Squel of Mikayla
--ooo--
"Mama!!! "Suara cempreng itu milik seorang gadis berseragam baju SMA, ia terlihat sedang duduk di kursi meja makan sambil memakai dasinya.
"Iya bentar!! "jawab seorang wanita cantik berumur 30 an dari arah tangga.
Tak lama seorang pria bertuxedo hitam menghampiri gadis yang berteriak tersebut.
"Zilla! Kamu kenapa teriak teriak? "tanya pria itu dengan nada tinggi.
"Papa apaan sih? Mama aja tuh yang geraknya kek siput, dari tadi aku tungguin buat masangin aku dasi, "jawab gadis itu kesal.
Wanita cantik itupun datang dengan terburu buru lalu dengan sigap memasang kan gadis SMA itu dasi, dan tak butuh waktu lama dasi itu sudah terpasang dengan rapi, mungkin ia sudah terbiasa memasangkan dasi suaminya setiap hari.
"Udah kan? "tanya wanita sambil tersenyum manis.
Zilla tersenyum tak ikhlas lalu dengan segera ia memudarkan senyumannya itu.
Kemudian, seorang gadis SMA seumur Zilla ingin menghampiri meja makan. Namun, langkahnya terhenti saat melihat mamanya memasangkan dasi Zilla, ia menghela nafas sambil menggelengkan kepala nya melihat kakaknya yang sudah sebesar itu masih belum bisa memasang dasi, gadis itu pun melangkah mendekati Zilla.
"Nih! Pasangin aku sepatu! "perintah Zilla sambil menodongkan sepasang sepatu nya kehadapan Kanaya.
Kanaya mengambil sepatu itu lalu bersiap jongkok. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara suaminya.
"Tunggu Kanaya! Zilla! Kamu keterlaluan! Memakai sepatupun harus mama kamu? "emosi Zidan meluap, tanpa sadar dia sudah membentak Zilla, tapi yang dilakukannya tak sepenuhnya salah, Zilla memang sudah keterlaluan, ia terlalu manja dan menganggap semua orang sebagai pembantunya.
Hati Zidan mencelos saat melihat mata Zilla menggenang, ia mendadak menyesal telah memarahi Zilla.
"Zilla! Papa-"
"Apa pa? Apa aku salah? Dia? Perempuan jalang ini sudah buat mama meninggal! Dia penyebab kematian mama! "potong Zilla cepat dengan nada sarkastik.
Kanaya menutup mulutnya, ia tak percaya jika Zilla akan mengungkit masa lalunya, sungguh bukan maksudnya untuk membunuh Mikayla, ia pun tak tau jika ini adalah akhirnya, sungguh ia menyesal.
Wajah Zidan memerah menahan emosi, ia benci masa lalunya di ungkit seperti ini apalagi pelakunya adalah anak nya sendiri, mata melototnya membuat nyali Zilla ciut bahkan menangis seolah olah dia lah yang tersakiti.
Kesabaran Zidan sudah habis, tangannya melayang menuju pipi Zilla lalu menamparnya dengan kuat membuat Kanaya maupun gadis SMA itu tergelonjak kaget.
Zilla memegang pipinya yang terasa nyeri, tangisan nya semakin menjadi tatakala ayahnya menampar dirinya didepan wanita yang dibencinya, Zilla memang sudah mengetahui yang sebenarnya dan itu membuatnya semakin membenci wanita yang sudah dianggap nya ibu selama ini ternyata dalang dari kematian ibu kandungnya.
Zilla menatap ayahnya sinis lalu dengan cepat ia menggendong tasnya yang berada diatas kursi, ia juga merampas sepatu dari tangan Kanaya dengan kasar sampai sebuah cakaran tergores sempurna di pergelangan tangan Kanaya.
Tanpa memperdulikan Kanaya yang mengaduh kesakitan, Zilla langsung melesat pergi dari sana.
"Kamu gak apa apa. Nay? "tanya Zidan khawatir. Kanaya menggeleng sambil tersenyum membuat Zidan menghela nafas lega.
"Mama serius gak apa apa, tangan mama berdarah! "ucap gadis SMA itu.
"Yura! Mama gak papa kog! "jawab Kanaya berusaha meyakinkan putrinya dengan selembut mungkin.
Yura mengangguk ragu, ia sedih dan kesal pada kakak tirinya itu karna sudah semena mena pada mamanya, dan anehnya mamanya malah tak bisa melawan atau memarahi Zilla, bahkan ia terus membela Zilla meski gadis itu yang bersalah.
--ooo--
Zilla terlihat tengah berjalan di sepanjang koridor sambil membawa bungkus jajanan yang baru saja ia beli di kantin. Namun, langkahnya terhenti saat Yura datang menghalangi jalannya.
"Apaan sih? Minggir gak? "baru saja Zilla ingin mengambil jalan lain dengan bergeser ke kanan, Yura ikut menghalangnya, Zilla bergeser ke arah kiri Yura kembali menghadangnya, Zilla menjadi kesal dibuat Yura.
"Maksud lo apa? Ngalang-ngalangin jalan gue! "ucap Zilla sarkastik.
"Kakak yang maksudnya apa? Kenapa kakak kasar banget sama mama? Ingat kak! Yang merawat dan membesarkan kakak dengan tulus itu mama, tapi ini balasan kakak? "tanya Yura tak kalah ngototnya dari Zilla, sedangkan anak yang Mikayla kandung sembilan bulan sama sekali tak menurunkan sifat Mikayla yang lembut dan kalem, melainkan ketus dan cerewet.
"Lo gak usah ikut campur! Mama lo si jalang itu udah menghancurkan hidup mama gue dia yang udah bunuh mama gue!-"
Plakk
Nafas Zilla menggebu, mata nya melotot ke arah Yura sambil memegang pipinya yang baru saja di tampar Yura, sialnya entah sejak kapan semua murid menggerbungi mereka untuk menyaksikan perdebatan kakak adik itu.
"Lo sama nyokap lo sama-sama JALANG! " rupanya Zilla masih tak kapok setelah ditampar Yura, kini emosi Yura kembali meluap bahkan hampir meledak, tangannya mengepal kuat hingga urat uratnya terlihat jelas, kemudian ia membuka tangannya yang langsung menegang, perlahan ia mengangkat tangannya, baru saja Yura ingin melayangkan tangannya kewajah Zilla. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan kekar menahan tangannya.
Mata Yura membulat sempurna saat mengetahui siapa pemilik tangan itu.
"Haikal? "gumam Yura tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Zilla menyunggingkan senyuman sinis, Yura menyadari senyuman itu namun tidak bagi Haikal sebab ia membelakangi Zilla, Yura ssmakin mendelik kesal karna Zilla meledeknya dari belakang Haikal.
"Yura? Lo apa apaan sih? Kenapa lo nampar kakak lo sendiri? "tanya Haikal.
"H-haikal aku bisa jelasin, kak Zilla duluan yang mulai, "Yura mencoba meyakinkan Haikal. Namun, tampaknya Haikal malah tak percaya. Lihatlah ia bahkan menatap mata Yura tajam membuat gadis bertubuh pendek itu meringis.
Tanpa berniat menjawab, Haikal langsung menarik tangan Zilla untuk menjauh dari sana. Tapi, sebelum itu Zilla masih sempat memeletkan lidah pada Yura.
Yura hanya bisa mendelik kesal.
--ooo--
Wuhuuyy!
Part pertama nih!
Bagus gak?
Jangan lupa di vote and comment yah!
Dikrisar juga
Kalau ceritanya bagus, follow aku
Banyak banget dah permintaan nya
Dasar aku!
Hehe 😅
Sampai ketemu lagi!
KAMU SEDANG MEMBACA
HOPE NOT
Teen FictionSquel of Mikayla "Wanita yang sudah kuanggap ibu selama ini ternyata dalang dari kehancuran hidup ibu kandungku dan dia juga penyebab kematian ibuku, dia sudah merebut cinta ibuku. Dan sekarang, akan kah masa lalu terulang lagi padaku, pria yang kuc...
