All my friends are heathens. Take it slow.
-
Bagi beberapa detektif di Kantor Kepolisian Kota Seoul, hari tenang merupakan sebuah momen langka saat tak ada berkas kasus yang mampir ke meja dan memperkenankan mereka untuk mengajukan satu, dua yaum izin cuti. Hari yang demikian akan diagung-agungkan layaknya janji kedatangan malaikat di akhir zaman dan kalau bisa dikenang selamanya serta digunakan dengan semaksimal, sebaik, nan sebijaksana mungkin.
Akan tetapi, definisinya menjadi agak melenceng bila sudah berkenaan dengan Jeon Jungkook. Menurutnya hari tenang adalah kala ia bisa duduk di kubikel dengan sekaleng soda dari vending machine depan kantor, dan memulai laporan-laporan investigasi yang menumpuk di atas bahunya. Ia memang akan pulang lebih sore dari biasanya—dan dengan pikiran yang lebih enteng pula—tapi tidak berarti Jungkook akan membenahi jadwal makannya yang berantakan.
Ha, padahal dia punya maag akut.
"You're a freak, you know that?" Itu cercaan yang selalu diujarkan Park Jimin, rekan sekaligus pimpinan timnya setiap kali suatu kasus selesai—tanpa disusul kasus baru, sembah kerang ajaib—dan Jungkook lebih memilih mengerak di depan komputer ketimbang menikmati sengatan hangat sinar mentari.
Jungkook hanya melirik Jimin lewat ekor mata, melanjutkan pelarian jemarinya di mesin ketik sambil menggeleng pelan. "Dan kalau aku tidak salah, aku sedang bicara pada seseorang yang lebih memilih datang ke kantor ketimbang liburan di pantai?" balas si lelaki yang lebih muda santai.
"Itu karena aku tak punya pekerjaan di rumah." Jimin menyugar helaian rambutnya yang sewarna kacang hikori. Tubuhnya ia maju dan mundurkan hingga menimbulkan ketuk-ketuk berisik dari kaki kursi. "Siapa tahu ada yang menarik di sini sebentar lagi. Kita tunggu saja. Bisa jadi para wanita yang ketakutan karena rumahnya dirampok. Atau polisi cantik dari distrik lain. Atau tukang antar makanan dari restoran cepat saji dekat rumah sakit—kau tahu 'kan pelayan di sana semuanya wanita dan mereka ultra manis-manis?"
Perlu kekuatan yang spektakuler bagi Jungkook untuk tidak memutar bola mata. Jimin dan kesukaannya pada perempuan terkadang menyusahkan sekali. Untung teman; andaikata bukan, Jungkook pasti sudah menjebloskan pria itu ke penjara atas tuduhan ganda pelecehan dan penistaan dari komentar-komentarnya yang terkadang kelewat batas.
"You've finished your report, then?" tanyanya berusaha mengalihkan topik, karena—sekali lagi—berbeda dengan setengah detektif di ruangan ini, wanita bukanlah topik favorit Jungkook. O, tidak—bukan karena Jungkook menyimpang, kok. Ia hanya sedang merasa tidak butuh wanita selama bisa memanjat karier setinggi mungkin.
"Nope." Jimin menggeleng pelan. "No report on day off, I'm not like you, you dumb freak."
Respons Jungkook berupa dengusan pelan.
Dipikir-pikir, dunia ini punya cara kerja yang aneh. Jungkook bertemu Jimin sejak zaman pelatihan dan terkadang lelaki itu masih bertanya-tanya kenapa ia bisa bertahan, bahkan berakhir satu tim dengan oknum sinting ini. Padahal seharusnya Jungkook sudah bisa merasakan keabnormalan Jimin sejak pertama kali berjumpa. Senyum yang mengangkut dua lemak pipinya naik tidak bisa disebut biasa saja—yang terkandung di sana tak lain terdiri atas akal bulus, gangguan, ide gila dan ... yah, kedewasaan, kalau kau tahu maksudku. Bukan sekali-dua kali Jimin berperilaku aneh; menggoda Jungkook seperti om-om haus daun muda.
Bercanda, sih, memang, namun katakan bagaimana Jungkook tidak merinding?
Mungkin salah satu hal yang bisa dibanggakan dari pimpinan timnya adalah kemampuan deduksi yang luar biasa. Jungkook mengamati sedari awal bahwa Jimin punya kecenderungan untuk cepat mengambil keputusan dalam berbagai investigasi mereka. Dia hanya perlu berdiri di tengah-tengah tempat kejadian perkara, lalu dalam waktu dua puluh menit, pria itu sudah bisa menentukan mana yang harus diteliti dan mana yang lebih baik diabaikan. Sebuah perlakuan yang bisa dihitung gegabah menurut Jungkook—sebab ia lebih suka memeriksa sampai detil-detilnya kendati terkadang membuang waktu—akan tetapi melihat betapa si pria bertubuh pendek itu sebenarnya mengambil berbagai pertimbangan atas kesimpulannya, di akhir, keputusan Jimin tak pernah salah. Jungkook berangsur-angsur memercayainya sekarang.
YOU ARE READING
Prussian Blue
Fanfiction[Completed]. Junior Detective Jeon Jungkook handles a case full of family intrigue. A mother who despises a son, a brother who loathes said son and the innocent one who is vulnerable enough. Three suspects, two right-hand men. Jungkook thinks this i...
