CINDY

38 4 1
                                        

Pagi yang indah setelah semalaman hujan mengguyur kota. Pepohonan segar kembali. Debu-debu yang pekat menutupi permukaan aspal tersapu bersih. Setelah siap dengan aktifitas pagi rutinnya, Cindy baru mempersiapkan diri pergi sekolah. Melihat pantulan dirinya di dalam cermin, membuat dia merasa makin siap menjalani hari.

Di meja makan segala sarapan pagi telah tersedia. Masakannya. Menu sederhana yang dia bisa siapkan dalam waktu singkat. Nasi goreng tanpa bumbu, telur mata sapi untuk enam orang, juga teh hangat.

“Pulang sekolah kamu langsung balik loh, Ndy! Jangan kelayapan lagi” kata Bi Ana mengingatkan.

Sembari menyambar piring dan mengisinya dengan tiga sendok makan nasi goreng, Cindy mengangguk. Itu nasihat Bibinya setiap pagi sebelum dia berangkat ke sekolah. Padahal, tak pernah sekalipun Cindy keluyuran setelah sekolah usai. Bukan dirinya tak ingin, tapi dia sadar itu takkan mungkin.

Hidup menumpang memang harus memiliki jiwa besar. Sadar diri. Jangan berbuat macam-macam. Cukup lakukan hal yang perlu dilakukan. Membantu pekerjaan Bibi di rumah, belajar, dan pergi sekolah. Seperti itu kegiatannya sehari-hari.

“Andre pulang telat ya, Mi. Ada kegiatan kampus!” anak sulung Bi Ana mencium tangan ibundanya terburu-buru.

“Eli besok perlu uang untuk kegiatan sekolah, Mi...” sambung si bungsu mengingatkan. Setelah melihat abang sulungnya sesegara mungkin meninggalkan meja makan, Eli dan satu lagi anak kedua Bi Ana turut bergegas mencium punggung tangan ibundanya.

“Kalau Cindy, apa perlu sesuatu?” Om Januardi yang baru tiba di meja makan bertanya pada gadis yang kini juga ikut memburu waktu.

Bukan tanpa alasan Om Januardi bertanya demikian. Jika Eli membutuhkan uang untuk kegiatan sekolahnya, bisa jadi Cindy juga. Mengingat keduanya berada di sekolah yang sama. Meskipun Eli dan Cindy terpaut beda usia setahun, mereka sama-sama kelas 2 SMA.

Gadis berkulit putih bersih itu hanya tersenyum tenang dan menggelengkan kepalanya. Dia tak sedang membutuhkan sesuatu. Uang sakunya masih bersisa banyak. Cukup untuk seminggu lagi. Kalaupun dia membutuhkan sesuatu, rasanya hanya waktu kosong untuk melakukan aktifitas di luar jam sekolah.

Kemarin, guru kesenian menawarkannya untuk bergabung ke dalam tim marcing band sekolah mereka. Tidak dipungut biaya untuk sekarang ini. Mungkin nanti, saat mereka butuh seragam. Yang terpenting saat ini adalah waktu. Waktu yang bisa dia gunakan untuk ikut latihan.

Tapi, untuk kesekian kalinya Cindy tak ingin bicara mengenai hal sangat ingin dia lakukan. Biarlah keinginan itu berlalu dan hilang ditelan waktu. Memang sudah seharusnya dia merasa cukup karena bisa bersekolah dan makan dan punya tempat berteduh gratis.

***

“Cindy! Gimana tawaran ibu kemarin? Kau sudah bicara pada walimu?” Bu Margareth menjeda kelasnya begitu melihat wajah gadis lugu itu serius memerhatikan materi yang ditulisnya di papan tulis putih.

Cindy merapatkan kedua bibirnya. Hati ingin sekali, tapi keadaan membuatnya berpikir seribu kali. Akhirnya, gadis itu memberanikan diri maju untuk bicara empat mata dengan guru keseniannya. Malu, kalau teman-temannya tahu bahwa dirinya menolak untuk bergabung ke dalam tim yang tengah populer di sekolah mereka. Kan, takutnya mereka berpikir dia itu sok sekali. Tak semua orang mendapat tawaran. Malah mereka yang mengajukan diri seringkali berakhir penolakan.

Bergabung ke dalam tim marching band merupakan keberuntungan. Selain memiliki kesempatan untuk mencetak pengalaman yang tak terlupakan dan luar biasa hebat, disana juga banyak lelaki tampan dan gadis cantik. Bukankah itu keinginan kebanyakan siswa-siswi SMA? Berada di dalam satu tim yang berisikan orang-orang populer?!

“Maaf, Bu. Tapi, saya nggak bisa” katanya pelan sekali, hanya Bu Margareth yang bisa mendengarnya.

Bu Margareth seperti biasa, hanya bisa menghela napas kecewa. Yang seperti ini kerap kali terjadi. Dia sering menerima jawaban yang tidak diharapkannya keluar dari mulut gadis itu. Setiap ada kegiatan di luar jam sekolah, Cindy selalu menolak berpartisipasi. Kegiatan Pramuka, Study tour, tamasya bersama dan sekarang mengikuti marching band, semua itu ditolak tanpa alasan yang tidak pernah jelas. Selalu saja “tidak bisa”. Bu Margareth tidak bisa menyimpulkan itu semua masalah biaya. Karena dia tahu Cindy tak pernah kekurangan uang. Terbukti, gadis itu tak pernah menunggak uang sekolah. Selalu tepat waktu.

“Ibu heran, kenapa kau selalu saja nggak bisa kalau ada kegiatan di sekolah. Katakanlah, Nak! Ada masalah apa?” kali ini Bu Margareth ingin sekali mengetahui alasan yang bisa diterima hatinya yang kerap kali dibuat risih dengan penolakan gadis itu.

Cindy tertunduk dalam. Tak ada alasan yang bagus untuk dikatakan. Dia tidak mau gurunya itu berpikir Bi Ana sengaja mengekangnya. Bagaimanapun, Bi Ana adalah orang yang berjasa dalam hidupnya.

“Walimu nggak ngasih kau ikut yang beginian? Biar ibu yang bicara kalau begitu”

“Nggak, Bu. Bukan nggak ngasih. Cuma saya saja yang nggak berani ngomong. Saya nggak mau merepotkan Om dan Bibi saya. Mereka sudah banyak kesusahan karena saya, Bu”

Mendengar penjelasan itu Bu Margareth lebih menekan rasa simpatiknya yang bisa saja berakhir menjadi pemaksaan. Mata gadis itu berkaca-kaca, membendung air mata yang siap sedia untuk tumpah menggenangi mata sipitnya.

“Baiklah. Begini saja, kau tetap ikut marching band!” kata Bu Margareth. Dan reaksi Cindy masih saja sama, “Tidak bisa, Bu. Maaf...”

“Kita latihan satu jam sebelum kelas berakhir. Dan kau boleh pulang saat bel pulang berbunyi. Jadi, jam pulangmu tetap seperti biasa. Kau tak perlu datang jika ada latihan sore!” Bu Margaretha menawarkan.

Diperhatikannya, gadis itu hanya menolak kegiatan setelah bel pulang berbunyi. Pasti tak masalah jika masih dalam jam sekolah, kan?

Wajah gadis itu menunjukkan rona yang berbeda. Senyum mengembang di wajahnya. Kepalanya dianggukkan, dia setuju. Luar biasa Bu Margareth ini. Baik sekali, hatinya memuji. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Cindy bisa melakukan apa yang sangat ingin dilakukannya. Tergabung dalam kegiatan luar sekolah. Akh, ini perdana. Bagaimana dia akan mengatasi semuanya?? Tanda tanya itu singgah dalam benaknya, tapi kalah oleh rasa gembira yang mendominasi di dalam dadanya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Feb 19, 2019 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cinderella Bukan CinderellaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang