Prolog
.
.
.
Hari senin pasti besoknya selasa
Sampai bertemu di cerita saya.
Tampol author yang sok lucu .
"Pembalutnya jatuh mbak." Suara bariton laki laki dewasa jelas terdengar di telinga ku.
Aku berbalik dengan canggung. Melihat pada pembalut malam yang tergeletak memalukan di lantai supermaket. Ya allah. Ingin rasanya aku berlalu begitu saja. Bersikap seoalah olah itu bukan milikku pun tak ada artinya, semua orang yang sedang mengantri di kasir. kini semuanya menatap ke arah kami.
Aku berbalik melihat laki laki itu mengambil pembalutku di lantai dan menyerahkan padaku.
Mendadak hawa panas merambat dari tengkuk ke wajahku. Rasanya aku ingin segera pipis saking malu dan gugupnya.
"Mbak. . Hallo." Dia melambaikan tangannya di wajahku.
"Ouh, iya mas." Aku mengambil dengan cepat barang terlarang itu. Dan membenamkan pembalut kedalam troli agar tidak terjatuh karena banyaknya barang yang ku beli.
Ingin rasanya aku tenggelam ke dasar sumudera antlantik ketika mendengar tawa kecil dua petugas super market di dekatku. Fix, mereka menertawakanku.
Papi, nanda maluuuu. Batinku berteriak.
Laki laki di hadapan ku ini seorang polisi, tubuhnya jakung berkulit sawo matang. Dan dia sangat tampan dengan bulu mata lentik. Pas dengan seragam kebangsaan abdi negara.
Aku bahkan tidak yakin akan memakai softek itu nanti. Aku geli. Di sudah ternodai dengan tangan lelaki.
Pikiranku semakin ngelantur
Antrian di depanku hanya dua orang ibu ibu, dan belanjaan mereka tidak banyak. Jadi aku tidak perlu berlama lama dalam supermarket ini.
Ngomong ngomong, pak polisi itu sekarang berada tepat di belakangku. Sebisa mungkin aku berdiri relaks agar kejadian tadi cepat enyah dari pikiran.
Tiba giliranku, keringat mulai muncul di pelipisku. Dan kalian tahu belum cukup sampai di situ kesialan menimpa ku rupanya. Dompetku ketinggalan.
Aku hampir saja menangis , terus ku obrak abrik isi tas slempang yang ku gunakan.
"Lanjut aja, mas." Aku menyingkir ke samping. Mbak penjaga kasir mengernyitkan keningnya heran.
"Sepertinya dompet saya ketinggalan, mbak." Aku meringis, ku ingat ingat ini hari apa. Biasanya hari rabu kesialan sering menimpaku. Tapi hari ini bukan hari rabu.
Aku segera mendial nomor papi, hanya papi satu satu penyelamatku saat saat seperti.
"Biar saya yang yang bayarin, mbak." Belum ku jawab, ia sudak menarik troliku ke depan kasir.
Aku pasrah, berdebat pun tak ada gunanya. Semua barang sudah di masukkan ke dalam kantong plastik.
Aku meminta struk pembayaran. Totalnya empat ratus ribu lima puluh ribu rupiah.
"Mas, sebentar lagi saya ganti ya uangnya. Papi saya mau kesini." Ujarku saat Kami berjalan beriringan ke parkiran.
"Saya minta nomor mbak aja, soalnya saya buru buru. Nanti saya kirim no reknya."
"Terima kasih banyak, mas." Ucapku yang hanya di balas jempol saja.
Papi muncul dua menit setelah mas masnya pergi.
"Kok bisa sih kak, belanja ga bawa dompet." Papi geleng kepala melihatku.
"Namanya juga ketinggalan pi, kan kakak ga sengaja. Perasaan tadi uda kakak masukkan ke tas."
"Lama lama kamu kayak mami kak.
Jadi suka lupa."
Aku nyengir kemudian ikut menaiki motor bersama papi, mobilku akan di jemput sopir rumah pribadi papi. Pak adnan. Aku rindu menikmati udara malam dengan berboncengan motor seperti ini dengan papi. Terakhir aku melakukannya dua tahun lalu.
"Kak, pegangan ya kuat ya, papi mau balap."
Aku tertawa, tapi tak urung tanganku melingkat di pinggang papi. Meskipun aku tahu papi tidak berani melakukannya.
"Jangan banyak gaya, pi." Gerutu ku Ketika papi berbelok ala ala valentino kw di persimpangan jalan.
Dan kami sama tertawa tawa.
Sekiann dulu yaa.
Salam sayang.
YOU ARE READING
SWEETIE
Random( UPDATE SETIAP SENIN DAN KAMIS) Tentang ananda sarfina, guru cantik yang sangat suka dengan anak kecil. Dan Fathan nuril iman. Polisi tampan yang jatuh hati sejak pandangan pertama mereka . Sampai sebuah surat dari orang kepercayaannya, mengantarka...
