'Pagi ini pukul 06.30 WIB, ditemukan kembali mayat yang diduga korban pembunuhan. Mayat tersebut ditemukan di belakang kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah ...'
Simon menghela nafas kasar.
Ia mengambil remot televisi dan menekan tombol power off, mematikan layar besar yang ada di hadapannya. Lalu berbalik menghadapkan badan ke arah dua orang yang juga ada di ruangan yang sama dengan dirinya. Tangannya bersedekap sambil menatap dua orang itu lamat-lamat.
"Kalian itu ... nggak becus kerja, ya?" Tanya Simon yang dari nada berusaha setenang mungkin, tetapi terlihat sekali dari ekspresinya bahwa ia menyimpan emosi di dalam dada.
Simon kemudian berjalan mendekati mereka yang hanya menunduk dan menghindari tatapan sang empunya langkah. Dua srikandi tangguh yang mau tidak mau dihadapkan dengan situasi tegang di dalam ruangan. Simon menghentikan langkahnya, menundukkan kepala, menyamakan posisi, dan mencari tatapan mereka.
"Bukannya selesai, korban malah bertambah," lanjutnya. Ia menatap salah satu dari perempuan itu, lalu memanggil namanya, "Agatha." Sebut Simon.
"Memang dana pengadaan acara hanya untuk menangani kasus ini?"
Perempuan yang dipanggil Agatha hanya terdiam, tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Simon dan juga tidak menatap matanya.
"Kok nggak dijawab? Nggak bisa ngomong lo?" Sindir Simon.
"Ck." Agatha dengan beraninya berdecak malas dan terpaksa memalingkan wajahnya ke arah Simon. "Bagaimana, Pak?"
Jawabnya sambil tepat menatap ke arah atasannya, Simon, tetapi pikirannya yang dongkol berkelana. Ia bersama timnya sudah bekerja semalaman suntuk memecahkan kasus sampai rela nggak mandi, bukannya diberikan semangat biar cepat selesai. Datang-datang marah-marah adanya.
Jojo mendelik bingung. "Ehmm,tapi kan Sam,"-biasa Simon disapa. "Kita kan udah usaha sebaik mungkin. Kalaupun ada korban jatuh lagi,itu bukan sepenuhnya salah tim kita. Gerak-gerik pelaku juga selalu nggak ketebak,apalagi dia maniak. Kita kan bingungg." kata Jojo mencoba menengahi.
Tim Satgas satu,yang isinya Aga,Jojo,dan beberapa orang lainnya sedang dipusingkan dengan pelaku dibalik pembunuhan-pembunuhan yang terjadi dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ini. Entah pelakunya sama atau beda, mereka pun belum menemukan titik terang karena minimnya bukti jejak dari pelaku.
"Ya itu namanya lo semua nggak kompeten,bodoh!" cerca Simon. "Udah jalan dua bulan, korban mulai berjatuhan. Sedangkan pelaku belum juga ketangkep. Kalau korban tambah banyak gimana, ha?! Mau tanggung jawab!"
Jojo makin merunduk ke bawah,tidak berani menatap Simon.
"Ck,santai anjing!" ucap Aga akhirnya buka suara. "Emang yang pusing lo doang?! Gua juga, Jojo juga, Semua juga pusing mikirin kasus ini. Think smart, goblok!" sarkasnya mengetuk kepala dengan telunjuknya. "Dengan lo marah-marah kaya gini, nggak bakal menyelesaikan masalah."
"Nama baik Kepolisian dipertaruhkan! Kalau pelaku belum juga ketangkep dan korban tambah banyak, biaya kasus ini bakal nambah!" rahang Simon mengeras,emosinya mulai memuncak.
"Juga nama-nama lo semua yang ada disini, bakal terpampang di headline surat kabar sebagai detektif yang nggak kompeten." ucap Simon dengan tangan yang meremas data kasus. "NGERTI NGGAK SIH LO SEBENERNYA--"
"Eit eit eit, ada apani." kedatangan Jeka, teman satu tim Aga dan Jojo memang sedikit menyelamatkan. Jeka yang baru saja selesai membeli makan siang tim, tak tahu menahu soal suasana tegang Aga dan atasannya saat masuk ke kantor.
Jeka langsung meletakkan makanan tergesa dan berlari ke depan Aga untuk mencegah Simon yang ingin menampar wajah Aga dengan berkas kasus.
"Santuy santuy. Semua bisa diomongin baik-baik, hehe." tertawanya canggung, berusaha menengahi. "Nggak usah lah pakai marahan kayak gini, Sam. Nggak baik." kata Jeka dengan hati-hati menurunkan tangan Simon.
Pasalnya, bukan cuma Jojo yang takut. Jeka juga agak was-was karena kedua sikap Aga dan Simon hampir sama. Membuat mereka berdua tak mau mengalah satu sama lain. Jangan sampai mereka berkelah karena bisa saja markas besar kepolisian terbelah jadi dua hanya karena Aga dan Simon.
Simon menunurunkan tangannya. Ia menghela nafas kasar. "Ck, yaudah! Kalau gitu mau lo semua, kasus ini gua lempar ke satgas dua. Disana banyak detektif yang lebih kompeten," katanya melempar berkas ke meja. "Nggak kayak lo." ucap Simon menunjuk Aga menyindir.
Simon mengambil id card yang ada di atas meja kerjanya. Kemudian berjalan pergi dari ruangan itu untuk bicara pada ketua Tim Satgas Dua tentang pemindahan kasus Tim Satgas Satu.
Tetapi,
Bugh!
Lebih dulu Aga membalik tubuh Simon dan melayangkan satu pukulan pada wajah lelaki itu. Persetan dengan jabatan Simon sebagai atasan Aga di kantor. Ia butuh meluapkan emosinya sekarang. Dan mungkin Simon salah satu jalannya.
Memang Simon siapa?
Muncul di kantor aja nggak pernah, alasannya banyak tkp yang harus dia datangi. Tapi dia pernah kedapatan main ke tempat dewasa. Itu yang namanya kapten tim satuan tugas? Cih.
"Mau lo apa sih?!"
Aga menarik kerah baju Simon dan membenturkannya di dinding. "Emang kenapa kalau ada korban lagi??"kata Aga tepat pada muka Simon.
"Kenapa lo bilang," Simon menarik ujung bibirnya membentuk senyuman miring.
Ia terdiam menatap Aga.
Matanya beradu pandang dengan tatapan emosi Aga. Walaupun berada dalam cengkraman Aga,Simon masih sempat mengangguk-anggukkan kepalanya. "Oh, gua tau. Apa karena bokap lo pembunuh," Simon membasahi mulutnya. "kayaknya, sifat asli lo mulai keliatan."
Plak!
"Jaga omongan lo!" Aga menampar pipi Simon. "Seharusnya gua musnahin lo aja, supaya nggak ada manusia sampah kaya lo di dunia ini."
Orang-orang mulai mengintip-intip ruangan Simon mendengar kegaduhan kecil yang terjadi di dalamnya. Jeka dan Jojo pun tidak berani melerai karena kalau Aga sudah murka, dia tak memandang kawan atau lawan. Semua dia terkam.
Saat Aga ingin melayangkan pukulan keduanya,Jeka lebih dulu memegang tangan Aga. "Kalem woy, kalem." kata Jeka berbisik pelan. "Orang-orang pada ngeliatin." ucapnya kemudian.
Aga melihat ke arah pintu. Dan benar saja, orang-orang berjejer disana seakan ada pertandingan seru.
"Ck!" Aga menghempaskan tangannya.
Ia mengambil berkas kasus yang ada di meja kerja Simon dengan kasar.
Aga menatap Simon yang masih mengatur nafasnya karena baru saja dipermalukan oleh perempuan di kantornya sendiri. "Gua bersumpah, lo boleh keluarin gua dari kepolisian kalau gua nggak berhasil nangkap pelakunya."
Mata Simon melebar. Jojo dan Jeka pun saling menatap tak percaya. Juga orang-orang yang tadinya mengintip, mulai memekik pelan.
"Aga!"
"Nyed, lo gila ya?!"
"Kasih gua waktu satu bulan."
Ucap Aga kemudian membelah kerumunan yang ada di depan pintu dan meninggalkan ruangan Simon.
*
*
*
Cerita ini adalah fiktif belaka. Adanya kesamaan tokoh,nama,tempat,dll adalah rekayasa.
Sekian dan terima kasih.
ESTÁS LEYENDO
Target. (editing)
AcciónCriminals should be punished,not fed. *This story isn't real. *Ditulis dengan Bahasa Indonesia. *Kesamaan tokoh dan tempat adalah rekayasa yang dibuat untuk keberlangsungan cerita. Copyright Cover; Pinterest-Hilary Rhoda for Vamp Magazine by Bruno S...
