"Selalu dengarkan hatimu, karena meski dia berada di bagian kirimu, dia selalu benar."
-Nicholas Sparks
.
.
.
Tiada dusta yang pernah Ella lakukan dengan taraf lebih besar dari apa yang terjadi sekarang: membuat jarak sejauh mungkin dari punggung Alan ketika ia ingin sekali mendekapnya.
Di jalanan penuh kerlap-kerlip lampu kota ini, Alan sama sekali tak berniat menambah laju kendaraannya. Jika dihitung berdasarkan kecepatan yang sekarang, mereka mungkin baru akan sampai di tempat tujuan satu jam kemudian. Dan Ella, tidak sesabar itu untuk menahan gejolak perasaannya.
Ia pun tidak begitu paham mengapa rasa itu terus menerus mempengaruhinya. Seakan waktu perpisahan yang mereka alami membeku. Seakan jarak tiga tahun bukanlah waktu yang cukup untuk membunuh perasaannya terhadap mahkluk sedarah di hadapannya.
Ya, mereka sepupu yang lama tak bertemu dan Ella masih menaruh hati.
"Tidak bisakah kau menambah kecepatanmu? Kita tidak akan sampai jika terus seperti ini. Lagi pula aku kedinginan, lengan bajuku pendek."
Perlu berteriak untuk menyampaikan pendapatnya kepada Alan dikarenakan jarak diantara mereka cukup jauh. Bising motor di sekitar dan helm full face milik Alan juga turut mempengaruhi pendengaran.
Tapi respon yang diberikan Alan justru menjengkelkan, "tidak usah berteriak, aku mendengarnya."
Ya, lebih baik Ella diam dan pantang menyerah melatih hati agar segera bangkit. Setelah jatuh pada sepupunya sendiri.
Truk-truk besar yang bertubuh sepasang sesekali melintas, mengirimkan angin beku mengenai lengan Ella, membuatnya berulang kali menggosok telapak tangan dan memeluk diri sendiri agar sedikit hangat. Sesekali ia merutuk, rambutnya yang pendek tak membantu sama sekali.
"Kalau kau kedinginan seharusnya kau memelukku."
Deg
Kacau, tubuhnya tambah menggigil. Ella mematung sejenak untuk kemudian sadar diri dan segera memberi respon agar laki-laki di depannya tidak berpikir aneh-aneh.
Bug
Sebuah pukulan di punggung.
"Siapa juga yang mau memelukmu."
Alan hanya tertawa. Ella bisa membaca bahwa sepupunya mengatakan hal itu dengan kekhawatiran. Selain itu, Ella juga sadar bahwa Alan sering memperhatikannya jika pertemuan keluarga berlangsung.
Tapi, ia ragu jikalau hal itu bersangkutan dengan perasaan.
Mungkin Alan hanya terlalu risih karena terkadang, Ella berpenampilan kumal? Atau gelagatnya yang aneh? Atau mungkin juga karena Ella yang memperhatikannya dan karena itu Alan jadi penasaran juga? Entahlah.
Yang terpenting, ia harus bersikap senormal mungkin dan segera melupakan perasaannya. Karena hal yang diam-diam tumbuh dalam hatinya itu tak seharusnya ada.
"Turun, kita sudah sampai," pinta Alan.
Ella menurut, turun dari motor dan melepaskan helm yang segera di sahut oleh Alan. Helm digantungkan pada kaca spion. Laki-laki itu perhatian membenarkan rambut pendek Ella yang sedikit berantakan. Membuat sang pemilik rambut menelan ludah dan menggigit bibir, gugup.
"Dah, rapi." Gumam Alan menatap perbuatannya penuh bangga. Tatapannya yang melembut menembus manik kecoklatan milik Ella. Gadis itu mencoba mengendalikan diri, "apa?"
YOU ARE READING
Scelta Amara
Short StoryKetika hal menyakitkan itu adalah pilihanmu, aku akan menerimanya.
