Pagi di kota Big Apple kali ini terasa sangat panas jika dibandingkan dengan beberapa bulan yang lalu. Oh iya, jangan bertanya padaku mengapa kotaku mendapat julukan Big Apple, aku tak tau pasti mengapa disebut demikian. Ku ambil kacamataku lalu ku buka jendela besar itu. Terlihat deretan pohon berbaris di taman, burung-burung berterbangan diatasnya, gedung-gedung yang menjulang tinggi dan segerombolan turis yang berjalan di seberang jalan.
"Maddie turunlah, sarapan sudah siap"
"Yeah mom, 15 menit lagi"
Setelah selesai mandi dan rutinitas pagiku aku segera turun untuk sarapan. Aku duduk di seberang wanita itu. Kuperhatikan wanita itu, aku sangat bangga padanya. Meskipun di usia yang tidak bisa dikatakan muda lagi, dia masih cekatan dalam hal apapun. Lalu dia mengambilkan jatahku.
"Maddie, hari ini egg benedict ya, jika kau mau daun bawang ambilah di lemari di dekat rak" ucapnya sambil menyodorkan sepiring egg benedict.
"Hmm, susu hangatku mana" ucapku sambil mengunyah sarapanku.
"Oh my god, aku lupa belum membelinya"
"Oh begitu, Mom hari ini aku akan pergi ke perpustakaan kota, apa kau ingin menitip sesuatu untuk dibeli?" tanyaku.
"Ehm..tidak usah nanti aku akan belanja bulanan, aku berangkat dulu dan kau jangan pulang terlalu malam." Dia mengambil tas belanjanya dan menata sedikit rambutnya yang berantakan.
"Yeahh" lalu ku antarkan dia sampai pintu.
"Oh iya" tiba-tiba dia berbalik.
"Jangan lupa pakai sunblock mu, cuaca diluar panas" ucapnya sambil tersenyum lalu mengecup rambutku.
"Aku hampir lupa dengan hal itu hkhkhkhk"
Itulah Karlina, dia sangat peduli dan perhatian denganku. Aku sangat menyayanginya. Dia sudah kuanggap seperti ibuku sendiri. Pengumuman dia memang bukan ibu kandungku, dia dulu memberitahuku saat aku masih duduk di bangku SMP. Dia berkata, bahwa dia dulu menemukanku ketika aku masih bayi. Saat itu musim dingin, Karlina yang baru pulang bekerja menemukanku di depan pintu rumahnya. Aku diletakkan di dalam keranjang dan selimut tebal yang menyelimuti tubuhku.
Awalnya aku sangat kecewa mengetahui bahwa ia bukan ibu kandungku. Tapi setelah beberapa waktu berlalu, aku mulai menerimanya kembali. Dan satu hal yang aku sesali, aku tidak tahu siapa orang tua kandungku. Kata Karlina di keranjangku hanya terdapat sebuah kalung dengan liontin huruf "M" dan sepucuk surat. Liontin itu tidak besar juga tidak terlalu kecil. Di salah satu sisinya terdapat goresan. Isi surat itu menyatakan permintaan maaf dan permintaan tolong untuk merawatku, di pojok bawah surat itu terdapat stempel berwarna biru pudar dan sebuah tulisan yang tidak begitu jelas.
_______________
Setelah beberapa menit, aku pergi menuju perpustakaan. Tidak lupa dengan memakai sunblock, cardigan dan ransel. Aku berjalan melewati taman-taman. Sesekali ku melihat sepasang remaja seusiaku duduk berdua di bangku taman. Aku tersenyum melihatnya lalu aku berpikir,
"Mungkin memang benar adanya, tentang pernyataan cinta dan bodoh itu beda tipis, ada-ada saja di siang yang terik ini mereka hanya duduk diam di luar ruangan, kurasa otak mereka mencair hkhkhkhk"
Setelah beberapa belokan, akhirnya aku sampai di perpustakaan. Ini adalah tempat favoritku yang selalu aku kunjungi saat libur sekolah dan yah apalagi saat libur musim panas. Kadang aku bisa sampai berjam-jam duduk berdiam di tempat ini, hanya karena sedang bersemangat membaca. Dan hal lain yang mebuatku betah di tempat ini adalah tempatnya yang luas, kursi yang empuk, dengan senderan yang memanjakan punggungku dan jangan lupa kau harus menggaris bawahi, suasana yang sangat tenang.
