12 MARCH 2016 AGO.
"Dasar pembunuh!"
"Pergi kamu dari sini, kamu ga pantas tinggal satu rumah dengan saya!"
Bagaikan tersambar petir disiang bolong hatiku terasa sangat hancur oleh perkataan kedua orang tua ku tak kusangka mereka berkata sekasar itu kepada ku, apa aku seperti seorang pembunuh dimata mereka? Insiden itu hanya kecelakaan tapi kenapa mereka mengatas namaiku atas kecelakaan itu
"Pah mah sekotor itukah angel dimata kalian" bibirku bergetar hebat kata kata ini sungguh memohok hati ku
"Jangan sebut saya papah kamu, saya tidak sudi menganggap kamu sebagai anak!"
"Pergi kamu dari rumah saya! Mulai sekarang jangan pernah menginjakkan kaki kamu dirumah saya!"
papahku melemparkan sebuah koper dan uang yang ia lempar ke arah wajah ku semuanya berserakan di halaman depan rumahku
Brak!
Suara pintu yang ditutup sangat kasar membuatku sangat terkejut begitupun hatiku bagaimana bisa orang yang sangat berharga bagi hidupku berkata dan bertindak sekasar itu
Aku terus berjalan tak tau kemana tujuan ku insiden tadi masih tergiang dikepalaku air mata terus membasahi pipiku, dengan sebuah koper yang terus menemaniku kemana kaki ku melangkah
Aku memutus kan untuk membeli apartemen dengan uang tabungan ku dan kartu kredit yang kakek beri semasa beliau masih hidup aku juga menempati cafe yang kakek beri padaku agar aku belajar berbisnis
Mengingat kakek ku aku kembali menanggis dan teringat hari sebelum kakek ku meninggal
•••
"Haha kakek kalah mulu main nya angel mulu yang menang kan angel bosen"
"Wah wah cucu kakek nakal ya awas saja kakek akan membalas kamu"
Aku sedang bermain bola di taman belakang milik keluarga dawson bersama kakek ku
Aku pun menendang pelan bola ke arah kakek ku dan bolanya tidak tepat pada sasaran melain kan terkena dada kakekku aku terkejut karna kakek ku terkena penyakit jantung dan sangat sensitive jika tersentuh sedikit pun tiba tiba aku mendengar kakek ku meringis kesakitan
"Ah...aaaa" kakek ku memenegang ditempat sambil meremas dadanya dan merintih menahan sakit
Setelah itu kakek ku terjatuh dan tak sadarkan diri ayahku yang melihat kejadian itu langsung panik dan membawa ke rumah sakit aku dilarang ikut oleh ayah ku dan aku hanya menunggu dirumah seorang diri aku sangat takut panik dan sedih
Setelah berjam jam lamanya ibu dan adikku pulang
"Ibu bagaimana dengan kakek"
Plakk!
"Jangan sebut saya ibu kamu!"
Pipiku memanas hatiku sangat sakit aku sangat tidak mengerti kenapa ibuku menamparku, percayalah orang yang menampar wajah seseorang bukan wajah yang tertampar melainkan hatinya
"Kakek meninggal" ucap adikku yang kini menatap ku dengan tatap penuh kebencian
Aku diam seribu bahasa semua nya seakan berhenti seketika makian yang ibu dan adik ku berikan tiba tiba tak terdengar semua nya telingaku menuli seketika pandanganku kabur badanku kaku hati ku sungguh hancur sehancur hancurnya aku terjatuh dan menanggis tersedu sedu
Setelah kejadian itu keseharian ku mulai kelam aku tidak dianggap oleh keluarga ku, aku merasa sangat kesepian tapi, aku sangat bersyukur ada kakak ku yang selalu mendukung dan menemaniku
Tapi semuanya kembali kelam setelah papah ku memindahkan kakak ku ke amerika untuk melanjutkan sekolah nya disana
•••
Aku pun bangun dari kesedihan ku dan mulai merapihkan apartmen ku mulai dari memasukan baju kedalam lemari menyapu dan juga membeli persediaan makanan aku harus buang jauh jauh sikap manja ku dan mulai saat ini aku akan menjadi gadis mandiri yang kakek ku ingin kan
Akupun mulai tersadar bahwa menanggis tidak akan membuatku menjadi yang lebih baik aku mulai keluar dari keterpurukan mulai membiasakan diri terbiasa oleh semuanya mulai memendam dalam dalam kenangan pahit ini dan membuka lembaran baru
~
HAPPY READING
SENGAJA DI PENDEKIN KARNA MASIH AWAL❤
VOUS LISEZ
The Dangerous Boy
Roman pour AdolescentsSama sama gelap dan sama sama dingin saling membutuh kan kehangatan dan kasih sayang satu sama lain hidup yang hampa kelam dan gelap jauh dari cinta dan kasih sayang, itu aku dan dia bedanya dia pemaksa dan misterius dan aku hanya gadis lemah yang h...
