Part 1 ~ ANOR

352 38 126
                                        

Ryan Alfian Dewangga adalah salah satu siswa SMA Negeri di Makassar. Sering dipanggil Ryan di lingkungan sekolah, di panggil Dewa di pergaulan luar sekolah. Ia bukan siswa biasa pada umumnya, namun juga bukan siswa yang sempurna. Sulit menjelaskan tentang Ryan hanya dengan beberapa kata. Butuh banyak paragraf untuk menjelaskan seperti apa kehidupannya.



"Woii... Ryan" Panggil Syam, teman sekelas sekaligus sebangkunya. Ryan mendengar panggilan tersebut, tapi tidak menghentikan langkahnya. Ia tetap melangkah seolah tidak terjadi apa-apa.



"Sialan Lo, Ryan. Dari tadi gue panggil, lo tetap aja jalan nggak berhenti. Lo budek atau gimana?" Syam dengan ngos-ngosan melayangkan protes terhadap sikap Ryan yang sedikit keterlaluan.



"Itu salah lo sendiri, lo cuma manggil nama gue. Nggak nyuruh gue berhentikan?" Ryan tetap berjalan tanpa berniat menghentikan langkahnya. Namun, sekarang Syam sudah berjalan di sampingnya.



"Iya juga sih, seharusnya tadi gue nyuruh berhenti ya?" Syam bingung sendiri atas jawaban Ryan. Seolah sadar dari kebingungannya, Ia pun melayangkan protes "Tapi, kalau gue nyuruh lo berhenti. Lo pasti tetap nggak berhenti ... kan? Seperti kemarin gue teriakin lo. Berhenti-berhenti dan lo tetap jalan. Terus lo bilang ke gue, emang lo siapanya gue sampai harus nurutin kata lo?"



Ryan tersenyum akan tingkah Syam yang hampir dia saksikan setiap hari.



"Ngapain lo masih ngikutin gue?" Tanyanya kepada Syam yang masih berjalan disampingnya.



"Kita kan satu kelas, apa salahnya gue jalan disamping lo. Gue kan cowok, pacar lo pasti nggak bakal cemburu kalau kita jalan berdua."



"Tapi koridor ini menuju ruang OSIS bukan kelas kita, dan sekedar mengingatkan, lo bukan pengurus OSIS. Jadi lo nggak usah ikut ngumpul di ruang OSIS, yang kata lo buang-buang waktu" Ryan mencoba membangunkan kesadaran Syam. Ia sangat tahu alasan Syam memanggilnya. Syam pasti ingin memperingatinya kalau jalan ke arah ini tidak menuju kelas.



Berhasil, Syam pun mulai sadar atas tujuannya memanggil Ryan. "Ini semua gagara lo, gue sampai lupa tujuan gue dan berjalan sejauh ini, buang-buang tenaga saja"



Tanpa berpamitan, Syam langsung berjalan berbeda arah dengan Ryan. Ia sibuk merutuki kebodohannya sendiri, sampai lupa mencecar Ryan dengan kata nyelekit sebelum pergi.



"Ini dia calon ketua OSIS tahun ini sudah datang" sambut Fadel saat Ryan sudah masuk ke ruang OSIS. Ryan langsung duduk di bangku tanpa menghiraukan sambutan dari Fadel.



Amelia atau yang sering di panggil Amel merupakan pacar Ryan dari zaman SMP, dan juga merupakan salah satu pengurus OSIS di SMA Negeri 1 Makassar. Ia tidak melepaskan pandangan dari kekasihnya semenjak Ryan menampakkan hidungnya di ruang OSIS.



Entah mengapa setiap dia memandang Ryan, ia selalu merasa damai dan kadang tersesat di mata tajam milik kekasihnya. Selalu ada kebahagiaan bahkan hanya mendengar nama Ryan diucapkan.



Kadang Amel bertanya-tanya, inikah yang disebut jatuh cinta bekali-kali dengan orang yang sama. Ataukah cinta sejati, atau mungkin cinta buta? Entahlah, Amel belum tahu jawabannya.



Kelas, 11 IPA 1



Ruangan ini dipenuhi oleh berbagai suara, semua itu karena ada beberapa siswa yang belum mengerjakan tugas PR mereka. Sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga mereka merasa seakan bumi hanya berpusat diantara mereka.



Ryan dan Amel berjalan masuk ke dalam kelas. Mereka langsung disambut oleh keributan yang diciptakan oleh teman sekelasnya. Teman-temannya tersebut memang ahli dalam hal menciptakan keributan. Tapi, sangat sulit jika mereka disuruh diam.

Ryan DewaHistórias para pegar e não largar. Descubra agora