1

2.6K 170 9
                                        

Jimin dan jungkook, mereka telah menikah 3 bulan lamanya, apa hidup mereka bahagia? Jawabannya, pernikahan mereka tidak memiliki arti apapun, pernikahan mereka tidak didasari cinta sama sekali, ya hanya terlibat perjodohan yang tidak menguntungkan keduanya.

Oh maaf, keduanya? Sepertinya saya salah, karena salah satu pihak sebenarnya menerima pernikahan mereka yang tidak didasari cinta ini.
.
.
.
.
.
.
.
Pagi ini Jimin bangun lebih awal dari biasanya untuk menghindari suaminya, ya suaminya Jungkook, pria yang berhasil membuat Jimin berlutut pada pandangan pertama.

Saat itu Jimin tengah berjalan tergesa-gesa menelusuri lorong sekolah barunya, karena ia bangun terlambat, dan saat Jimin sedang lengah kakinya menabrak sepatu murid lain yang berada di depannya, tapi hanya Jimin yang jatuh karena tubuhnya belum siap menerima tabrakan tersebut.

Jimin jatuh tersungkur, ia meringis dan merubah posisinya menjadi duduk lalu mengarahkan kepalanya keatas untuk melihat siapa yang ia tabrak, Jimin ingin meminta maaf kepada orang yang telah ia tabrak tersebut.

Tapi, niat itu Jimin urungkan karena terpaku pada wajah tampan di atasnya yang tengah menatapnya tajam, sesegera mungkin Jimin tersadar dan berdiri lalu meminta maaf pada pemuda itu.

Jimin tersenyum tipis menunggu jawaban sang pemuda tampan, ia bahkan berharap bisa lebih dekat dengan pemuda itu, tapi jawaban yang dikeluarkan dari mulut pemuda tampan itu membuat senyum jimin sirna.

Yang Jimin ingat pemuda itu mengatakan sesuatu dengan suara rendah, terkesan dingin, dan menusuk.

"Apa yang dilakukan oleh sampah seperti mu disini? Mengganggu jalanku saja, enyahlah kau sampah"

Setelah itu, sang pemuda tampan pergi meninggalkan Jimin yang tengah menahan sakit. Bodohnya, Jimin jatuh cinta pada pandangan pertama.

Cih memalukan sekali mengingat itu, pikir Jimin.

Ah, Jimin tersadar dari lamunannya tentang bagaimana ia pertama kali bertemu dengan sang suami, Jimin memutuskan untuk beranjak dari kasur.

Mandi, membuat sarapan, dan segera berangkat ke sekolah sebelum Jungkook bangun, Jimin segera melakukan itu semua.

Setelah selesai memasak sarapan untuk Jungkook, Jimin bersiap-siap untuk berangkat, baru saja ia akan memakai sepatunya sebuah suara menghentikan kegiatannya.

"Cih, bahkan mungkin gerbang sekolah belum dibuka untuk apa bersiap-siap berangkat? Tak perlu sok rajin kau, bodoh" itu Jungkook, dengan suara serak khas bangun tidurnya.

Jimin tidak menghiraukannya bahkan tidak menoleh ke belakang untuk sekdar melihat wajah Jungkook yang baru bangun tidur, ia melanjutkan kegiatannya yaitu 'mari memakai sepatu sebelum sepatunya Jimin lempar ke wajah Jungkook' .

Setelah selesai Jimin berdiri dan langsung melengang keluar rumah tanpa meladeni Jungkook yang tengah menatap kepergiannya dengan tajam.

"Cih, sekarang tuli rupanya" gumam Jungkook menahan kesal.

Sedangkan Jimin sebenarnya belum berangkat sekolah, setelah keluar dari apartemen pribadinya dengan Jungkook, ia hanya memegang knop pintu sambil bersandar di pintu dengan tatapan kosong.

"Tidak pernah berubah" lirih Jimin dengan senyum miris, setelahnya ia segera pergi dan menuju sekolah dengan berjalan kaki.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin tiba di sekolah lebih dulu daripada Jungkook, sekolah masih sepi hanya beberapa murid yang sudah terlihat batang hidungnya.

Setelah meletakkan tasnya di kelas, Jimin menuju kantin perutnya meraung karena tidak sempat sarapan demi menghindari Jungkook yang ternyata sia-sia.

Baru menapakkan kaki di kantin, Jimin melihat seseorang dipojokkan sedang memainkan ponselnya. 'Mirip Jungkook' pikir Jimin.

Ah, ia tidak perduli perutnya lebih penting saat ini, Jimin segera melesat pergi memesan makanan untuk dimakan olehnya.

Saat Jimin tengah asik menikmati makan, diam-diam Jimin memperhatikan orang yang tadi ia pikir Jungkook, matanya bulat sama seperti Jungkook, hidungnya lebih besar dan lebih mancung daripada Jungkook.

Bibirnya memang tidak semungil milik Jungkook, tapi bentuknya mirip, maniknya coklat berkilau, rahangnya tajam dan tegas seperti Jungkook.

'Tapi lebih tampan Jungkook'

Jangan-jangan kembaran Jungkook yang hilang, begitulah isi pikiran Jimin.

Jimin tidak sadar saat orang ia perhatikan juga sedang memperhatikannya, bahkan masih tidak sadar saat orang itu berdiri menuju meja Jimin yang masih mode blank.

Jimin baru sadar saat orang itu duduk tepat di hadapannya dan berusaha mengajaknya berbicara.

"Ehm, hai? Kulihat daritadi kau memperhatikanku terus. Ada apa? Ingin berkenalan denganku? Aku Yugyeom" ah jadi namanya Yugyeom.

"Eoh? H-hai..tidak, hanya saja kau mirip sekali dengan seseorang yang ku kenal, ah iya aku Jimin" Jimin tersenyum manis pada Yugyeom yang sesaat terpana.

Yugyeom balas tersenyum lebar hingga memperlihatkan giginya yang sangat mirip dengan gigi milik Jungkook.

"Oh! Kau bahkan memiliki gigi yang sama dengannya, woah bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?" Jimin sedikit memekik senang.

"Haha, aku juga tidak tahu bagaimana bisa terjadi, apa kau belum sarapan di rumah? Jarang sekali aku melihat murid sepagi ini makan di kantin?" Yugyeom merubah raut wajahnya menjadi bingung

'Aku tidak ingin sarapan bersamanya, itu hanya membuat hatiku tambah sakit gyeomie' Dan Jimin tidak bodoh untuk mengeluarkan kata-kata itu kepada Yugyeom

"Aku tidak sempat sarapan dirumah, ada tugas yang belum aku kerjakan jadi aku berpikiran untuk sarapan di sekolah saja, lalu apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jimin balik.

"Ini kebiasaanku, entah mengapa tempat sunyi lebih menyenangkan dan menenangkan." Yugyeom tersenyum tipis.

"Ahh, jadi begitu hm kalau begitu bolehkah aku menemanimu kapan-kapan? Aku selalu datang kepagian" bohong, bohong kalau Jimin selalu datang kepagian.

"Tentu saja boleh, datangi aku kapan saja kau mau, oh dan..bisa kita berteman?" Tanya Yugyeom hati-hati.

"Tentu saja!! Aku senang mem-" belum selesai Jimin menjawab sebuah tangan menariknya kencang.

"Maaf tapi aku ada urusan dengannya sebentar" itu Jungkook, dengan wajah datar, dingin, dan aura mencekam disekitarnya.

Yugyeom yang merasakan aura itu hanya mengangguk pelan, membiarkan mereka mengurusi urusannya.

Jungkook menarik Jimin keluar kantin menuju lorong sepi.

"Jadi kau sudah berani bermain di belakangku huh?" Tanya Jungkook sambil menghimpit Jimin di dinding.

"Bermain? Dibelakangmu? Maaf kook, aku tidak semurah itu dan aku masih memiliki harga diri untuk bermain di belakangmu, permisi" Setelahnya Jimin pergi meninggalkan Jungkook sendirian di lorong itu.

"Shit! Tak ada yang boleh dan tak ada yang bisa merebut milikku!" Jungkook meninju dinding yang ada didepannya.

Sekolah mulai ramai, Jungkook memilih pergi dari lorong dan menuju ke kelasnya dengan perasaan berapi-api.

TBC

Minta krisarnya ya kawan2, silahkan tinggalkan voment jikalau kelian suka ni cerita

-f

My Kookie (Kookmin)Stories to obsess over. Discover now