8. Suspicion

196 20 2
                                    

Penyelidikan Leo semakin membuahkan hasil yang tidak diduga oleh pemuda itu, selain soal karena apa dan siapa yang datang ke rumah sakit kala itu, dan soal seseorang yang paling ia benci dalam hidupnya kini terlibat dalam hubungan yang sama dengannya kini entah dalam konotasi apa.

"Yo!" April mengagetkan pemuda yang kini tengah asik dengan pikirannya sendiri itu.

"eh? Iya Mpil, kenapa?"

"kamu kenapa sih daritadi bengong aku perhatiin?"

Leo menggeleng. "gak Mpil."

"halah jangan bohong, sini sini cerita sih kenapa?" pemuda itu nampak berpikir sejenak.

"Mpil, jangan emosi ya tapi?"

April mengangguk. "Meta kayaknya punya hubungan sama Abyan, dari hasil penyelidikanku, dia tinggal bareng sama Abyan, dan aku masih cari tau dia sama Abyan ada hubungan apa." April masih tenang dan itu membuat Leo terkejut.

"Mpil kok diem aja?"

"aku udah pernah ketemu Abyan di rumah sakit, dan dia juga ada waktu kasusnya Naya." Leo sedikit terkejut dengan respon April yang sepertinya sudah tidak mengingat apa yang terjadi pada mereka berdua dulu.

"serius?"

"iya Yo, eh iya minggu ini ke Matos yuk, dek Yon ikut lomba disana." Ajak April, dan tentu saja Leo mengiyakan ajakan gadis itu padahal ia tahu hari Minggu ini ia sudah berjanji untuk pergi menonton dengan Meta, mengganti kencan mereka yang batal kemarin.

"kita mau nemenin dia sekalian nungguin kan?" April menggguk lalu mengeluarkan ponselnya dan mengetikan sesuatu di ruang percakapannya dengan Meta.

Me: Yang, kayaknya Minggu ini aku gak bisa pergi sama kamu deh.

Me: aku mau nemenin April ngeliat adeknya lomba di Matos.

Me: sorry

Leo langsung menyimpan ponselnya ke saku sebelum April mendapatinya membatalkan janjinya dengan Meta demi dirinya.

--

Minggu pagi sesuai janjinya, Leo menunggu April yang kini tengah membuatkan sarapan untuknya, menumpang sarapan dirumah gadis itu sudah jadi kebiasaan si bungsu dari 2 bersaudara itu semenjak kecil.

"dek Yon sarapan dulu nih, mba bikinin omelet kesukaan kamu." Panggil April yang membuat Dion yang masih sibuk menyetrika kostumnya langsung mematikan besi panas itu dan berlari ke arah meja makan.

"wah omelet mba Mpil!" anak itu langsung memakan sarapannya dengan tenang sambil sesekali memperhatikan kakaknya itu.

"mba, Yon mau nanya deh, tapi mba jangan ngamuk lho ya adek wedi lek mba ngamuk." April menelan teh yang baru saja ia minum sebelum menjawab pertanyaan adik bungsunya itu.

"mba Mpil sama mas Yeyo kenapa gak pacaran aja?" Leo tersedak omeletnya setelah mendengar pertanyaan Dion.

"uhuk, kenapa emang Yon?" tanya Leo.

"ya gimana ya, kata bunda gak ada persahabatan antar cewek sama cowok yang bener-bener murni sahabatan, tapi kok mas sama mba bisa sih?"

April melirik kearah Leo seolah meminta pemuda itu untuk menjawab pertanyaan adiknya itu. "ya gimana ya Yon, mas sama mba mu udah kenal baik sih, jadi udah tau tipe masing-masing, dan kamu tau mas itu bukan tipe mba mu."

Dion yang merasa belum puas dengan jawaban Leo pun menggeleng. "ck mba sama mas ini, awas aja ntar kalo mas Yeyo bawa seserahan kesini ya!" ancam anak itu lalu melanjutkan acara makan paginya dengan tentram dan tidak memperdulikan kakaknya yang sepertinya ingin menjitak kepalanya itu.

[ COMPLETE ] ChoiceTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang