Tahun 1986. Adam Prasetya bukan remaja biasa-ia bisa melihat yang tak kasatmata. Terlahir sebagai putra seorang jenderal polisi, hidup Adam dipenuhi jejak kasus-kasus misterius yang membayangi langkah ayahnya. Tapi semuanya berubah saat ia bertemu d...
Hujan deras mengguyur malam kota Surabaya saat mobil dinas Irjen Djoko Prasetya berhenti di depan sebuah rumah tua di daerah Ngagel. Lampu kuning remang di serambi rumah tampak berayun pelan tertiup angin. Suasana mencekam menyelimuti udara.
"Aku di sini saja ya," kata Maria. Gadis manis berambut ikal bergelombang alami itu tersenyum getir.
Adam, yang baru mengenakan jaket parasut dan sepatu kets melompat turun dari mobil jeep. "Kalau takut mestinya menunggu di rumah saja," ucap Adam. Maria sebenarnya tak memiliki hubungan darah dengannya. Tapi mereka dibesarkan seperti saudara sejak usia 5 tahun. Ibu Maria adalah sahabat Ibu Adam. Beliau bekerja menjadi TKW di Arab Saudi sehingga Maria titipkan di rumah Adam.
"Tapi sendirian di rumah juga seram," keluh Maria. Pasalnya malam itu Bu Ani, Ibu Adam sedang pulang kampung ke Malang untuk merawat ibunya yang sedang sakit.
"Aku nggak tahu ya, kalau hantu wanita itu mendatangimu ke sini," goda Adam.
Maria yang tampak syok akhirnya buru-buru melompat turun mengikuti Adam. "A-aku ikut deh!"
Adam menyeringai kecil. "Apa gunanya kamu medali perak karate di POPDA kalau sama hantu saja takut begitu," ejek Adam.
"Hantu kan nggak bisa dipukul!" keluh Maria sambil memeluk erat lengan Adam.
Maria dan Adam mengikuti Irjen Djoko melangkah masuk melewati garis polisi. Di dalam, tubuh seorang wanita muda tergeletak di lantai ruang tamu. Wajahnya pucat, dan bekas lebam tampak di sekitar leher. Maria menutup matanya sambil komat-kamit membaca doa. Adam melepas topinya dan memakaikannya di kepala cewek itu. Reaksi ketakutan Maria memang selalu menarik untuk dilihat.
Seorang penyidik lain menyambut mereka sambil menyerahkan laporan singkat.
"Suami korban mengaku korban bunuh diri. Tapi tidak ada kursi atau benda lain yang bisa digunakan untuk menggantung diri. Tali di lehernya malah berasal dari tirai jendela."
Djoko mengangguk singkat. "Kita lihat ke lantai dua."
Adam dan Maria mengikuti dari belakang. Tangga tua itu berderit tiap kali diinjak. Saat mereka melewati lorong gelap di lantai atas, Adam menghentikan langkah. Matanya menyipit, dadanya terasa sesak. Udara di lorong itu lebih dingin, dan aroma logam memenuhi hidungnya.
"Ada yang aneh..." gumam Adam.
Djoko menoleh. "Kamu merasakannya?"
"A-apa hantunya..."
"Sssttt!" Adam memberi isyarat dengan jari agar Maria tidak berisik karena dia jadi tidak bisa berkonsentrasi. Di puncak anak tangga ia melihat wanita muda di ruang tamu tadi dengan wajah yang pucat dan tubuh yang transparan. Wanita itu terisak pelan. Wajahnya menunjukkan kekecewaan dan kesedihan mendalam.
"Kau bisa melihatku, kan?"
Adam kembali melenggut saat matanya bertemu dengan wanita itu. Wanita itu berlari ke arahnya dan menebus tubuh Adam. Tiba-tiba, dunia di sekitarnya berubah. Dalam pandangannya, Adam melihat seorang pria memaksa istrinya ke lantai. Pria itu marah, berteriak, lalu menarik tirai jendela dan melilitkan ke leher wanita itu.
Adam memekik pelan dan mundur satu langkah. Penglihatan itu memudar.
"A-ada apa?" tanya Maria. Yang melihat Adam tampak kelelahan.
"Dia dibunuh," desis Adam. "Suaminya... dia mencekiknya. Di sini, di atas. Lalu tubuhnya dibawa ke bawah dan diletakkan seperti korban bunuh diri."
Djoko menatap anaknya tajam. "Kau yakin?"
Adam mengangguk. "Ada bercak darah kecil di lantai ini, sudut kiri dekat kusen. Dia menyeret tubuhnya dari kamar ke tangga."
Djoko segera menyuruh anak buahnya memeriksa tempat yang dimaksud. Beberapa saat kemudian, penyidik lain mengangguk dan menunjukkan hasil temuan: bercak darah samar yang tak terlihat dalam pencahayaan biasa.
Djoko menoleh ke anaknya. Matanya lembut sejenak. "Kamu benar."
***
Hai pembaca manis, Aku adalah seorang emak-emak yang menulis cerita ini sambil ngumpulin receh demi masa depan anakku. Targetku? Dalam 16 tahun ke depan, aku ingin bisa menyekolahkan anakku sampai kuliah-kalau bisa sih ke Fakultas Kedokteran, biar bisa ketemu cowok-cowok ganteng kayak Edwin. 😆
Katanya biaya kuliah kedokteran bisa sampai 1 MILIAR di masa depan. Tapi aku percaya... dari 2.000 perak demi 2.000 perak, insyaAllah bisa jadi tabungan pendidikan anak yang berkah.
Kalau kamu suka ceritaku dan ingin ikut jadi bagian dari perjalanan ini, yuk dukung aku di Karyakarsa. Setiap bab yang kamu baca dan dukung, artinya kamu sudah bantu satu langkah lebih dekat buat mimpi anakku 💗
Terima kasih sudah membaca dan menjadi bagian dari perjalanan ini. Peluk hangat dari emak-emak pejuang impian ✨
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.