Selamat membaca!
--
New York, USA
Malam sudah larut, saatnya berhenti dari kepenatan. Namun, masih banyak dari mereka yang masih saja duduk di depan komputer untuk bekerja.
Termasuk seorang gadis yang masih setia menggerakkan jarinya dengan lihai. Matanya mulai berair, tapi tidak menghalanginya untuk terus bekerja.
"Kay aku akan pulang, cepat selesaikan pekerjaanmu dan pulanglah." Kata rekan kerjanya yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah hampir selesai, kau pulang saja duluan." Jawabnya.
Rekannya langsung pergi dari ruangan tersebut setelah menepuk pundak gadis yang mulai memutar matanya untuk melihat sekeliling. Terlihat sepi dan gelap,
"Ternyata malam sudah benar-benar larut." Gumamnya dan memulai lagi pekerjaannya.
Tidak ada waktu baginya untuk berhenti. Hidup itu harus bekerja keras, itu prinsipnya. Hidup bukan untuk bersenang-senang, karena kenyataannya bekerja setiap hari tidak akan membuat seseorang kaya sampai mati.
Jam sudah menunjukkan pukul tiga pagi. Kay menguap, rasanya mengantuk sekali. Ia mengambil tasnya dan pergi dari ruangan pengap tersebut.
"Lapar," keluhnya saat melihat restoran cepat saji yang terlihat sangat menggoda.
Kay menggeleng, "Jangan Kay, mari pulang saja." Ia meneruskan perjalanannya.
Jarak antara rumah dan kantornya lumayan jauh, namun ia harus berjalan kaki. Benar, di larut malam setiap hari ia harus berjalan kaki.
Rumah yang tidak terlalu besar itu menantinya, dengan cepat Kay memasuki rumah untuk makan. Perutnya sangat sakit sekarang karena belum makan dari pagi.
"Kau pulang malam sekali." Adiknya, Reon duduk di meja makan sambil memakan nasi dan ayam.
"Aku harus lembur." Jawab Kay singkat.
Ia mengambil piring dan melihat semuanya habis. Benar-benar habis. Kay menghembuskan nafasnya berat.
"Jatahmu dimakan adikmu." Kata ibunya yang berjalan membawa minum untuk Reon.
"Terus aku?" Tanya Kay dengan tatapan datar, ibunya hanya mengangkat bahunya keatas dengan cuek.
Kay melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamarnya. Akan lebih baik jika semua orang yang bergantung padanya ini menghilang.
"Kay!" Teriak ibunya. Kay yang belum sampai pada anak tangga terakhir berbalik badan.
"Uangmu ada? Minta."
Kay melengos, ibunya sungguh menguras emosi. Ia hanya ingin makan saja tak pernah diberi. Seenaknya saja minta uang, batinnya.
"Tidak ada."
Setelah mengatakan itu, Kay melangkah pergi ke kamarnya. Kasur kecil di lantai itu menunggunya. Ia menghela nafas untuk kesekian kalinya.
"Bagaimana aku bisa keluar dari penjara ini."
Kay menutupi wajahnya menggunakan bantal dan berteriak kencang, namun teredam.
--
Silau, itu yang dirasakan Kay saat seseorang memasuki kamarnya. Ia berharap ini belum pagi.
"Bangun Kay!" Suara khas membuatnya sadar akan kenyataan pahit.
"Iya." Ia berjalan ke kamar mandi dan secepat mungkin bersiap.
VOUS LISEZ
Lovely Devil
Roman d'amour[DON'T COPY MY STORIES!!] Clarice Kay Hansen, gadis yang hanya mengerti tentang bekerja. Tuntutan itu membuatnya melupakan kesenangan dunia. Namun, hanya butuh satu malam untuk merubah dirinya menjadi seseorang yang berbeda. Dominic Evan M...
