1. Kenyataan Pahit

35.5K 1.1K 58
                                        

  Aku mendengar Gus Hilmi yang sedang bicara di telepon, mungkin yang menelepon itu adalah sahabatnya. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan sampai-sampai Gus Hilmi betah sekali berlama-lama di luar. Aku masih menunggu di kamar, menunggunya untuk sholat berjamaah. Tapi sudah setengah jam aku menunggu ternyata Gus Hilmi masih asik mengobrol dengan sahabatnya itu. Sesekali aku mendengar suara tawanya yang renyah. Dia begitu bahagia.

   Waktu Maghrib sebentar lagi akan habis, sedangkan Gus Hilmi masih saja menelepon, barangkali dia memang masih sibuk perihal pekerjaannya di kampus. Jadi, aku sholat terlebih dahulu.

   Aku mulai khusyuk dalam sholatku. Namun suara Gus Hilmi menelepon sangat terdengar nyaring di telingaku.

“Hahaha....” Dia tertawa lagi. Fokus sholat masih ku kuasai.

“Aku tentu masih menyimpan rasa padanya. Bahkan sampai saat ini. Kamu tahu, aku terpaksa menikahinya karena Umi. Jika saja Umi tak memintaku, aku tak ingin menikah dengannya.”

Deg...

   Jantungku seakan berhenti berdetak. Aliran darahku tak bisa mengalir sempurna. Tenggorokanku seakan tercekat. Mataku memanas, siap meluncurkan buliran bening sangat deras. Fokus sholat ku hilang. Rasanya, aku sudah tak tahan lagi untuk berdiri.

    beruntungnya, aku berada dalam sujud terakhir. Jadi, aku menangis dalam sujud. Lama, sampai sajadah di bagian kepala hampir penuh dengan air mata.

    Aku tergugu. Mendengar pernyataan jika suamiku masih mencintai perempuan lain, yang tak lain adalah sahabatku sendiri. Aku tahu jika aku tak pernah ia inginkan. Ia tak pernah sekalipun ingin mencoba menerimaku. Dia hanya patuh pada uminya untuk menikahi ku saja, tapi tidak untuk mencintaiku.

   Tangis ku semakin menjadi. Aku tak lagi mendengar dia bicara. Mungkin dia sudah selesai menelepon.

  Padahal malam ini, aku akan mencoba lagi membuatnya nyaman. Setelah penolakannya dimalam pertama pernikahan, akan ku coba lagi mengajaknya setelah beberapa purnama dia tak pernah sama sekali mau menyentuhku. Bahkan saat sholatpun, dia tak pernah  menyerahkan tangannya untuk ku cium.

   Terkadang aku sendiri merasa perihatin dengan keadaan. Disaat semua perempuan menikah, mereka pasti ingin bermesraan dengan suaminya. Malam pertama yang indah—yang di penuhi bunga mawar yang bertebaran di atas tempat tidur. Wangi semerbak bunga mawar seisi ruangan, begitu romantis apalagi di tambah alunan musik Arab yang begitu merdu.

    Namun semua itu hanyalah sebuah hayalan yang tak pernah sampai. Aku terlalu berharap tanpa pernah berpikir, apakah Gus Hilmi menginginkan hal itu atau tidak. Sebagai istri, aku sudah berhak atas nafkah batinnya. Aku bisa saja memintanya untuk melakukan kewajibannya. Namun, bagaimana dengannya? Bagaimana jika ia tak mau melakukan hal itu? Sedangkan menyentuhku saja dia enggan.

    Aku tak akan menyerah, aku akan tetap berada di sampingnya. Bagaimana pun caranya, aku akan berusaha untuk mendapatkan hak ku sebagai istri. Malam pertamaku, akan segera datang.

   Aku masih masih menangis. Selama berdoa, aku selalu menyebut namanya. Tak pernah sekalipun aku lupakan. Karena sebagai istri, aku tetap harus patuh padanya walau beberapa kali dia melukaiku.

   Pintu kamar terbuka, segera ku usap air mata sesaat setelah mendengar langkah kakinya. Lalu dia masuk ke kamar mandi.

    Tak lama kemudian, dia menggelar  sajadah yang sudah kusiapkan. Tanpa menoleh sama sekali. Jangankan untuk menyapa. Melihat perlakuannya yang seperti itu, seharusnya aku sudah terbiasa. Tapi, tetap saja hatiku merasakan sakit.

   Gus Hilmi selesai sholat. Aku sangat berharap jika dia akan mengajakku mengobrol. Sekadar bertanya singkat atau menyerahkan tangannya untuk ku cium. Tapi harapan, tetaplah harapan. Keinginan itu hanyalah dalam sebuah angan. Jadi, aku hanya bisa bermimpi untuk bisa bersatu dengannya.

   Kami memang sekamar, namun, kamar ini seperti tak bernyawa. Sepi, dan mati.

“Gus, aku izin, ya. Malam ini mungkin akan lama di pesantren.” Dia masih khusyuk dengan wiridnya. Lalu kulihat dia hanya menganggukkan kepala tanpa sepatah katapun.

    Adzan isya berkumandang, Gus Hilmi bangkit. Aku segera mengikutinya dari shaf belakang. Sholatpun dimulai.

***

   Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, aku memang sengaja berlama-lama di pesantren, karena aku merasa jenuh jika di dalam kamar. Aku butuh hiburan. Suami yang kuharap kan menjadi penglipur laraku sama sekali tak pernah mau mengajakku bicara.

   Jika mengingat pernikahanku dengannya, aku ingin sekali menangis. Pernikahan yang megah, berlimpah berkah, dan berlipat-lipat pahala bagi siapapun yang mengaminkan. Namun, bagaimana jika aku tak pernah di sentuhnya sama sekali?
   
   Aku berjalan menuju kamar. Lampu ruang utama sudah dimatikan. Tertanda tak ada orang diruangan itu.

“Baru pulang, Fin?” Langkahku terhenti ketika mendengar umi—ibu mertuaku menyapa. Lampu segera ku nyalakan. Kulihat umi sedang berselonjor. Matanya terpejam dengan mulut yang sedang merapalkan bacaan. Apalagi jika bukan merapalkan ayat.

   Segera ku dekati tubuhnya.

Inggih, Mi. Baru rampung ngajar,” kataku. Aku bersimpuh di lantai. Menyejajarkan tubuh dengan umi.

Jangan malem-malem. Biar lancar hamil. Gimana? Sudah ada tanda-tanda belum? umi menatapku dengan matanya yang sudah layu. Garis-garis disekitar kelopak mata sudah banyak, dengan keadaannya yang sudah sepuh seperti ini, aku tak tega jika kami menyakitinya.

   Umi begitu mengharapkan anak dari kami. Tapi anaknya tak mau mengerti akan keinginan orang tuanya. Aku harus apa? Tidak mungkin aku mengadukan hal ini pada umi dan abah. Aku tak mau mereka semakin terganggu kesehatannya.

  Aku tersenyum dipaksakan, menyembunyikan sebuah kenyataan yang tak boleh siapapun tahu. Umi tak boleh tahu jika aku dan Gus Hilmi belum pernah sama sekali malam pertama. Umi tak tahu, jika Hampir tiga bulan ini, anaknya tak pernah menyentuhku sama sekali. 

“Hehehe ... Belum, Mi. Pendongane mawon, nggeh.” ²

“Yasudah, istirahat cepet, Hilmi udah nunggu. Nanti dia kesepian ndak ada kamu.”

     Ku gigit bibir bawah pelan. Seandainya umi tahu, jika selama ini Gus Hilmi tak pernah melaksanakan kewajibannya umi pasti menangis. Meminta maaf padaku. Karena umi tahu betul bagaimana sikap dalam berumah tangga. Yang umi tahu, aku dan Gus Hilmi baik-baik saja. Di depan abah dan umi, Gus Hilmi selalu membangga-banggakan ku. Namun di belakangnya, dia menolak ku.

   Lampu kamar utama sudah padam kembali. Umi sudah masuk kamar.

   Sebelum tidur, aku mengambil air wudu terlebih dahulu.

   Kulihat wajah Gus Hilmi yang tenang dalam redupnya cahaya keemasan. Wajah putihnya semakin bersinar. Napasnya beraturan. Aku mendekat kearahnya. Memandangi wajah tampannya. Hidung mancungnya, alis tebalnya, garis wajahnya. Dan terakhir bibirnya yang indah.

  Hati ku bergetar melihat itu, tak bisa ku pungkiri jika aku ingin. Namun itu tak akan mungkin terjadi. Gus Hilmi tak akan pernah memberikannya padaku.

“Gus ... siapa wanita yang ada dalam mimpimu? Aku atau sahabatku?” Aku menyentuh puncak kepalanya, mengelusnya dan mencium keningnya sekilas. Takut dia akan bangun.

   Gus Hilmi mengubah posisi tidur. Dia membelakangi ku. Sedangkan aku hanya bisa memandang punggungnya. Air mataku kembali meleleh. Aku tak tahu harus sampai kapan menyimpan semua ini. Ingin menyerah, tapi aku tak ingin menyakiti hati umi. Apalagi aku sudah di asuh olehnya sejak kecil. Aku tak mau membuatnya kecewa. Umi sudah terlalu baik padaku.

  Umi sudah rela dengan sepenuh hati menampungku di pesantren tanpa biaya sama sekali. Untukku semua di gratiskan. Mengingat aku tak mempunyai siapa-siapa.

   Aku kembali menangis dalam petang. Mengasihani nasibku sendiri. Begitu lengkapnya penderitaan ku. Sejak kecil aku tak punya orang tua. Sampai besarpun, aku berada dalam lingkup pesantren. Aku tak mengerti dunia luar. Dan sampai menikah pun, aku merasa tak punya kebebasan. Malah, aku semakin tertekan dengan pernikahan ini. Gus Hilmi tak menginginkanku sama sekali.

***

TBC
Semoga suka dan selamat membaca
Kutunggu komentar kalian.

Tirakat Syafi'iyyah [Open PO]Stories to obsess over. Discover now