1

5.9K 292 9
                                        

Drupadi Ayudya Pandhita. Wanita yang terlahir pada hari Wage di tahun 1993 dari seorang ibu berdarah biru dan bapak seorang priyai yang keduanya adalah orang Jawa tulen. Meskipun tidak memiliki nama Raden, Drupadi tetap dibesarkan dalam lingkungan yang serba beretiket ningrat. Tradisi tetap dipegang kokoh oleh sanak keluarganya. Sekarang Drupadi adalah seorang dokter hewan di rumah sakit provinsi. Sebagai perempuan modern, Drupadi yang baru berusia 26 tahun itu telah mengenyam pendidikan hingga ke luar negeri.

Sebagaimana mestinya, setiap perempuan ningrat akan dicarikan calon suami oleh keluarganya yang masih lagi berketurunan bangsawan. Sore ini, Drupadi akan secara perdana bertemu dengan laki-laki yang dipilihkan keluarganya. Maka, sebelum itu ia datang ke Pura, memanjatkan doa supaya tak kecewa pada pilihan keluarga. Perempuan itu menyalakan dupa di hadapannya. "Om Ang dupam samarpayami ya namah svaha," bisiknya.

Sesekali angin menerbangkan rambut sebahunya. Jantungnya berdegup tidak tenang, padahal pura yang ia kunjungi sedang sepi. Ia panjatkan doa untuk kelimakalinya, "Semoga calon suamiku bijaksana, gagah, tampan, jujur, dan setia."

Bunga di sela-sela telinganya mempercantik wajah ayu itu. Membuka mata perlahan, mengerjap sekali, lalu menutup ritual doanya. Ia berjalan lunglai menuju pelataran parkir. Setelah duduk sebentar di balik kemudi, perempuan itu lantas menghidupkan mobil putihnya menuju Royal Ambarrukmo, tempat yang telah dijanjikan tiga hari lalu untuk pertemuan sore ini. Ia memacu mobilnya kencang, sebab rasanya ia telah terlambat lima belas menit. Pertemuan pertama ini, tidak boleh membuat kesan keluarganya menjadi buruk.

***

Terbangun dari tidurnya. Drupadi menyadari ada sosok lain di balik selimut putih yang ia kenakan. Tubuhnya terasa hangat oleh pelukan tubuh lain. Oh tidak! Siapa gerangan yang berani melakukan hal tidak senonoh kepada Drupadi yang terhormat. Merasa tubuh sang wanita bergerak, sosok lain itu membuka matanya dan mengeratkan pelukan pada tubuh Drupadi yang tak berpakaian.

"Siapa kamu?!" hardik Drupadi sembari mendorong dada lelaki yang berbaring di sampingnya.

Lelaki itu mengerjapkan matanya. Rambut sepunggungnya yang tebal terurai indah menghiasi tubuh kekar berkulit coklat terang. Tidak. Kacau sekali, siapa laki-laki ini? Mengapa berpenampilan aneh? Ia malah tersenyum manis menyilaukan, jika saja bukan begini situasinya, Drupadi akan memilih untuk melongo sekejap.

"Kau terbangun? Apakah kau bermimpi buruk, Panchali?"

Drupadi terperangah. Apa yang terjadi dengan dunia ini? Lelaki dengan wajah tak bersalah itu malah mempererat pelukannya. Sekuat apa pun Drupadi mendorong, tenaganya tidaklah sebanding dengan lelaki di hadapannya.

"Kutanya siapa kamu?!" teriak Drupadi masih berontak dalam pelukannya.

Lelaki itu segera melepas wanita dalam pelukannya. Ia bangun untuk duduk di samping ranjang dan mengikat rambut panjangnya. "Tentu saja aku Arjuna, suamimu. Apa kau melupakanku?" tanyanya lembut.

Bau mewah manis melayang di udara. Drupadi merasa menggigil di seluruh tulang sumsumnya. "Suami? Kamu bilang kamu suamiku? Aku belum pernah menikah!"

Lelaki itu mengernyitkan dahinya. "Apa semalam kau bermimipi buruk? Kita sudah lama menikah," jawabnya tenang.

Suara pakaian dikibarkan mengiris udara yang kosong. Kain-kain panjang berwarna merah gelap berpadu dengan sutra coklat yang mewah beradu dalam satu genggaman.

Drupadi diam. Ia menatap sekeliling, ruangan yang tidak terlalu besar itu terbuat dari kayu tebal yang diserut rapi. Didekorasi oleh tulisan-tulisan kuno. Di atas meja terdapat poci perunggu yang terlihat antik. Ia menoleh lagi pada lelaki yang kini telah selesai berpakaian. Ia bahkan baru menyadari bahwa lelaki di hadapannya menggunakan aksen yang aneh ketika berbicara. Namun, Drupadi seolah terbiasa mendengarnya, bahkan ia mengatakan beberapa kalimat dengan aksen yang sama.

A Tale Of True Love (Selesai)Stories to obsess over. Discover now