereka putus hanya karena perjodohan, ibunya urungkan niatnya tersebut.
Dikantor tersebar gosip bahwa Fitri yang akan menjadi calon istri Ayub, Fitri yang mendengar gosip tersebut lalu mendatangi ruangan Ayub.
“Tok,tok.. assalamu’alaikum pak Ayub” kata Fitri gugup.
Ayub yang mendengar lalu menjawab, “Walaikumsalam, masuk! Ada apa Fitri?” tanya Ayub sambil melihat layar leptopnya.
“Apa pak Ayub mendengar gosip, kalo saya calon istri pak Ayub....” kata Fitri sangat gugup, sambil menggenggamkan kedua tangannya kencang. Baginya ini seperti bertatapan langsung dengan singa. Rasanya ingin melarikan diri.
Walaupun mereka teman sejak kecil, tetapi sejak Ayub SMA mereka tidak pernah bermain lagi, alasannya pria dan wanita yang sudah dewasa tidak boleh berikhtilat (bercampur baur) haram hukumnya.
“Ya! saya sudah mendengar gosip tersebut, lalu kenapa?.” jawab Ayub santai. tatapannya masih tetap kelayar komputer.
“Sebenarnya saya ingin pak Ayub menjelaskan, bahwa saya bukan calon istri pak Ayub. Karena saya tak ingin calon suami saya berfikiran saya selingkuh,” jawab Fitri gugup dan tatapannya masih tetap ke bawah.
Ayub yang mendengar perkataan tersebut, tanpa sadar matanya menatap wajah wanita yang ada di hadapannya. Walau hanya sekilas melihatnya, hati Ayub terasa sakit. Seperti ditusuk oleh ribuan panah, lebih sakit dari saat kejadian tentang Ratna dan Nisa.
“Lalu siapa calon suamimu? Apa dia bekerja disini?” tanya Ayub penasaran.
“Dia pak Hardiman. Kami sudah ta’arufan selama 3 bulan, dan sudah setuju ingin melanjutkan kejenjang pernikahan.” Kata Firti gugup dengan tatapan yang masih tertuju ke bawah.
“Lalu saya akan menikah bulan ini, dan juga ingin mengundurkan diri dari kantor.” Lanjut Fitri. fitri lalu melihat ke arah Ayub yang sedang menatapnya, tanpa sadar mereka berdua langsung mengalihkan pandangan mereka. Keduanya sangat gugup, tak bisa berkata.
“Maafkan saya karena tiba-tiba berkata ingin menikah dan juga berhenti dari kantor,” kata Fitri semakin gugup, karena Tatapan ayub tadi.
“Tidak apa-apa, lagi pula kamu sudah bekerja di sini selama 4 tahun. Kamu juga sudah sangat membantu saya, walau sedih saya hanya ingin kebagiaan untukmu dan Hardiman. Saya sangat berterimakasih karena selama ini, kamu selalu membantu saya ketika kantor ini jatuh maupun naik. Saya sangat berterima kasih,” kata Ayub dengan suara yang serak , air matanya menetes. Mendengar perkataan itu, Fitri sangat sedih. Air mata pun terjatuh kepipinya yang cantik itu.Fitri pun permisi dari ruangan Ayub setelah menghapus air matanaya.
Bagi Ayub Fitri adalah seorang wanita yang sangat sesuai dengan istri impiannya, tetapi ia tak dapat menggapainya.
Setelah itu Fitri sering cuti dari kerjaannya untuk mempersiapkan pernikahannya. Pekerjaan Ayub semakin banyak dan sering pulang malam untuk menyelesaikan pekerjaan Fitri. Fitri yang melihatnya merasa kasihan lalu memanggil temannya untuk menggantikan posisinya.
Fitri menghampiri Ayub yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya, “Pak Ayub, maaf karena ini hari terakhir saya bekerja. Saya selalu melihat pak Ayub pulang malam, karena mengerjakan tugas saya. Saya membawa teman saya, namanya Jamilah dia dulu juga pernah bekerja diperusahaan penerbitan. Tapi karena ia ingin melanjutkan kuliah ia pun berhenti kerja.” Kata Fitri, lalu memberi kode pada Jamilah untuk memperkenalkan diri. Ayub masih tetap menatap kearah kertas yang di pegangnya.
“Assalamu’alaikum pak Ayub, Nama saya Jamilatun akhlakun. Umur saya 24 tahun, dan ini surat dan berkas lamaran saya.” Kata jamilah lembut dan kemayu, lalu menaruh kertas laraman tersebut keatas meja ruang tamu tanpa memandang kearah wajah Ayub.
“Walaikumsalam” Ayub lalu mengambil berkas tersebut, ketika dia mengangkat wajahnya untuk melihat sekretaris barunya. Hatinya bergetar,seperti tersambar petir lalu gumamnya dalam hati. “Perasaan apa ini ya ALLAH?, mengapa hati hamba mu ini bergetar ketika melihat wajah Wanita ini. Jika ini persaan karena rasa nafsu, tolong kuatkan iman hambamu ini.” Lalu Ayub memalingkan matanya kearah berkas yang di bawa Jamilah.
“Baiklah, mulai besok kamu sudah bisa bekerja. Kalau ada yang tidak dimengerti kamu bisa tanyakan ke Fitri tentang pekerjaannya,” kata Ayub dengan perasaan gugup.
“Terima kasih Pak Ayub,” kata Jamilah senyum, walau senyum itu tak dapat dilihat oleh Ayub. Jamilah lalu melihat kearah Fitri yang juga tersenyum, Fitri mengode Jamilah untuk menunggu dihalaman.
“Pak Ayub, saya permisi terlebih dahulu. Assalamu’alikum,” kata jamilah lalu keluar dari ruangan Ayub.
“Bagaimana anak yang baik kan?” tanya Fitri senyum.
“Ya... sepertinya dia anak yang baik,” jawab Ayub santai. Walaupun dalam hatinya ada desiran ombak.
“Baiklah saya...., pak saya akan memberitahu satu hal pada kamu. Jamilah adalah prempuan yang sesuai dengan pak Ayub. Saya sudah mengenalnya sejak SMA. Semoga saja kalian berjodoh, assalamu’alaikum,” kata Fitri senyum lalu keluar deri ruangan Ayub.
“Walaikumsalam,” jawab ayub.
“Aamiin ya ALLAH semoga saja dia berjodoh dengan ku, dan menjadikannya Istri Impian ku.
Maaf ya ceritanya terlalu pendek, absurd dan masih banyak typo penulisan.
Jangan lupa ya vote... dan comment... untuk tetap menyemangati saya
Jangan lupa juga baca cerita saya yang judulnya Uhibbuki.
Hatta ilal liqo....
