Unit apartemen berukuran empat puluh meter persegi itu terasa sesak, padahal hanya ada satu laki-laki dan satu perempuan di sana. Mereka bukan sepasang kekasih. Mereka hanya dua orang yang terjebak pada situasi sulit dan dipaksa menghadapi kenyataan.
Rania duduk di sofa merapatkan jaket jeans yang ia kenakan. Mata perempuan itu menatap lurus ke arah kaki meja yang berada di ruang tengah. Napasnya terasa berat, ia sama sekali tidak berani menatap ke arah laki-laki yang baru saja meletakan satu kaleng cola di atas meja dan duduk di sofa lain.
Aldo memperhatikan wajah Rania yang terlihat pucat. "Lo sakit?"
Butuh jeda cukup lama hingga Rania menggelengkan kepala untuk menjawab Aldo.
"Terus?"
Ditanya seperti itu, Rania tampak semakin gelisah. Kedua tangannya terus bergerak tanpa tujuan—meremas ujung jaketnya, lalu saling menggenggam erat sampai buku-buku jarinya memutih. Kakinya mengetuk lantai pelan, berhenti, lalu kembali bergerak ketika rasa gugup itu semakin sulit dikendalikan. Ia beberapa kali melirik ke arah lawan bicaranya, tetapi buru-buru mengalihkan pandangan setiap kali mata mereka hampir bertemu.
Rania menarik napas panjang, menahannya selama beberapa detik, lalu mengembuskannya perlahan. Bibirnya sempat terbuka, tetapi tak ada suara yang keluar. Ia menelan ludahnya susah payah, mengusap telapak tangannya yang mulai berkeringat pada celana, kemudian kembali meremas jemarinya sendiri. Tatapannya kosong beberapa saat, seolah sedang menyusun kalimat yang tepat di dalam kepala.
Namun, semakin ia mencoba memulainya, semakin sulit pula kata-kata itu keluar. Rania menggigit bibir bawahnya, menunduk, lalu menghela napas panjang. Ada keraguan dan ketakutan yang jelas terpancar dari wajahnya, seakan satu kalimat saja mampu mengubah segalanya.
"Ran?"
"Gue— gue gak tau harus mulai dari mana."
Suara Rania terdengar gemetar, membuat Aldo mengurungkan niat untuk menarik tuas kaleng cola, ia meletakan kembali kaleng tersebut di atas meja. Dahinya berkerut, bingung. "Lo kenapa?"
"D-do..."
"Iya, gue di sini." Mata Aldo bergerak berusaha membuat Rania menatap ke arahnya, tapi perempuan itu terus menunduk seolah tidak mau menatapnya. "Lo kenapa? Cerita aja."
Rania menelan ludahnya susah payah. "I— I don't remember..."
"Hah? Maksudnya?"
Aldo mendengus kesal karena Rania kembali hilang dalam pikirannya sendiri. Laki-laki itu akhirnya beranjak, berlutut di depan perempuan yang ia kenal satu tahun ke belakang.
Rania sedikit terkejut ketika tangan Aldo mengenggam tangannya, ia merasakan rasa hangat menjalar— tapi itu semua tidak membuatnya tenang. Tindakan Aldo membuat Rania makin gelisah dan frustrasi.
Perempuan itu beranjak, menarik tangannya kasar. Berjalan ke arah pantry yang tidak bersekat dengan ruang tengah. Tangannya gemetar menyurai rambut panjangnya ke belakang.
Aldo ikut berdiri, tapi ia tidak bertanya lagi. Lelaki itu hanya menunggu hingga Rania siap.
Rania berjalan mondar-mandir untuk beberapa detik, mengigit kuku jari-jari tangannya. Hingga beberapa saat kemudian, perempuan itu memutuskan untuk berhenti. Ia tidak lagi menyusun kalimat yang benar, ia hanya menumpahkan semua rasa gelisah dan amarahnya.
Rania berbalik, berderap ke arah Aldo dan berhenti hanya menyisahkan jarak dua langkah dari laki-laki itu. "Did you... use protection the last time?"
Aldo diam, terhenyak.
"Aldo..." Air mata Rania menggenang. "A—answer me... gue telat dua minggu. G-gue gak biasa kayak gini."
Perempuan itu menarik napas dalam-dalam melihat wajah kaku Aldo— jelas laki-laki itu terkejut. Rania pun sama, di hari ia bangun dan menyadari ada sesuatu yang janggal.
"Do... I know it wasn't planned." Air mata Rania jatuh ketika satu kalimat yang tertahan dari dua hari lalu lolos begitu saja. "I'm pregnant."
