Sebelum rumah itu belajar memilih, Alena pernah menjadi anak yang paling berisik di dalamnya.
Ia berlari di lorong marmer dengan kaki kecil tanpa alas, tertawa ketika gaunnya tersangkut kaki meja, lalu menangis keras hanya karena pita rambutnya miring sedikit. Setiap kali itu terjadi, ibunya akan muncul dari ruang keluarga dengan wajah pura-pura lelah.
"Alena Davies," panggil Arleta, ibunya, dengan nada dibuat tegas. "Berapa kali Ibu bilang jangan lari di dalam rumah?"
Alena berhenti, menoleh, lalu membuka kedua tangannya.
"Mau peluk."
Arleta selalu kalah pada dua kata itu.
Ia akan berjongkok, membiarkan putri bungsunya menabrak tubuhnya, lalu memeluknya erat-erat sampai Alena terkikik geli. Di rumah besar yang terlalu rapi itu, Alena adalah satu-satunya kekacauan yang dibiarkan tumbuh. Ia menaruh boneka di sofa mahal, menyelipkan krayon di antara buku bisnis ayahnya, dan pernah menggambar matahari dengan wajah tersenyum di balik dokumen kerja milik Dimitrio Davies.
Ayahnya tidak marah. Dimitrio hanya mengangkat kertas itu, memandangi coretan kuning yang memenuhi halaman, lalu tertawa kecil.
"Ini apa?"
"Matahari," jawab Alena bangga.
"Kenapa matanya besar sekali?"
"Supaya bisa lihat Lena."
Dimitrio terdiam sejenak, kemudian mengangkat tubuh mungil itu ke pangkuannya.
"Kalau begitu, Ayah harus simpan ini." Dan benar saja, gambar itu ditempel di dinding ruang kerjanya selama berbulan-bulan.
Saat itu, Alena percaya bahwa cinta adalah sesuatu yang tidak perlu diminta dua kali. Ia percaya pelukan selalu tersedia, panggilan selalu dijawab, dan jika ia menangis, seseorang pasti datang.
Seraphina, kakaknya, berbeda.
Ia lebih tenang, lebih lembut, lebih mudah mengalah. Jika Alena menangis karena ingin duduk di samping ayah saat makan malam, Seraphina akan tersenyum dan bergeser. "Tidak apa-apa, Lena di sini saja. Kak Sera duduk sebelah Ibu."
Jika Alena ingin boneka yang sama dengannya, Seraphina akan menyerahkan boneka itu lebih dulu. "Ambil saja. Kakak bisa main yang lain."
Arleta sering mengusap kepala Seraphina sambil berkata, "Sera memang anak baik."
Seraphina akan tersenyum malu. Senyum kecil, manis, dan hampir selalu membuat orang dewasa di ruangan itu melunak.
Alena menyayangi kakaknya. Baginya, Seraphina adalah orang yang paling cantik di rumah. Rambutnya panjang dan hitam, kulitnya pucat seperti boneka porselen, dan suaranya selalu pelan seolah takut memecahkan sesuatu.
Jika Alena adalah percikan api, Seraphina adalah cahaya lilin yang dijaga kedua telapak tangan.
Namun ketika usia Seraphina menginjak delapan tahun, lilin itu mulai sering berkedip.
Mula-mula hanya batuk kecil. Lalu napas yang tersengal setelah menaiki tangga. Lalu suatu pagi, Seraphina jatuh di ruang makan. Gelas susu pecah di lantai. Alena, yang saat itu berusia enam tahun, hanya mengingat suara ibunya menjerit.
Setelah hari itu, rumah mereka berubah.
Dokter datang lebih sering daripada tamu. Aroma sup hangat tergantikan oleh bau obat. Tirai kamar Seraphina lebih sering ditutup. Ayahnya pulang lebih awal, tetapi bukan untuk menggendong Alena; ia langsung menuju kamar Seraphina dengan wajah tegang.
Alena duduk di ujung tangga, memeluk lutut.
Ia menunggu.
Satu jam.
BINABASA MO ANG
The Shadow Beside The Sun
General FictionIa tumbuh sebagai bayangan di samping matahari-selalu dekat, namun tak pernah benar-benar terlihat. Dan ketika bayangan itu lenyap, yang tersisa hanyalah cinta, kehilangan, dan penyesalan yang datang terlambat.
