Di sebuah pinggiran kota dengan lalu lintas yang tak begitu ramai, hanya beberapa motor dan mobil yang melintas. Burung-burung bernyanyi di pepohonan yang hijau.
Lalu, terdengar sebuah bis sekolah berhenti di sebuah halte. Terlihat, dua pasang kaki melangkah keluar dari bis.
"Akhirnya kaki gue bisa merasakan rerumputan di halaman rumah," ucap seorang remaja laki-laki. Dia adalah Rio, siswa SMA semester akhir.
"Lebay banget sih lu, udah kaya gak pulang bertahun-tahun aja," balas Dewi, sahabat Rio sedari kecil, mereka satu sekolah tetapi berbeda kelas.
"Lu gak ngerasain jadi gue sih, tadi di kelas, tiba-tiba ada ulangan fisika dadakan, mana habis ulangan MTK lagi. Pala gue rasanya berasep. Pusing banget gila," jelas Rio.
"Mampus," ledek Dewi singkat. "Tapi tenang aja, entar malem kan ada pesta tuh, lu ajak Sinta aja, sekalian lu berdua skidipapap."
"Gila lu, mana berani gue, entar gue digebukin warga sekampung lagi gara-gara hamilin anak orang."
"Kan pake kondom, jadi gak bakal hamil," jelas Dewi. "Tenang ntar lu gue bantu, biar lu bisa sama Dewi, asal ada." Dewi memberi kode dengan menggosok ibu jari dan telunjuk nya bersamaan.
"Kenapa lu." Rio berlagak polos.
"Ada upil di jari gue, ya duit lah."
"Lu dari dulu gak pernah berubah ya." Rio mencubit lembut hidung Dewi.
"Sorry, teknik bikin baper lu gak berhasil di gue." Dewi adalah cewek yang tomboy, sehingga susah untuk di rayu. Bahkan satu pun tak ada yang berani untuk mendekat.
"Jangan gitu lah, ntar lu jomblo seumur hidup lagi," ejek Rio.
"Halah bodo amat jomblo, yang penting kaya dan bahagia. Gak kaya lo, yang deketin cewek pake bayar orang segala."
"Kadang-kadang lu bangsat juga ya, kan tadi elu yang nawarin."
Dewi hanya mengibaskan rambut panjang nya pada Rio. "Halah, mending gue ngerokok, lu mau?"
"Boleh dah."
"Anjir," celetup Dewi.
"Kenapa?" Rio menatap Dewi.
"Gak kerasa bentar lagi kita lulus, dan gue di suruh kuliah di Australia sama nyokap gue," jelas Dewi.
"Ya bagus dong, lu juga cukup pinter menurut gue."
"Ya bagus sih, tapi kita jadi gak bisa hangout bareng lagi, kita gak bisa malingin mangganya Pak Joko kalo lagi berbuah."
"Bangke, lu masih aja mikirin mangga Pak Joko."
"Enak tau, manis," jawab Dewi. "Tapi gue serius cuk, gue gak mau kehilangan elu, bayangin, kita dari kecil bareng terus, udah kaya adek kakak tau nggak, tapi elu kakak yang agak bangsat. Tapi gue sayang sama lu, gue gak mungkin bisa nemu sahabat kaya elu disana."
"Ayolah, sekarang sudah jaman modern, kita masih bisa chat, telpon sama video call, dan elu juga pasti bakal balik kalo libur panjang kan. Jadi santai aja lah kita gak akan terpisah kan." jelas Rio menenangkan Dewi.
"Beneran ya, janji kita bakal sahabatan terus, sampai selamanya." Dewi mengacungkan jari kelingking nya.
"Ya, biar pun lu ngeselin, gue janji kita bakal sahabatan selamanya." Mereka saling mengaitkan jari kelingking.
"Ya udah ya, gue pulang dulu, bye, best friend forever."
"Bye, best friend forever."
Setelah Dewi benar-benar menghilang dari pandangan Rio, dia melangkah menuju pintu rumahnya.
"Rio pulang." Rio membuka pintu rumah.
Di dalam, Ayah dan Adik Rio telah menunggu. Ayah Rio adalah seorang montir, sedangkan Ibunya telah meninggalkan mereka tanpa suatu alasan yang jelas. Sehingga, kini mereka hanya tinggal bertiga di rumah tersebut.
"Eh jagoan ayah sudah pulang, pas banget nih," ucap Hendry pada anaknya. "Jadi gini, ini kan beng beng nya cuma sisa satu, dan ayah pengen, kamu jadi juri. Siapa yang lebih pantas mendapatkan beng beng ini. Ayah, yang sudah capek seharian bekerja, dan ingin merasakan kenikmatan dari sebuah beng beng. Atau Reza yang sudah makan 10 beng beng dan masih menginginkan nya lagi. Jadi, bagaimana juri Rio?"
"Hmm." Rio berpikir dan menimbang-nimbang.
"Jadi, apa keputusan dari juri Rio?" Hendry kembali menanyakan pada Rio.
"Dari pada buat mereka, mending, beng beng nya buat gue," batin Rio. "Ok, juri sudah memutuskan, jadi, orang yang bisa memakan dan merasakan dari kenikmatan beng beng ini adalah. Saya sendiri." Rio langsung menyambar beng beng yang ada di meja dan berlari menuju kamarnya.
"Aaa, kakak curang, itu kan beng beng ku," rengek Reza, adik Rio, seraya berlari mengejar kakaknya.
"Ah, ya sudahlah, balik kerja lagi." Hendry menghela nafas nya seraya melenggang pergi meninggalkan kedua anaknya yang tengah ribut menuju garasi di belakang rumahnya.
"Kaaak, balikin beng beng ku." Reza masih mengejar kakak nya yang menuju ke kamar.
"Weee." Rio memeletkan lidah nya dan menutup pintu kamar.
"Kaaak." Reza memukul-mukul pintu yang telah terkunci. Akhirnya, Reza menyerah dan dengan kecewa meninggalkan kamar kakaknya. "Mending aku main tembak-tembakan lagi aja deh."
"Aah, akhirnya nyerah juga Reza." Rio mencoba merebahkan badannya di tempat tidur. "Makan beng beng gini enaknya kalo dingin, ah, tapi langsung juga gapapa lah." Rio mencoba untuk membuka beng beng di tangannya, tetapi, tiba-tiba ponselnya berdering. "Bangsat, siapa sih nih yang nelpon, gak tau orang lagi enak apa." Rio mengambil ponsel nya. "Halah Dewi lagi."
"Halo Rio, gimana udah siap ke pesta?"
"Apa sih lu ganggu orang lagi enak aja," balas Rio dengan nada tinggi.
"Wuih, santuy bos. Jangan lupa ya bawa duit yang banyak. Buat persiapan pesta."
"Iya iya, entar gue minta sama bokap gue."
"Okelah kalo begitu, sampai jumpa di pesta, dadaa." Dewi langsung menutup telpon.
"Haduuuh, gimana nih gue minta duit ama bokap. Masa ya gue bilang buat beli kondom sih, mana mungkin di beri." Rio berpikir dengan keras. Ia berusaha melangkahkan kaki nya menuju garasi belakang, "Ah bodo amat lah, alesannya di pikir entar aja, yang penting bilang aja dulu."
TBC
Gus, 04 Mar '19
ESTÁS LEYENDO
Hard Times
AventuraIa ingin berlari menghapus semua jejak. Namun, perjalanan ini membuatnya mengerti. Meski kadang terasa sesak. Kini ia memilih berdamai menikmati. Sekarang ia tak punya siapa-siapa lagi. Kekasih hati nya telah pergi, rumah tempat ia tinggali telah ja...
