Elegi Gemuruh Langit

126 0 0
                                        


Elegi Gemuruh Langit

Seorang gadis duduk dibawah jendela menatap lama derasnya hujan di luar sana. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Aku sangat mengenalnya, dia adalah anak dari paman Haris. Tidak lain dan tidak bukan, paman Haris adalah adik kandungnya mama. Beberapa bulan lalu, bi Erni, istrinya meninggal dunia. Dan ia kini pergi merantau disebuah kota, mencari nafkah untuk sang anak yang kini dititipkan padaku. Mungkin ini menjadi alasan gadis kecil itu menjadi seorang yang pendiam. Gadis kecil yang sering memanggilku bunda, dialah Anissa.

Ketika paman Haris hendak berangkat, dia menitipkan pesan untukku "Jagalah Anissa, layaknya anakmu sendiri. Walaupun kamu belum pernah merasakan berada diposisi seorang ibu. Tapi aku mempercayaimu." Titipan Allah yang kini diamanahkan kepadaku, seorang gadis yang baru saja menempuh pendidikan disebuah universitas. Aku tinggal disebuah kost-kostan dekat kampus, biaya hidupku ditanggung oleh kakakku, kak Firman yang telah berkeluarga. Ia tinggal bersama mama papa di rumah. Dan dia, menggantikan sosok papa yang tak mampu lagi bekerja. Membiayai hidup keluarga, sudah menjadi tanggung jawabnya. Dialah tulang punggung keluarga kami. Jadi, disini aku juga berusaha mencari uang yang halal untuk bisa mencukupi kebutuhan Anissa.

Kucoba mencari tahu apa yang sedang dipikirkan gadis kecil itu "Anissa, dari tadi bunda perhatikan kamu merenung. Ada masalah apa? Coba ceritakan sama bunda". Gemuruh langit menambah derasnya hujan saat itu. Seketika Anissa langsung mendekap erat tubuhku "Aku merindukan ibu. Biasanya ibu memelukku, karena ia tahu aku takut gemuruh sang langit berpadu dengan derasnya hujan." Jelasnya. Kubalas dekapannya dengan penuh rasa haru "Bunda temanin Anissa tidur yah. Esok kan Anissa harus berangkat sekolah".

Pagi hari pun tiba. Kicauan burung menyambut hangat sang fajar. Semoga hari ini bersahabat, agar Anissa tidak lagi dengan kesedihannya. "Selamat pagi, bunda" Sapanya dengan sebuah kecupan di pipi. "Pagi sayang. Kamu sarapan dulu yah. Bunda persiapan dulu". Tiap pagi, aku mengantarkannya ke sekolah dengan sepeda motor yang dibelikan papa 3 tahun lalu sebagai hadiah untukku karena mendapatkan beasiswa melanjutkan kuliah. "Belajar dengan sungguh-sungguh ya sayang, jangan lupa berdoa." Ujarku padanya yang menyalim lembut tanganku. "Iya bunda. Bunda juga semangat yah menuntut ilmunya, dadah bunda.." ejeknya sambil meninggalkanku terdiam dengan senyuman kecil.

Setelah mengantar Anissa, aku buru-buru ke kampus. Karena hari ini ada kuliah pagi, dan jadwalnya sangat padat. Pagi, siang, hingga sore hari kuliahnya berlanjut terus, hanya ada istirahat sholat. Setelah mata kuliah kedua selesai, ponselku bordering.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, dengan bunda Anissa? "

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, ya saya sendiri."

"Begini bu, saya bu Sarah wali kelasnya Anissa, mengabarkan bahwa Anissa sekarang berada di UKS. Tubuhnya sangat panas, mungkin dia demam. Apa boleh ibu segera kesini?"

"Astagfirullah Anissa. Baik bu, saya segera kesana".

Saat itu juga tanpa meminta izin pada teman-teman, aku langsung ke sekolah menemui Anissa yang terbaring lemah.

"Ibu, terimakasih telah merawatnya. Saya akan membawanya ke rumah sakit sekarang." Ujarku pada bu Sarah.

Alhamdulillah setelah beberapa menit usai menelpon ambulance, mereka segera datang dan membawa kami ke rumah sakit. Sedang motor, kutitipkan di sekolah. Anissa segera dibawa ke ruang UGD, sedang diluar aku berusaha menelpon siapa saja yang dapat membantuku.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kak firman, Anissa sakit. Sekarang dia di rawat di rumah sakit. Bisakah kaka kesini?"

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Maaf dek, istri kaka sekarang mau melahirkan juga. Kaka ga boleh kemana-mana dulu. In syaa Allah kalau dede bayi sudah lahir, kaka langsung kesana dek yah."

"Baiklah kak".

Tak ada pilihan lain, aku harus beri tahu paman.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, paman. Anissa sakit, sekarang dia di rawat di rumah sakit. Bisakah paman segera pulang?"

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Iya, paman cari tiket dulu. Mungkin malam atau besok paman sampai. Tolong jaga Anissa ya"

"Iya paman. Makasih."

Tabungan yang sudah lama ku kumpulkan, alhamdulillah cukup untuk perawatan Anissa selama di rumah sakit. Ia pun di rawat tetap di kamar 217. Tapi sampai sekarang ia belum sadarkan diri. Lembayung langit seakan memberi isyarat hari mulai malam. Terdengar hentakan kaki dari luar sana berlari mendekat. Membuka pintu dengan penuh keyakinan.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh" Ucap seorang lelaki yang ternyata adalah paman.

"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Paman, Anissa belum sadarkan diri" jawabku.

Beberapa jam kemudian akhirnya Anissa siuman dan menatap hangat sang ayah yang tersenyum penuh syukur. Kami pun bergantian mendekap si gadis kecil itu. "Ayah, aku tahu ayah pasti datang. Anissa ingin segera pulang." Pernyataan yang membuat kami bingung. "Bunda, Anissa sayang banget sama bunda. Terimakasih sudah merawat Anissa sampai saat ini. Anissa pergi dulu, ibu sudah menjemput." Sambungnya. Aku pun mentalqin, juga diikutinya "Laa ilaha illallah". Matanya tertutup untuk terakhir kalinya.

Suasana hening menyelimuti ruangan saat itu, bahkan ketika kak Firman datang. Ia memelukku sambil berbisik "Kamu berhasil menjadi seorang ibu walaupun ia tidak terlahir dari rahimmu." Air mata ini tak bisa terbendung lagi, aku menangis tersedu-sedu. Aku melihat paman yang berusaha tegar walau sesekali kulihat dia menghapus air mata.

Jenazah Anissa diurus pihak rumah sakit untuk segera dipulangkan ke rumah paman yang dulu. Paman terlihat sangat sibuk mengurus pemakaman anak sematawayangnya itu, juga dibantu mama, papa, juga kerabat dekatnya. Hingga sang mayit telah dimakamkan, diri ini tak henti-hentinya menangis. Hingga paman datang menghiburku "Jangan kau bersedih. Aku yakin Anissa bahagia disana, karena hanya kematian satu-satunya jalan yang dapat mengantarkan kita menghadap Sang Pencipta." Lalu aku bertanya "Tapi mengapa paman tadi bersedih?" Dengan tegas ia menjawab "Aku bukan menangisi kepergian anak sematawayangku itu, tapi aku menangisi dosa-dosaku. Bagaimana mungkin diri ini siap pulang dengan menopang banyaknya dosa?" Aku pun langsung memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu atas jawaban dari sebuah hati yang kuat imannya.

Seminggu lamanya aku tinggal di rumah paman bersama mama, dan papa. Di hari terakhir sebelum aku kembali ke kost, kak Firman datang bersama istri dan dedek bayinya. Aku sangat senang melihat seorang bayi "Namanya siapa kak?" Tanyaku pada ka Firman. "Anissa" jawabnya. "Aku ingin dia menjadi seperti Anissa yang sangat kamu sayangi." Sambungnya lagi. "Tentu kak, dia adalah Anissa" Ujarku dengan sangat bahagia.

Keesokan harinya, aku berpamitan pulang ke kost, karena harus melanjutkan kuliah. "Mama, papa, aku pulang dulu ya. Jagalah kesehatan." Sambil merangkul mereka secara bergantian. "Paman, aku pamit yah. Nanti aku main-main kesini lagi, in syaa Allah." Pamitku pada paman. "Belajarlah dengan sungguh-sungguh" sambil mengecup keningku. Aku kembali di sebuah kost yang menjadi kenanganku bersama Anissa dulu.

Setibanya di kost, awan mulai berwarna hitam yang berarti mendung. Tak lama, hujan pun membasahi jendela kaca setelah beberapa hari tak menyapa. Aku kembali duduk di tempat yang diduduki Anissa waktu itu. Menatap lama derasnya hujan berelegikan gemuruhnya "Gemuruh langit ini menjadi saksi akan pernah hadirnya dirimu dalam kehidupanku, Anissa."

Kematian adalah sebaik-baiknya tempat kembali. Sedang Surga adalah sebaik-baiknya tempat peristirahatan. Semoga kelak kita kembali disatukan di jannah-Nya.



Kumpulan Cerpen InspiratifStories to obsess over. Discover now