Huhuhu.. Maaf ya, sempat ku unpublish. Karena dilema, antara mau lanjut bikin cerita apa ngga. Soalnya ini cerita pertamaku di sini. Semoga tidak dihujat karena ketidak-nyambungan dan typo yang bertebaran. Wkwkw.
Happy reading..
Pagi yang ditunggu-tunggu kini telah tiba. Waktu dimana kelulusan akan diumumkan. Walaupun aku bersekolah di sebuah sekolahan swasta dan masih berada di kawasan pondok, tapi aku masih bersyukur bisa melanjutkan sekolah sampai sejauh ini. Karena aku sadar, aku hanyalah seseorang yang berasal dari golongan yang tidak mampu. Bapakku hanyalah buruh tani harian sedangkan ibuku hanyalah seorang penjual gorengan keliling. Tapi, aku sungguh menyayangi mereka dengan sepenuh hatiku.
"Eh... Aku deg-degan nih, Na." Kata Tata padaku dengan ekspresi takut.
Tata adalah sahabat baikku sejak masuk sekolah dasar dulu. Hingga kini pun dia menjadi sahabatku. Bahkan mungkin sahabat sampai jannahku. Dia orangnya baik, cantik dan juga pintar. Tapi , yang disayangkan dari dia adalah sifat lebaynya yang minta ampun dan juga dia belum berhijab sepenuhnya. Hanya di area sekolah saja dia berhijab, selainnya tidak. Aku berharap, suatu saat nanti dia akan berhijab hingga dia akan benar-benar menjadi sahabat sampai jannahku. Aamiin.
"Eh, Na? Kok malah senyam senyum sendiri sih? Temennya lagi deg-degan juga." Protesnya sebel.
"Habisnya kamu lucu sih. Masak ada orang deg-degan tapi makan mulu dari tadi." Aku tersenyum.
"Ih! Nyemil itu bisa ngilangin deg-degan tau!"
"Hmm... Gitu ya..?? Ya udah, terusin aja makannya. Biar hilang tuh semua deg-deganmu." Aku meliriknya tersenyum.
"Ih! Dasar ah!" Tata cemberut lagi.
"Hahaha.. Iya iya. Maaf ya? Jangan cemberut lagi. Jelek tau!"
Tatapun tersenyum. Huft... Sebenarnya aku iri dengan Tata. Setelah lulus nanti dia masih bisa melanjutkan sekolah dimanapun dia mau tanpa perlu memikirkan biaya. Sedangkan aku? Mungkin ini adalah tingkat pendidikan tertinggiku. Aku tidak akan bisa melanjutkan sekolah lebih tinggi lagi. Bahkan mungkin aku hanya akan menjadi penjual gorengan keliling seperti ibuku. Aku akan menggantikannya. Karena bagaimanapun ibuku sudah tua. Kasihan jika masih harus terus-terusan berkeliling untuk menjajakan gorengan.
Aku memang sepesimis itu.
Teeettt... Teeettt... Teeettt...
Bel masuk sudah berbunyi. Pertanda surat kelulusan akan segera dibagikan.
"Ya ampun... Ya ampun.. Na. Udah bel, ya? Aduh!! Tambah dag dig dug serr nih jantungku, Na." Heboh Tata dengan mempertahankan tingkahnya yang tidak bisa diam.
"Udah... Biasa aja, Ta. Baca sholawat yang banyak." Aku menarik lengan Tata untuk masuk kelas.
Semua siswa kelas XII masuk dan Pak Ramli pun masuk. Beliau adalah wali kelas kami. Jadi, beliaulah yang akan membagikan surat pernyataan kelulusan serta mengumumkan juara umum.
"Assalamualaikum anak-anak." Pak Ramli pun memulainya dengan salam, dan dengan serempak seisi kelas menjawab salam beliau.
"Anak-anak, mungkin hari ini adalah hari yang sangat kalian tunggu-tunggu. Tapi, sebelum saya menyerahkan surat kelulusan ini dan mengumumkan juara umumnya, Bapak ingin tanya dulu. Siapa dari kalian yang tidak akan melanjutkan ke perguruan tinggi? Coba angkat tangannya!"
Pertanyaan Pak Ramli sungguh membuat hatiku teriris. Namun, bagaimana lagi? Mau tidak mau, aku harus mengakui bahwa hanya akulah dari dua puluh enam siswa kelas ini yang tidak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
"Saya, Pak." Jawabku lirih sambil mengacungkan tangan kananku.
"Nabila? Kamu tidak mau melanjutkan ke perguruan tinggi?" Pak Ramli sepertinya kaget.
"Iya, Pak." Jawabku tetap lirih.
"Kenapa kamu tidak mau melanjutkan sekolah, Nabila? Apa kamu tidak sayang dengan segala prestasi dan kemampuan kamu?"
Pak Ramli menanyakan sebuah pertanyaan yang sulit untuk ku jawab. Ya, sulit. Bukan karena aku gengsi untuk menjawabnya. Hanya saja, Akh... Sulit untuk ku jelaskan kenyataan ini.
"Ya sudah, kalau kamu tidak mau menjawab di sini. Nanti Bapak tunggu kamu di ruangan Bapak."
Mungkin karena melihatku terdiam tanpa suara, akhirnya Pak Ramli mengalah.
Selang beberapa detik setelah aku mengangguk, Pak Ramli melanjutkan sesi pengumuman untuk kelulusan hari ini. Tata yang berada di sampingku masih saja mengoceh ini dan itu. Aku hanya membalas dengan anggukan seadanya. Sesekali dia meremas jari-jariku. Ku lirik dia, sungguh aku beruntung mempunyai sahabat seperti dia. Bukan hanya cantik dan pintar, namun dia sungguh sangat baik. Setelah ini, mungkin aku akan selalu merindukannya. Karena aku pernah mendengar kalau dia akan pindah ke Jakarta -tepatnya ke rumah bibinya- untuk melanjutkan sekolahnya di sana. Dia akan mengejar cita-citanya di sana.
"Tata, selamanya kamu akan menjadi sahabat terbaikku." Batinku.
"Apaan sih, Na. Liat-liat mulu dari tadi? Jangan bilang kalau kamu lagi baca mantra biar aku tetep ada di urutan kedua setelah kamu." Celetuknya dengan nada serius yang dibuat-buat.
"Hahaha.. Apaan sih kamu ini. Ada-ada aja. Aku bukan dukun tau." Aku mencubit lengannya pelan.
Akhirnya Pak Ramli menyebut namaku untuk yang kesekian kalinya sebagi juara pertama. Untuk kali pertamanya aku tidak merasakan kebahagiaan sama sekali. Malah mungkin sebaliknya.
"Nah... Benar, kan? Apa aku bilang? Pasti yang juara pertama itu kamu. Ah.. Nabila.. Kenapa kamu tidak mengalah saja untuk kali ini?" Ucap Tata mengeluh.
"Ya sudah, ambil sana juara satunya gih!." Ucapku tak bersemangat.
"Yah.. Gitu aja kamu ngambek, Na. Aku kan cuma bercanda."
"Hahaha. Iya, Ta. Aku tau. Aku juga bercanda kok. Tenang aja." Aku mengukir senyum sebisaku.
Aku tau, Tata tidak serius dengan ucapannya. Aku tak bersemangat bukan karena Tata, tapi untuk apa aku selalu juara pertama, jika pada akhirnya ijazahku akan tersimpan di lemari tanpa digunakan untuk apa-apa.
Ya Allah, tolong jangan biarkan hari hambaMu ini selalu mengeluh dengan segala kekurangan yang hamba miliki. kokohkanlah dinding kesabaran hamba. Hamba tau dan mengerti, bahwa Engkau memberikan semua kekurangan ini karena Engkaulah yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hamba. Engkau tidak akan memberikan suatu cobaan yang tidak mungkin hamba bisa untuk memikulnya.
Btw, aku memilih untuk melanjutkan ceritaku hanya untuk mengisi malam insomku, juga untuk menyembuhkan kecanduanku terhadap game online dan menyembuhkan hatiku🙃. So, semangat buat yg sedang dalam masa penyembuhan juga. Apapun itu.🙂
STAI LEGGENDO
Cinta dan Takdir
Storie d'amoreAllah itu Maha Romantis. Jadi, ikuti saja alurnya dengan sepenuhnya mencurahkan rasa cinta kita kepada Allah. Maka Allah akan memberikan hal termanis dalam hidup yang bahkan tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
