1. Eins

65 6 6
                                        

          Siang yang terik tidak membuat kedua pasangan sejati yang sedang kasmaran ini lelah. Benar, kini Zura dan Harsya sedang berjalan-jalan di taman kota, dengan tangan yang bertautan dan kedua netra mereka yang memancarkan kebahagiaan. Tadinya, Zura sedang sibuk dengan urusan orang tuanya, namun ketika Harsya mengajaknya keluar untuk berjalan-jalan, dia langsung memenuhi keinginan kekasihnya itu.

Harsya sangat sering mengajak Zura keluar walau hanya untuk jalan-jalan seperti ini, menghabiskan waktu berdua dengan Zura adalah kesenangan tersendiri baginya. Zura pun sama, dia begitu menikmati waktu demi waktu yang dia habiskan bersama laki-laki bertubuh jangkung tersebut.

Alis tebal Harsya sedikit terangkat ketika mendengar pernyataan Zura perihal keinginan di kehidupan masa depan kala mereka lanjut usia nanti.

"Emang kenapa? Enggak boleh?"

"Bukan gitu, tapi aku sih lebih prefer kerja keras sampai tua," ucap Harsya sambil menyunggingkan senyum andalannya.

"Gini loh Har, menurut aku, kerja keras itu sebaiknya dilakukan waktu kita muda. Jadi, nanti kita tinggal menikmati masa lanjut usia. Bener, enggak?"

Laki-laki bernama lengkap Harsya Taraka Auriga itu menggeleng pelan sambil merangkul bahu Zura. "No, Ra. Kerja keras itu penting. Harus kita lakukan sampai tua."

Merasa argumennya kalah, Zura hanya bisa mengerucutkan bibirnya. Tidak kesal, melainkan mengapa Harsya tidak menyetujui pernyataannya dan malah membalasnya? Mereka memang seperti itu, hal yang tidak penting pun mereka bahas. Tetapi itu lah yang membuat hubungan mereka bertahan lama.

Harsya tertawa kecil lalu mengacak-ngacak rambut perempuan yang sedang kesal itu. "Iya-iya, maaf."

"Mau beli es krim, enggak?" lanjutnya.

Zura tersenyum lebar saat mendengar perkataan Harsya, kemudian dia mengangguk.

Mereka membelokkan langkah ke kedai es krim yang ada di dekat taman itu. Mata Zura berbinar ketika melihat makanan kesukaannya. Ya, seorang Azura yang selalu menjadi gadis kecil di mata Harsya, dia sangat menyukai es krim. Bila senang atau bahkan sedih, dia selalu memakan makanan dingin tersebut.

"Mau rasa apa?"

"Stroberi, dong!"

Lima belas menit kemudian, sudah ada dua cup es krim stroberi di tangan Zura.

"Kok dua, sih?"

"Ya memang kalau satu cukup?" ledek Harsya.

"Enggak sih, hehehehe. Makasih, ya!"

Mereka berjalan kembali, dengan obrolan yang tidak pernah habis, dengan tatapan yang selalu berbinar. Saling menautkan tangan sampai senja datang menyapa.

= = =

Azura hampir saja terlambat apabila dia tidak terkejut dengan suara botol minum kosong yang jatuh akibat angin pagi yang masuk melalui celah jendela kamarnya. Ini yang ketiga kalinya dia seperti ini, untung saja masih sempat untuk bersiap-siap pergi ke sekolah.

Zura siap dengan seragamnya. Dia mengambil tas sekolah, lalu sedikit berlari menuju dapur untuk melihat meja makan. Namun hasilnya nihil. Lagi-lagi, tidak ada makanan yang tersedia di sana. Dia membuka kulkas, namun isinya juga kosong.

Zura kesal, dia mengurungkan niat menendang kursi meja makan dan menciptakan kebisingan untuk membangunkan orang rumah. Sudah cukup, luka di betis kirinya yang terbalut oleh perban belum sepenuhnya kering, dia tidak mau kembali disakiti oleh ibu tirinya. Kemudian, gadis itu mengambil sejumlah uangnya yang tergeletak di dekat televisi. Dia langsung pergi ke luar rumah untuk memakai sepatu, lalu pergi ke sekolah.

Seperti biasa, di pertigaan jalan dekat halte, dia akan menemui kekasihnya, Harsya. Mereka selalu berangkat ke sekolah bersama menaiki bus.

"Pagi, Harsyaku!" sapa Zura sambil tersenyum, menampilkan deret giginya yang seputih susu. Kekesalannya mendadak sirna kala melihat Harsya.

"Pagi, Ra. Kamu udah sarapan?"

"Belum," jawab Zura sambil menggelengkan kepalanya.

"Ya udah, nanti sebelum masuk kelas kita ke kantin dulu, ya."

"Oke!" Zura mengacungkan jempolnya.

Keduanya melanjutkan perjalanan menuju halte yang tinggal beberapa meter lagi. Pagi ini halte terasa penuh, sudah banyak siswa-siswi yang menunggu kedatangan bus untuk pergi ke sekolah. Zura dan Harsya berdiri di sebelah halte yang penuh tersebut.

"Semalam kenapa enggak bales chat aku lagi, Ra?" tanya Harsya, mengingat kembali mengapa Zura tidak membalas pesannya semalam.

"Oh, aku ketiduran semalem, Har. Maaf, ya."

Zura berbohong lagi hari ini. Karena akan menjadi perkara besar apabila ia jujur akan apa yang ia lakukan semalam.

"Pasti kamu terlalu capek kerjain tugas, ya? Lain kali jangan terlalu rajin, Ra."

"Eh? Kok?"

"Nantinya kamu enggak punya waktu buat aku."

Keduanya tertawa bersama.

Tak lama kemudian, bus datang. Para murid berbondong-bondong mengantre masuk ke dalam bus, untungnya pagi ini tidak ada yang membuat kesal, yang suka menyerobot antrean dengan cara liciknya.

Harsya dan Zura duduk bersebelahan, di tangan Harsya, kini sudah ada novel tebal yang membuat Zura menghela napas. Pasalnya, Zura merasa diabaikan apabila pemuda itu sudah membaca novel yang menurutnya seru. Bagi Zura, membaca buku hanya membuatnya pusing kepala. Zura lebih senang melukis sejak kecil, bahkan di kamarnya yang sekarang terdapat banyak lukisan karyanya.

Merasa dirinya mengabaikan pacarnya, Harsya pun berhenti membaca, dia menutup novelnya lalu melihat ke arah Zura yang kini tengah sibuk mendengarkan musik melalui earphone-nya. Harsya mencabut salah satu earphone dari telinga Zura, setelahnya dia memasang itu di telinganya. Kemudian, Harsya tersenyum lebar.

"Oh ya, Ra, gimana kaki kamu? Udah sembuh?" tanya Harsya, menanyakan keadaan kakinya Zura yang gadis itu bilang dia jatuh dari motornya tiga hari yang lalu.

"Belum sepenuhnya, sih," jawab Zura.

"Lain kali hati-hati."

"Iya, hehehe."

Hanyut dalam obrolan, tak terasa mereka sudah sampai di sekolah. Memenuhi janjinya, Harsya mengajak Zura untuk makan ke kantin dahulu, untung saja bel masuk kelas masih lama. Jadi mereka bisa lebih lama berada di kantin. Meja yang terisi di kantin hanya tiga meja, sisanya kosong. Ini masih pagi, jarang murid-murid sekolahnya ke kantin saat pagi hari.

Harsya datang membawa dua piring nasi goreng yang ia beli. Mereka pun memakannya.

"Ra, hari sabtu aku mau ke panti lagi, nemuin anak-anak. Kamu mau ikut enggak?" tanya Harsya, membicarakan rutinitas berkunjung ke panti asuhan untuk bertemu anak yatim yang sudah dia lakukan selama dua tahun belakangan.

Zura terlihat berpikir, dia berhenti mengunyah nasi goreng yang ada di mulutnya.

"Kayaknya enggak deh, Har. Soalnya hari sabtu besok aku mau pergi sama Mama," jawab gadis itu, kemudian dia kembali menyuapkan makanan ke mulutnya.

"Yah, padahal terakhir kamu pergi kesana kan setahun yang lalu. Anak-anak udah kangen sama kamu, Ra."

"Aku juga ingin kesana sebenarnya. Tapi ya gimana lagi ... kamu juga ajaknya setiap aku ada acara terus."

"Ya udah, mungkin lain kali aja Ra. Ayo cepet habisin nasi gorengnya, sebentar lagi bel bunyi."

Keduanya bersamaan menghabiskan nasi goreng tersebut, kemudian pergi ke kelas masing-masing.

Ah, perihal ajakan panti asuhan itu, sebenarnya hari sabtu nanti Azura tidak mempunyai agenda apapun bersama sang Ibu. 












PostmeridianaDonde viven las historias. Descúbrelo ahora