و رتل القران ترتيلا
"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan" (Q.S Al-Muzammil;4)
Suara itu mengalun merdu seiring hembusan angin mengalun ditelingaku. Perlahan dan..indah?..
Fasih. Berbeda denganku yang mengajipun masih terbata-bata. Apalah aku si pemalas belajar termasuk belajar mengaji. Jangankan berbanding dengan suara merdu itu, dengan anak tetanggaku yang berumur empat tahunpun aku masih kalah.
Suara itu masih mengalun merdu mengitari rongga telingaku. Aku berusaha mencari sumber suara itu. Semakin lama aku semakin menyukai suara itu. Saat aku mulai terlena, suara itu terhenti karena sebuah panggilan. Aku tak mendengar jelas panggilan dan percakapan setelahnya karena disaat bersamaan, abangku membuka pintu kamar dan membuyarkan pikiranku.
"Fathan, kenapa kamu belum tidur?" Tanya abangku, Fattah.
"Emm be-belum bang," entah kenapa aku menjadi kikuk mendadak. Mungkin karena perasaan kesal telah kehilangan alunan suara tadi dan bingung hendak menjawab apa.
"Kenapa?ada apa?"
"Eh nggak ada apa-apa kok bang" jawabku sembari berusaha tersenyum kikuk.
"Oh iya, Ummi tadi bilang, kalau besok kamu harus ikut abang belajar ditempat Pakde" ucapnya sambil menyimpan sebuah Al-Qur'an diatas meja belajarku.
Dan itu adalah Al-Qur'an kesembilan yang diberikan padaku. Bukan ku buang atau ku tumpuk dirak buku, tapi sengaja aku berikan pada anak-anak tetanggaku yang rajin mengaji. Aku rasa itu akan lebih berguna untuk mereka dari pada ada dikamarku sedangkan aku mengabaikannya.
Sejujurnya aku paling malas ikut pelajaran agama. Bisa dikatakan bahwa aku yang paling berbeda dari keluargaku. Meski tidak terlalu dalam menguasai ilmu agama, namun keluargaku bisa dikatakan cukup lumayan dalam menjaga masalah agama. Dan akulah yang paling minus soal itu. Bukan hanya pelajaran agama, semua pelajaran memang begitu. Aku selalu minus. Naik kelas saja sudah syukur alhamulillah. Itupun pasti bukan karena nilaiku, melainkan sikapku yang tidak terlalu nakal dikelas. Tak apa, aku tetap bersyukur meski harus naik dengan posisi terakhir. Karena bagiku sama saja, mereka yang berjuang mati-matian agar meraih juara dan aku yang santai bahkan bernilai rendah tetap naik ke kelas yang sama. Bedanya mereka berprestasi dan aku biasa saja. Karena disekolahku meliputi dua aspek penilaian. Yakni nilai dan akhlak. Jika salah satunya merah maka masih bisa diselamatkan, namun jika keduanya merah maka konsekuensinya harus tinggal dikelas yang sama, alias tidak naik kelas. Dan aku selamat. Mereka lelah belajar dan aku duduk santai tanpa beban. Mottoku "intinya naik". Itulah pemikiranku.
Dan ini kesekian kalinya Ummi menyuruhku ikut abangku belajar agama dirumah Pakde.
Aku tak menjawab ucapan abangku. Aku hanya melihatnya berjalan kearahku sambil memegang pundakku lalu berkata, "Fathan, kita ini laki-laki. Sudah sewajarnya kita belajar ilmu agama, agar kelak ketika menjadi kepala keluarga, kita bisa membimbing dan mendidik keluarga kita" ucapnya sambil tersenyum.
Aku diam.
Keluarga?aku?akan berkeluarga?sedikit perasaan bergidik ngeri mendengarnya. Bahkan aku tak pernah berfikir sampai kesitu. Yang aku tau hanya pergi ke sekolah meski hanya pergi, duduk manis tanpa mendengarkan pelajaran, lebih tepatnya melamun dan game-lah yang menemani hari-hariku setelahnya dirumah. Itulah rutinitasku yang tak berfaedah bagi orang lain namun menyenangkan bagiku. Aku pun tak mengerti.
***
Mataku sudah diambang nyata. Mengerjap-ngerjap hendak terlelap. Aku sama sekali tak memikirkan soal perintah Ummi agar besok aku ikut abangku belajar dirumah Pakde. Itulah aku, tak mau ambil pusing dengan orang lain. Padahal Ummi bukan orang lain.
Tek..tek...tek..
Terdengar suara dengkuran teratur dari jam dinding yang hanya bangun saat batrainya habis, lalu setelahnya ia akan tidur dan mendengkur teratur lagi, itulah yang menina bobokanku setiap hari. Tak merdu namun cukup menenangkan. Perlahan mataku semakin merapat.
Innal habiibal mushtofaa..
Dzhuro'fatin wa dzuaafaa..
Wa dzikruhu fiihis syifaa..
Idzaa tamaa da bil 'ilaal..
Wa dzikruhu fiihis syifaa..
Idzaa tamaa da bil 'ilaal..
Mataku terbuka seketika. Suara itu persis suara orang mengaji yang tadi membuatku mencari-cari sumbernya.
Thorot laahuu arwaahunaa..
Dzaamat bihii afroohunaa..
Dzallat bihii atroohunaa..
Fahuar rojaa'u wal amaal..
Dzallat bihii atroohunaa..
Fahuar rojaa'u wal amaal..
Aku merinding. Bulu kudukku berdiri saat mendengarnya. Seketika aku membayangkan bahwa yang bernyanyi adalah kuntilanak. Hingga wajar saja suara itu membuatku merinding dan terjaga seperti ini. Tapi suaranya indah. Aku bertanya-tanya apakah kuntilanak bisa mengaji semerdu tadi?dan bersholawat seindah tadi? Tiba-tiba aku membayangkan sesosok kuntilanak duduk mengayun-ngayunkan kakinya didahan pohon rambutan depan rumah sambil menyanyikannya. Aku bergidik ngeri membayangkan wajah seramnya. Aku menarik selimutku dan menenggelamkan diriku didalamnya. Kututup telingaku dengan bantal guling yang kupeluk erat. Perlahan suara itu menghilang.
Panas. Itulah yang kurasakan setelah beberapa menit ketakutan didalamnya. Ada sedikit rasa takut karena membayangkan wajah kuntilanak itu bernyanyi. Aku berkeringat. Hingga akhirnya aku lelah lalu terlelap dalam ketakutan.
Alam mimpipun dimulai.
Salam kenal and happy reading guys☺maaf kalo masih bnyak kekurangan..🙇
Insyaallah dengan senang hati menerima saran dan komentar😊syukron🙇😊
YOU ARE READING
Al-Fath
SpiritualKau mengubah jalanku bermuara padaNya. Dan Dia mengujiku dengan melepasmu pada yang lain. Lalu Dia kembalikan kau padaku dengan sebaik-baiknya jalan cintaNya.
