1. Alina Aara Humaira

2.5K 78 2
                                        

" Jangan mudah menilai seseorang hanya dari yang terlihat, cobalah pandang ia dari sudut pandang yang lebih luas.
Mungkin dia punya sisi lain yang akan membuatmu terpana dalam bias "

_____________________________________________

Alina Aara Humaira, ya itulah nama yang hampir 17 tahun ini aku sandang. Bagiku itu nama terbaik yang Abi dan ummi ku berikan. Arti yang begitu bagus membuatku semakin bangga menyandangnya.
Alina Aara Humaira yang berarti sutera dari surga yang cantik dan kemerah-merahan. Meskipun nyatanya aku tak secantik namaku karena aku hanyalah gadis sederhana.

Aku hanyalah gadis sederhana berkulit kuning Langsat, pipi cabi, alis tipis, hidung mancung dan bibir yang kecil. Tinggi badanku tak lebih dari 155 cm tergolong pendek bukan(?)
Ya aku selalu bersyukur Allah menciptakan diriku tanpa kekurangan fisik, bagiku itu lebih dari cukup untuk selalu bersyukur pada NYA.

Abiku Muhammad Haikal Irsyad dan ummi Fahima Khalida. Terlahir di keluarga yang sederhana namun bukan berarti mengurangi keharmonisan dan kebahagiaan yang kumiliki. Aku putri tunggal dari Abi dan Ummi, meskipun begitu aku bukanlah tipe anak manja seperti kebanyakan anak tunggal lainnya.

Tak bisa dipungkiri kasih sayang selalu aku dapatkan. Menjadi satu-satunya mutiara hati penawar sepi.

"Aara, kita sudah sampai nak". Suara Abi menyadarkan lamunan panjang ku.

"Hmm, iya Bi. Makasih sudah mengantarkan Aara. Nanti jangan lupa jemput Aara seperti biasa " jawabku antusias.

"Iya, jam 3 tepat bukan(?) ". Tanyanya tersenyum manis.

"Tepat sekali. Terima kasih Abi ku sayang".
Akupun tersenyum manis

"Abi pulang dulu ya sayang, belajar yang rajin".

"Okee". Jawabku sambil mencium punggung tangan Abi.

Ya beginilah pagiku, sebenarnya aku kasihan jika Abi terus-menerus harus mengantar jemput ke sekolah. Tapi bagaimana lagi jika sampai saat ini aku masih tak diperbolehkan naik angkutan umum tau motor sendiri. Kata Abi beliau tak ingin putri cantiknya ini ada apa-apa. Entah sebegitu khawatirkah Abi pada Aara pikirku.

Aku memang tidak seperti teman-teman ku yang dapat pergi bebas dengan tampil modis gaya kekiniannya. Mungkin sebagian dari mereka sudah menanyakan mengapa aku masih saja berpenampilan seperti ini. Memang apa yang salah dari pakaianku((?) Ummi mengajarkanku apa yang seharusnya dikenakan seorang muslimah dengan hijab panjang, baju menutup pantat, rok panjang hingga mata kaki dengan kaos kaki sebagai penyempurnanya.
Ya memang terlihat aneh jika dihadapan mereka karena memang aku mengenyam pendidikan sebagai siswi SMA favorit di kota ku. Yang sebagian masih belum mengenakan hijab.

"Ra, kamu ngapain sih diem disitu. Ayo masuk hampir telat nih". Suara Aida terdengar setengah teriak

"Astaghfirullah, ngelamun lagi kan jadinya". Gerutu ku dalam hati

" Iya tungguin sebentar ini otw " timpalku sambil berjalan dari gerbang sekolah mendekatinya.

" Ye kamu sih Ra. Ngapain sih masih suka ngelamun aja, nggak lihat-lihat tempat juga. Nanti kalo dikira kesambet gimana kan gak lucu, terus aku juga yang bakal repot ". Cerocosnya tak henti-henti

"Yaya maaflah Da, lagian namanya juga gak sadar" balasku nyengir

"Ya udah ayo buruan masuk kelas, jam pertama fisika Ra kalo telat nanti pasti gak boleh masuk sama pak Ali" tak mau buang waktu kami pun segera menuju kelas yang menjadi kelas terakhir di bangku SMA ini.

Surga Ke-2Donde viven las historias. Descúbrelo ahora