Sinar orange sudah sangat ketara diujung barat yang mungkin bentar lagi akan pudar. Menandakan petang akan segera datang.
Hiruk pikuk kota kembang masih betah menyelimutiku. Sejak setengah jam yang lalu, motor matic yang kutunggangi saat ini tak bergerak secentipun. Biasanya hanya butuh 20 menit untukku sampai kekosan. Tapi ini sudah setengah jam yang lalu aku masih belum dapat setengah perjalanan sama sekali.
Gedung kantor tempat ku bekerja saja masih terlihat disini. Seakan menghinaku disini. Jam jam segini memang jalanan sangat padat merayap. Apalagi hari ini weekend. Jalanan akan lebih padat dari biasanya. Jalan Sudirman didominasi mobil pribadi dan pentolan helm yang warna warni. Kalo saja aku menuruti saran Wini rekan kerjaku untuk pulang nanti saja 15 menitan lebih lambat sambil nongki-nongki dicafe samping kantor menunggu kemacetan mereda mungkin saja aku tidak terjebak disini.
Tinnnn
Bunyi klakson yang berasal dari mobil yang berada dibelakangku menembus gendang telingaku. Mobil itu sepertinya ingin aku minggir untuk memberinya jalan. Bukannya mengalah atau minggir aku lajukan motor agar semakin menghalanginya. Ku tengok ternyata pengemudi adalah emak emak.
Tingg, bunyi handphone didashboard motorku berbunyi. Kulihat ada Whatsapp dari Wini sahabat karibku dikantor.
Wini
Nyet,
Udah sampe mana???😃Rumah??
Me
Udah sampe gue dari tadi😝
Aku tertawa jahat. Rasain.
Aku mulai jengah dengan kemacetan ini. Kalo begini terus bisa subuh aku sampe kos. Kulajukan motor. Kutrobos mobil mobil didepanku. Setiap ada cela sedikit kupaksakan motorku untuk melewati. Jiwa ngoyoku sedang membara. Persimpangan jalan menuju kos semakin dekat. Lampu lalu lintas sudah nampak. Tinggal sedikit lagi. Ku gas terus tanpa ampun.
Kata orang jawa gas pol rem pol
Setelah melewati pertempuran dijalan akhirnya aku sampai juga dikos. Ku parkirkan motor ditempat parkir seperti biasanya. Aku ambil belanja bulananku yang kubeli tadi disupermarket depan sebelum memasuki area kos-kosan. Sedikit kerepotan aku membawa belanjaan. Aku berpapasan dengan Rita tetangga kos.
"Eh mba Indah, baru pulang??", aku tersenyum sambil membenahi bawaanku yang mau jatuh. Ku jawab pertanyaan Rita dengan anggukan dan kembali berjalan. Rita lebih muda 1 tahun dariku. Wajahnya tembem ngelebihi punyaku. Sedikit pendek dariku.
" Eh mba!", aku menoleh kebelakang, belum sempat aku jawab. Rita sudah kembali berucap. "Laki mba udah dateng dari tadi".
Aku tidak salah dengarkan, tidak mungkin aku jadi tuli beneran karena suara klakson mobil dijalan tadi. Atau aku yang tidak bisa menerjemahkan perkataan Rita. Kelemotan tiba tiba menyerangku dia bialang Mas Satria udah dateng. Butuh beberapa detik untukku loading. Tanpa babibu aku langsung ngancir ke kos. Aku seperti wanita yang ditinggal suaminya puluhan tahun. Seperti lagu dangdut Bang Toyib. Padahal baru seminggu yang lalu aku nggak ketemu Mas Satria.
"Makasih Rit" teriakku pada Rita yang memberi informasi penting ini.
"Iya mba" balasnya yang terdengar samar.
Jarak parkiran dengan kosku tidak terlalu jauh hanya dibatasi lima kos. Aku mempercepat langkah. Sesampai didepan pintu kos aku langsung membuka pintu yang ternyata tidak dikunci. Ku lepas sepatu dan meletakan belanjaan disamping rak sepatu. Sepintas aku melihat tas kerja dan hp Mas Satria dimeja. Ku edarkan pandangan disekeliling kamar. Kosanku memang sempit hanya terdapat kamar tidur, kamar mandi dalam, dapur kecil, dan Tv yang menyatu dengan kamar tidur. Kosong, tidak ada siapapun. Aku langkahkan kaki semakin dalam menuju dapur. Dipertengahan pembatas antara kamar tidur dan dapur suara guyuran air dari kamar mandi mulai terdengar diindra pengengarku. Syukurlah, ternyata dia sedang mandi. Kosku memang tak ada shower dengan air hangat atau bathup. Dia hanya mandi air dingin dari ember. Mas Satria memang tak pernah berkomentar tentang kosku yang cukup sederhana ini.
ESTÁS LEYENDO
IT
Ficción General"Saya terima nikah dan kawinnya Indah Kusuma Binti Rudy Kusuma dengan mas kawin tersebut dibayar tunai" suara yang lantang tanpa getar diucapkan Satria Aji Jaya tepat sebulan yang lalu -Indah
