-Prolog

24 4 2
                                        


Kini, disinilah Ulya berdiri, diruangan bernuansa mewah yang dipenuhi buku-buku dan berkas penting disetiap raknya, kakinya menjulur kaku, tubuhnya menggigil dingin, ulya membetulkan letak poninya yang tampak acak acakan akibat bangun tidur.

Jam dinding telah menunjukkan pukul 00:05 wib , namun keadaan tak memperbolehkannya untuk segera beranjak dari ruangan yang baginya bagaikan ruang pengadilan yang menyesakkan.

"bagaimana mungkin nilaimu anjlok begini?" tanya papi ulya -agus wijaya- dengan pandangan datar dan dagu agak diangkat satu gertakan cepat, tangan kanannya memegang buku laporan siswa, yang dibagian sampulnya bertuliskan nama MAFAZATUL ULYA .

"cuman beda satu dari semester lalu pi" ucap ulya pelan. Tak berani ia berkata tegas bagaikan saat ia berada didepan ruang kelas untuk mempresentasikan hasil pengamatan biologi.
Karna sekarang ia berada didepan Agus Wijaya, papi yang begitu diseganinya.

"tapi ini sangat berpengaruh bagi kesuksesan kamu!! Mau ditaruh dimana muka papi, hah?" papi sudah mulai mengangkat suaranya, namun sayang, hal itu tak berhasil membuat ulya menciut.

"kan ulya masih diposisi juara kelas! Bahkan juara umum! "
Bantah ulya seraya mengangkat wajah dari tundukannya.

"apa? Kamu cuma mengandalkan hal itu?--"
Belum habis papi mengeluarkan ucapannya, ulya segera menyaut.

"bagaimana mungkin nilai ulya akan meningkat kalau nyatanya papi gak pernah ada wakti buat ulya!! Dan..."
Ucapannya terpotong disebabkan isakan tangis yang kian menyerang. Air matanya terlanjur mengalir deras, bahkan lengan baju tidurnya kini ia gunakan sebagai pembasmi agar air matanya tak tumpah.

Dengan sigap ia segera bangun, satu gertakan kakinya berhasil menimbulkan satu suara yang menggema hebat.

Ia berlari menelusuri ruangan ruangan gelap dan menuju satu pintu yang bercat putih.

Agus wijaya yang melihat aksi putrinya langsung memanggil mangil namanya, namun tak kunjung ada jawaban, karna memang kini ulya telah hilang dibalik pintu kamarnya.

Pria itu hanya mendengus kesal, jarinya menggosok ubun-ubun.
Kemudian ia kembali hanyut dengan berkas berkas yang telah berceceran diatas meja.


Kali ini serius😁❤
Kalau ingin lebih kenal aku bisa cek ig @dewiagustina02_ .
Semangaaaaatt...


EnyahWhere stories live. Discover now