Bab 1 sebelum segalanya berubah

0 0 0
                                        


Hari pertama MPLS selalu dipenuhi wajah-wajah asing.

Di antara ratusan siswa baru yang berdiri di lapangan SMA Arunika, aku hanyalah satu dari sekian banyak murid yang berharap tidak menjadi pusat perhatian.

Namaku Farel Adikara.

Hari itu, aku hanya berpikir tentang bagaimana caranya melewati masa orientasi tanpa membuat kesalahan.

Aku sama sekali tidak menyangka...

bahwa langkah pertamaku melewati gerbang sekolah ini akan mengubah seluruh hidupku.

Gerbang SMA Arunika berdiri megah dengan dua pilar batu berukir motif Nusantara. Tepat di atasnya terpampang lambang Yayasan Bumi Laras, sementara sebuah kalimat terpahat rapi di bawahnya.

Menjaga lebih mulia daripada memiliki.

Aku sempat membacanya pelan.

"Aneh juga..."

Biasanya sekolah memasang slogan tentang prestasi atau disiplin.

Namun sekolah ini justru berbicara tentang menjaga.

Aku mengangkat bahu.

Mungkin hanya slogan biasa.

Aku pun melangkah masuk.

Bangunan sekolah terlihat modern, tetapi hampir di setiap sudutnya terdapat sentuhan budaya Indonesia. Pilar-pilar kayu dipenuhi ukiran khas Nusantara, taman dipenuhi tanaman endemik, dan di tengah halaman berdiri pohon beringin besar yang menaungi lapangan upacara.

Untuk ukuran sekolah swasta, tempat ini terasa sangat berbeda.

Peluit panjang terdengar.

Seluruh siswa baru segera berbaris.

Aku memilih berdiri di barisan paling belakang.

Lebih aman.

Aku memang tidak pernah pandai memulai percakapan dengan orang asing.

Di depan lapangan, seorang kakak OSIS laki-laki melangkah membawa mikrofon.

Posturnya tegap.

Tatapannya tenang.

Ia tidak berbicara keras, tetapi entah bagaimana seluruh lapangan langsung hening saat suaranya terdengar.

"Selamat pagi, adik-adik."

Hanya empat kata.

Namun cukup membuat ratusan siswa memperhatikannya.

Aku tidak mengenalnya.

Tetapi semua kakak OSIS tampak menghormatinya.

Mungkin dia ketua OSIS.

Tak jauh dari podium, seorang siswi berlari kecil membantu murid yang hampir pingsan karena kepanasan. Gerakannya cekatan, seolah sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Di sisi lain lapangan, seorang siswa turun dari mobil hitam mewah yang baru berhenti di depan gerbang. Ia berjalan santai sambil memasukkan kedua tangan ke saku, seolah tidak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya.

Beberapa meter dariku, seorang laki-laki lain tanpa sengaja-atau mungkin sengaja-menyenggol bahuku cukup keras saat berpindah barisan.

"Eh, maaf."

Nada suaranya terdengar datar.

Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung pergi.

Aku hanya menghela napas pelan.

Sementara itu, di barisan sebelah, seorang siswi dengan senyum paling cerah tampak mengobrol dengan hampir semua orang di sekitarnya. Tawanya terdengar paling keras di antara keramaian pagi itu.

Nyawa kesembilan Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang