Aku seorang muslim. Terkadang, saat guru mengaji bercerita tentang kisah Rasulullah aku memikirkan seandainya aku hidup di zaman itu. Abdullah bin Ummi Maktum contohnya. Aku mengidolakannya, beliau sahabat Nabi yang benar-benar tangguh. Aku selalu ingin mendengar ceritanya, seorang yang tak sempurna raganya tapi begitu lengkap imannya. Allah pasti akan menempatkannya di surga nanti.
"Assalamualaikum, sayang." Aku menoleh, melihat atensi Mama yang berjalan mendekat. Cerita kisah hidup Umar bin Khattab yang tertampil di ponselku aku tinggalkan untuk menyapa Mamaku.
"Waalaikum salam. Mama tak harus kesini setiap 2 jam sekali. Gita baik-baik saja." Mama tetap melangkah kearah kasur rumah sakit, lantas menarik kursi di dekatnya dan terduduk nyaman.
"Saat kemari, Mama melihat penjual jus buah. Jadi keinget kamu deh."
Mama menaruh gelas minuman yang terbungkus plastik keatas nakas di samping ranjangku. Bisa aku tebak, itu adalah jus pisang.
Dan, ya. Jus itu adalah kesukaanku.
YOU ARE READING
Meet You
ChickLitAku mengetahui jika hidupku berubah. Sedikit besar, tentunya. Dan itu terjadi saat lelaki itu datang meminta tolong padaku. Lelaki yang bagai Abdullah bin Ummi Maktum bagiku. Gita, si perempuan tertutup pada setiap lelaki, mulai sedikit membuka diri...
