[1] A K U

18 1 0
                                        

Bolehkah aku memanggil diriku adalah bunga ?

Jika keberadaan ku tak pernah menjadi hiasan.
Terkadang aku iri pada mawar , melati dan kamboja.. yang selalu dirawat dan dijaga.
Tapi keberadaanku yang tak diinginkan dan selalu disepelekan.
Aku disingirkan dan dikira tumbuhan inang.
Maka tak heran jika aku lebih nyaman hidup bersama para ilalang.
Sendiri , lalu diam-diam menghilang.
DANDELION !!!
***

Begitulah aku menggambarkan diriku

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Begitulah aku menggambarkan diriku.
Aku Dandelia Putri, mahasiswi semester 2 fakultas ekonomi Universitas Diponegoro.

Bagai bunga dandelion, hidupku begitu keras.
Bunga dandelion yang hanya hidup beberapa minggu, setelah mengering...
Tinggalah biji bunga yang pasrah kepada angin yang akan membawanya terbang, terjatuh dan tumbuh menjadi tumbuhan baru ditempat yang baru.

Aku anak asuh sebuah panti asuhan di daerah Surabaya, setahun yang lalu aku memutuskan keluar dari panti, mengikuti tes beasiswa di Semarang dan bertekad untuk hidup mandiri.

Terlihat rapuh, tapi dandelion adalah bunga paling kuat. Sekencang apapun angin badai tak menghalanginya untuk hidup.
Begitu juga Aku..
Dandelion adalah bunga terikhlas, selalu dipandang sebelah mata oleh manusia tapi tetap tegak menunjukkan indah bunganya.
Begitu juga Aku..

Dandelion DandeliaWhere stories live. Discover now