Mika Nayara

70.2K 4.9K 425
                                        

Halooo! Aku mo repost cerita lama ini. Yg mau baca lengkap bisa langsung ke Playstore. Untuk KK belum aku up.

Happy reading 😁

🔥🔥🔥

Hari beranjak siang ketika Mika sampai di tempat kerjanya sebuah perusahaan garmen terkemuka di Indonesia. Perempuan berusia 27 tahun itu pun mengerang keras karena terlambat, gara-gara kunci motor sialan yang lupa ia taruh setelah dipinjam teman kosnya. Mika pun melangkah tergesa menuju lantai tempat divisi perencanaan berada. Dan, semoga saja kepala sukunya belum berkeliling.

"Mikado!"

Mampus gue! Kue kalengan lagi yang manggil. Ah, pura-pura nggak dengar aja, batin Mika lalu meneruskan berjalan masuk lift. Cepat-cepat perempuan itu menekan tombol naik agar tak terkejar Pak Hattari. Sesampai di kubikel tercinta, Mika menghempaskan bokong kuat dan bernapas lega.

"Nama bagus-bagus diganti seenak udel, dikira kagak pake tumpeng apa kasih nama itu," gerutu Mika, "tahu sih nama gue kayak lagu anak-anak tapi nggak gitu juga keles." Kemudian gerutuan Mika disahuti dehaman yang familiar. Kening mulus itu mengkerut lalu mendongak, berdiri kemudian meringis. "Pak."

"Kamu itu, dipanggil bukannya berhenti malah kabur. Kamu kira saya setan bikin takut orang!" omel Hattari dengan wajah jengkel.

"Lah sadar diri si Bapak."

Hattari mendelik. "Apa kamu bilang?" tanya pria berusia lima puluh tahun itu garang.

Mika menutup mulut lalu menggeleng cepat agar atasannya ini tak semakin marah. "Nggak, Pak."

"Sudah terlambat, berani ngatain atasan. Kamu mau saya adukan ke HRD biar dipecat!"

Tentu saja Mika kaget. "Jangan duong, Pak, nanti saya makan apa kalo dipecat," mohon Mika memelas. Siaga tiga ini mah, bisa tengkurap magicom-nya, pikir gadis berbluose maroon. "Jangan, ya, Pak. Bapak ganteng deh, masa tega sama Mikado kesayangan coba," rayu Mika memasang senyum seribu volt andalannya.

"Halah! rayuan kamu tidak ngefek sama saya. Ke ruangan saya sekarang juga." Setelah mengatakan hal itu, Pak Hattari berjalan dulu ke ruangannya.

Mika mengembuskan napas besar, rayuannya kali ini tidak berhasil. Rekan-rekan kerja Mika terkikik melihat drama pagi sebelum istirahat siang. "Apes gue, gaes."

Bukannya kasihan, mereka malah tertawa keras. Dengan langkah gontai, Mika masuk ke ruangan Pak Hattari setelah mengetuk lebih dulu.

"Kamu itu sehari saja tidak membuat ulah gatal, ya," cemooh Pak Hattari saat Mika duduk di depan meja. "Jangan banyak alasan," sergahnya sebelum Mika membantah dia. "Mulai minggu depan kamu pindah ke bagian desain. Saya tahu kamu ada bakat mendesain, kebetulan pimpinan mencari satu orang untuk membantu bagian desain, untuk rancangan musim semi yang akan diikut sertakan tender di Amerika."

Desain? Memang Mika lebih suka dibagian itu, ada rasa luar biasa kala tangannya berhasil menciptakan goresan di kertas. Dan, kini tawaran itu datang, maka tak akan ia sia-siakan kesempatan ini. "Siap, Bosque!" ujarnya semangat. "Tapi nanti kita pisah dong, Pak. Jangan kangen, ya, soalnya kangen itu berat. Biar Dilan aja, jangan Bapak deh." Mika terbahak, geli sendiri mendengar rayuannya untuk Pak Hattari.

"Bocah edan! Sudah sana kembali ke meja kamu, tapi jangan lupa selesaikan kerjaan kamu sebelum pindah."

"Asiyap, Pak Mentari." Lalu segera keluar sebelum atasannya itu naik darah.

REPOST! Affair with the Boss (Sudah Terbit)Stories to obsess over. Discover now