Dengan wajah lesuh dan penampilan berantakan, Clara memasuki kafe bernama Oon's Caffe. Kenapa dinamakan seperti itu? Karena pada saat malam hari lampu R dan I nya mati. Jadi nama sebenarnya Orion's Caffe. Kembali ke Clara.
Lonceng kafe berbunyi dan seperti biasa Clara disambut oleh harumnya kopi disetiap ruangan ini. Tidak ingin berlama-lama Clara segera memesan dua Cappucino dengan tempat terpisah.
"Mas, Cappucino dua ya," ujarnya, lalu mengambil uang disakunya dan ternyata uang yang ia bawa hanya pas untuk satu Cappuccino saja.
"M-maaf mas, Cappucinonya satu aja ya," ujarnya terbata. Si barista kafe menautkan alisnya, "tapi saya sudah bikin dua mba, trus gimana dong?" protes si barista. Clara kebingungan, ia menjadi pusat perhatian sekarang. "Rey, biar gue aja yang bayar." Salah satu barista menyerahkan uang pada temannya, bukan hanya membayar satu, tetapi ia membayar dua Cappucino Clara.
Belum pernah Clara lihat barista itu dikafe ini. Barista yang bernama Rey itu pun menyerahkan Cappucino kepada Clara lalu melanjutkan tugasnya. "Makasih ya, lain kali aku bakal gantiin duit kamu," ujar Clara sambil tersenyum. "Gak perlu, dan jangan pernah lo gantiin," ujar si barista. Baru saja Clara ingin berbicara lagi tetapi ia ingat konsekuen terlambat pulang.
"Ya udah, aku balik dulu. Sekali lagi makasih ya. Bye!" Clara melambaikan tanganya lalu berlari keluar kafe dengan perasaan was was. Sampai lah didepan pintu rumahnya, dengan jantung yang berdetak kencang Clara membuka pintu dengan perlahan.
Srett..
Bugh..
"Auh..." rintih Clara karena baru saja ada yang menyeretnya lalu mendorongnya kelantai. Sudah biasa, perlakuan ini sudah menjadi sebagian dari aktivitasnya.
"Lo telat 5 detik," ujar kakak tirinya, Jessica. Clara memegangi sikunya yang memar karena terbentur lantai yang rusak.
"Ya ampun, ada apa sih sayang?" Seorang wanita tua dengan dandanan menornya menghampiri anaknya.
"Ini nih, Clara sengaja telat pulang. Mana cappucino yang aku pesen ditumpahin lagi," tuduh Jessica sambil menunjuk Clara. Jessi beralih menatap Clara. "Gak tau diri kamu! Malam ini, kamu tidur digudang dan besok jatah makan kamu saya kurangi!" ujar Jessi pada Clara.
Sudah tidak perlu kaget lagi, memang selama satu tahun setelah ayah Clara hilang ia dibabukan oleh ibu dan kakak tirinya, bahkan mereka menyiksa Clara hanya karena masalah yang sangat kecil.
'Kesabaran memang ada batasnya, tetapi aku tidak bisa berbuat apa apa walaupun kesabaran ku sudah habis'
~~~
Welcome to Cappucino. Mungkin alur cerita ini kalian bisa mengira ngira apa yang bakal terjadi dipart selanjutnya. Ya, author emang gak jago bikin alur yang beda. Semoga kalian suka sama cerita ini.
Jangan lupa vote and comment, juga follow akun ku ya. Nurulizmiyulianti
See you.
YOU ARE READING
CAPPUCCINO✔
Teen FictionCappuccino. Perpaduan sempurna antara manisnya susu dengan pahitnya expresso. Gambaran sempurna untuk hidupku yang hanya berjalan manis diawal, dan akan selalu berakhir pahit. Begitu seterusnya. Cappuccino ku tak pernah tercampur rata, susu dan expr...
