Dia menawan

39 3 2
                                        

"Drriiiinggggg....."
Handphone ku berdering, mengejutkan ku dari tidur, ku lirik handphone ku dengan suara panggilan berupa nomor yang tidak ku ketahui siapa pemilik nomor tersebut.

"Haloo..." Aku menjawab telpon tersebut dengan menyapanya.

"Maya... ini saya ferdi suaminya dina, may amira dan bayu sudah tiada, mereka kecelakaan tadi pagi pukul 2 pagi "
Mendengar kabar itu aku langsung membuka mata dan duduk di muka tempat tidur.

"Innalillahi wainnailaihi rajiun... sekarang dimana mas?" Tanya ku

"Sekarang sudah dirumah, dina nangis tidak karuan, dia sedih sekali"

"Baiklah, saya akan kesana sekarang juga mas". Aku langsung menutup telpon, kulihat pukul menunjukan jam 4 pagi. Aku langsung mengganti pakaian dan bergegas pergi.

•••

Sesampainya aku di sana, aku melihat dina yang menangis histeris. Bagaimana tidak amira adalah sosok anak perempuan yang humoris, selain ini amira adalah tempat dimana dina menyenderkan diri selain suaminya. Ku lihat disebelah dina ada seorang gadis yang sedang menangis terisak, yaa itu tania anak kedua dina dan mas ferdi.

Aku mendekati mereka.

"Dina... yang sabar ya din, aku turut berduka cita" sambil memeluk dan menghapus air mata dina. Namun dina menghiraukan aku, aku tahu hatinya masih sangat terpukul.

"Terima kasih tante maya..." sahut tania anak dina dan mas ferdi.

Tiba-tiba ntah kenapa waktu itu aku melihat ke arah mas ferdi yang sedang berdiri menyalami tamu, dia sangat tampan, tak lama setelah itu mas ferdi datang kearahku dan aku spontan mengalihkan pandanganku.

"Maya, terimakasih..." suara mas ferdi dari sisi kananku yang terdengar sangat lembut sehingga membuat hatiku tersentuh, seketika jantungku berdebar, yang paling menarik perhatianku adalah hidungnya. Hidungnya sangat mancung ku akui wajah mas ferdi memang tampan, dia juga sangat lembut, beruntung sekali dina.

lalu ia memeluk istri dan anaknya dengan penuh kasih sayang.

"Sungguh bahagia keluarga ini, dina sungguh beruntung mendapatkan mas ferdi" gumamku dalam hati.

•••

Jenazah amira dan bayu akan dikebumikan di pemakaman yang berada dekat komplek perumahan mereka. Setelah melayat aku pamit pulang, aku tidak ingin menemui dina aku fikir ia butuh istirahat untuk menenangkan perasaan dan fikirannya, sehingga aku mencari keberadaan tania untuk meminta izin pamit.

Namun yang ku lihat hanya mas ferdi. Tiba-tiba jantungku berdebar sangat kencang, ku dekati mas ferdi.

"Mas..." panggil ku ragu

Mas ferdi menoleh kearah ku, jantungku semakin tak karuan.

"saya pamit dulu, titip salam buat dina dan tania... saya tidak menemui mereka agar mereka setidaknya bisa istirahat"

Mas ferdi membalik arah menghadapku, ntah mengapa aku merasa ada yang berbeda semenjak mas ferdi menelfonku tadi pagi, padahal aku sering menemuinya. Bagaimana tidak aku sahabat kecil dina yang hampir setiap hari aku temui, meski hanya sekedar minum teh bersama atau bercengkrama. Mas ferdi sangat jarang berbicara padaku ia terlihat sangat kalem dan bahkan aku jarang bertemu dengannya karena dia sibuk bekerja.

"Terima kasih maya..." jawaban yang sangat sederhana tapi membuat aku terbuai akan suaranya yang lembut dangan tubuh yang tinggi dan pakaian sangat rapi bahkan sangat wangi. Sambil berlalu~

•••

"Huffftttt... aku sangat lelah hari ini" kata ku sambil menghempaskan tubuh ku ditempat tidur. Ku tatap dinding langit kamar ku, tiba-tiba terlintas wajah mas ferdi.

HancurStories to obsess over. Discover now