-Happy Reading-
Suasana berdesakan memenuhi jalanan Bandung malam ini, banyak orang berlalu lalang menyambut kemeriahan acara tahunan seperti sekarang, para pengendara mobil atau pun motor terpaksa menggunakan jalur alternatif lain agar tidak ada gangguan selama pameran berlangsung.
BLF atau Bandung Light Festival memang disambut antusias oleh seluruh warga bandung maupun didaerah lain. Tidak ada yang mau melewatkan acara seperti ini walaupun selalu diadakan setiap matahari sudah tertidur.
Anak-anak, remaja, orang tua datang berporak-poranda ikut berpartisipasi dengan kegiatan ini, tujuannya ialah mengikat tali persatuan antar penduduk lokal dan juga menyambut hari lahirnya kota seribu wisata yang sering disebut Paris van Java tersebut.
Seorang gadis berukuran Anak SMA bergabung ditengah-tengah acara, ia mendonggakan kepala melihat begitu ramainya jalan dipenuhi oleh ratusan bahkan ribuan manusia,pupil matanya berbinar kala melihat berbagai kendaraan hias yang didekorasi oleh lampu kelap-kelip, seolah-olah lampu itu memang adalah puncak agar menyemarakkan acara tersebut.
Gadis itu menaruh kedua tangannya ke kamera yang tergantung dibawah dadanya, tali kamera tersebut sudah ia lilitkan dilehernya agar benda elektronik tersebut tidak jatuh kala sewaktu-waktu ia lengah.
Ia mengangkat kamera tersebut kedepan muka, menaruhkan iris matanya yang kecil untuk mengintip kedalam lobang kamera dan jari telunjuk sebelah kanannya siap untuk membidik gambar yang tersedia dihadapannya.
Jepret! Jepret! Jepret!
Ada tiga kali jepretan yang ia tangkap, senyuman tipis terbit diwajahnya, tidak lupa ada sedikit lobang kecil dipipinya yang membuatnya manis setiap kali dirinya tersenyum bahagia. Gadis itu merasa puas dengan hasilnya, beberapa kendaraan bercahaya berhasil ia abadikan didalam memori kameranya.
Matanya mengedarkan keseluruhan pemandangan malam ini, suasana ramai dan ditutupi langit gelap agak sedikit menyulitkan penglihatan walau sudah banyak lampu yang menerangi, hingga ia sadar bahwa dirinya sudah berjalan jauh dari posisi sebelumnya.
Gadis itu menepuk dahinya, merutuki kebodohannya karna terlalu keasyikan mengikuti festival, ia terus saja mengikuti kendaraan bercahaya itu berjalan memutari Bandung, mulai dari dirinya yang berkumpul dijalan Asia Afrika, lalu melewati Masjid Agung, Museum geologi sampai dirinya hilang tak tau arah.
Ia meraih sebuah ponsel yang berada disaku jaketnya, mencari-cari sebuah nama dikontak, dan menaruh ponsel tersebut ke daun telinga.
Drrttt...
Sambungan aktif,samar-samar ia bisa mendengar sudah ada deru nafas kasar yang terdengar dari ponselnya.
"Halo?"
"Halo Fid, Lo dimana?!" Serunya ditengah-tengah keramaian.
"Seharusnya gue yang nanya lo dimana sekarang, Shinta!"
Yaps, gadis yang karak sering dipanggil Shinta, itu memang adalah gadis yang sedang hilang arah tujuan saat ini. Berisiknya suara peramai festival dan juga alat musik yang ikut bergabung, membuat Shinta nyaris tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Hafid, tetangganya.
Pasalnya ia dan Hafid memang pergi berdua kesini, ini semua adalah keinginan Shinta karna merasa suntuk selalu berada didalam rumah setiap malam, gadis itu pun mengajak tetangganya agar mengikuti kegiatan baru agar bisa menghilangkan rasa bosan.
YOU ARE READING
Alter Ego
Random"Mereka bilang, dirinya itu tidak punya Duplikat" Ini bukan kisah cinta yang seperti biasanya. Melainkan ini adalah kisah seorang Shinta Rabbani yang harus melawan sebuah syndrom karna telah menghalangi dirinya untuk mencintai seseorang. Sampai k...
