"Hallo kim. Kamu di mana ? Liputan acara Kantor Kadin sekarang yah" Suara pria tua dari balik gawaiku membuatku bingung sekaligus resah untuk menolak perintahnya.
" Ta, ta pi pak saya ada jadwal kuliah hari i" tuuutt tuutt tuuttt. Telpon terputus.
Kimi yang belum selesai bicara itu langsung menatap kesal layar handphonenya.
"Ah. Gimana sih. Kan ada jadwal kuliah. Malah di suruh liputan lagi !" Kimi mengkerutkan alisnya.
Awalnya, kimi sangat senang bisa terjun di dunia jurnalis, apalagi, itu adalah salah satu cita-cita yang ia impikan. Dulu, sewaktu masih semester 1 di jurusan jurnalistik Universitas Gadjah mada atau biasa di singkat UGM, ia sangat antusias melakoni jurusannya itu. Ia rajin menulis, membaca hingga sering belajar menjadi seorang presenter di depan cermin kamar mandi kosannya.
Ia sangat penasaran seperti apa rasanya menjadi wartawan yang pekerjaan terkenal menantang. Bahkan, ia pernah nekad membawa surat magang yang di buatnya sendiri ke salah satu kantor redaksi berita. Tanpa rasa malu, ia memohon kepada pimpinan redaksi di kantor tersebut untuk menerimanya kerja sebagai wartawan. Ia rela tak di gaji asal bisa diterima di tempat itu.
Tapi, takdir berkata lain, mungkin tuhan menyuruh kimi untuk belajar terlebih dahulu, karena mungkin kelak dunia akan tahu kalau ilmu yang dimiliki kimi itu sangat mahal.
Setelah dari penolakan itu, ia belajar memperbaiki diri lagi. Lebih intens membaca buku, dan belajar menulis cerita-cerita pendek di akun Facebooknya.
Tak jarang, ia mendapatkan pujian di akun fb nya itu. Makin hari, cerita kimi makin banyak yang suka. Bahkan, ia sudah memiliki beberapa fans yang selalu menunggu ceritanya terbit.
________+__________+_____________+________+
Kimi menarik tasnya dan langsung berjalan keluar ruang kelas kuliahnya. Ia berjalan menuju parkiran motornya dan langsung menuju ke hotel Aston yang terletak di pusat kota Jogja. Sepanjang jalan, ia hanya fokus menyetir motor birunya.
Hari ini, seharusnya ia mengikuti pelajaran dosen kuliahnya. Tapi karena tiba-tiba saja ia di telpon oleh pimpinan redaksinya, mau tidak mau, untuk kesekian kalinya, ia absen lagi demi terlihat profesional pada pekerjaan wartawannya.
Setiba dihotel, kimi menghampiri meja resepsionis. Para resepsionis memperhatikan gaya kimi yang hijabers tomboy. Tentunya, keren dan modis.
"Mba. Agenda kadin di lantai berapa yah ?" Tanya kimi.
Resepsionis tersebut segera mengecek komputernya untuk melihat data valid agenda yang sedang berlangsung di hotel bintang 5 itu.
"Oh di lantai 5 mba. Ruangan malioboro".
Kimi langsung menuju lift dan menekan tombol 5.
Setibanya di tempat, ia melihat dua orang sedang duduk di pinggiran lobi tepat pada dinding ruangan malioboro dimana kegiatan yang akan ia liput sedang berlangsung. Saat ia mendekat, ternyata orang itu adalah yaya dan temannya. Kimi tak mengenal siapa teman yaya duduk.
Dari kejauhan, kimi mendekati yaya sembari tersenyum.
"Eh yaya. Udah lama disini ?" Kimi bersalaman pada yaya dan temannya.
"Gak kok. Baru sekitaran 5 menit".
"Ohh. Eh btw ini acara didalam udah di mulai belom ? Kok elu gak masuk ?"
Yaya tertawa kesal "gimana mau masuk. Gua baru buka pintu, ibu yang jaga meja regis bilang, kalau kegiatan ini tertutup tidak menerima wartawan. Kan sakit !"
Kimi kaget dan melototkan matanya.
"Haaaaah ?? Lu gak becanda kan ? Sumpah demi apa. Gua udah ninggalin jam kuliah gua demi liput nih kegiatan. Kata bos gue. Panitia acara yang meminta untuk kegiatan mereka di liput". Kimi mulai kesal
YOU ARE READING
Catatan Kimi
Teen Fiction"Sejauh manapun kau menempuh cinta, jika masih terikat pada pendidikan, maka selesaikan pendidikanmu. selesaikan yang telah kau mulai. Jangan jadikan cinta sebagai wadah kau membuang rasa lelah mu ketika capek menuntut ilmu" _______________________...
