Ruang BK

23 4 0
                                        

Pagi ini Arok terlambat bangun seperti biasanya. Ia pun terpaksa harus naik ojek Online untuk pergi ke sekolah, ya walaupun tetap terlambat paling tidak tak lebih dari jam tujuh pikirnya. Sesampainya di sekolah Arok sudah melihat beberapa anak yang terkena teguran oleh Bu Raras. Melihat itu, Arok langsung pergi menghampiri Bu Raras besamaan dengan Abra yang juga baru datang. Belum sampai satu meter di dekat bu Raras, Bu Raras sudah berbalik badan dan mengomel kepada Arok dan Abra, bu Raras merasa bosan selalu saja diperlihatkan oleh wujud dinding hidup dan mulut tronton seperti Arok dan Abra. Tidak ada pilihan lain bu Raras pun menegur mereka berdua dan langsung membawanya ke ruang BK tempatnya bertugas.

"Arok , Abra !! Kenapa kalian bisa terlambat lagii ?" Tanya Ibu Raras sambil menggebrak meja tugasnya. "Ya maaf Bu ngomel-ngomel Mulu tar cepet tua loh..." Jawab Abra yang membuat Bu Raras semakin kesal. Abra tolol batin Arok. Karena kesal, Bu Raras memilih bertanya kepada Arok apa alasannya bisa terlambat datang ke sekolah "Arok, kenapa kamu bisa terlambat ?"
"Saya kesiangan bangun Bu. " Jawab Arok dengan santai, meski dalam hatinya berkata Kebanyakan omong mending langsung kasih kita hukuman aja bu . "Kamu juga kesiangan Abra?" tanya Ibu Raras yang di berikan anggukan dari Abra, "Bu, daripada ibu capek ngasih kita hukuman udah mendingan sekarang bebasin kita berdua aja bu. Saya sama Arok janji deh Bu ga akan telat lagi, suerr." Tawar Abra yang di sertai jari tangan yang membentuk huruf V ✌️. Bu Raras tampak berpikir-pikir dengan memandangi kedua murid di depannya secara bergantian. "Oke, ibu bebasin kalian. Tapi kalau sampai kalian ketahuan telat lagi dan lewat pintu belakang !!! Kalian harus bersihkan seluruh toilet pria sekolah !"
"Oke bu." Jawab Arok dan Abra berbarengan. "Yasudah silahkan ke kelas kalian, jangan cabut !" Ancam Bu Raras mengingatkan. "Siap Bu Raras yang cantik." Jawab Abra sambil mengedipkan sebelah matanya. Bu Raras yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng kepala, pusing melihat tingkah Abra yang sperti itu. Abra dan Arok pun beranjak pergi meninggalkan ruangan BK dan langsung berjalan menuju kelas, dimana jam pembelajaran pertama adalah mata pelajaran Fisika.
Tok.. tok... Abra mengetuk pintu kelas yang terbuka. Pak Tony yang sedang menjelaskan materi pun menghentikan aktivitasnya. "Kalian terlambat lagi?" tanya pak Tony kepada Abra dan Arok yang baru datang ke kelas. "Iya pak kita berdua telat seperti biasa, gausah di hukum pak kita udah kena ko di ruang BK dan sudah di ampuni oleh ibu Raras karena kita berjanji untuk tidak terlambat lagi." Jawab Abra panjang kali lebar membuat pak Tony menatapnya dengan malas. Abra memang benar-benar terlampau berani dengan guru di sekolah, baginya guru itu hanyalah orang tua yang tidak tahu bagaimana susahnya tidur tepat waktu dan bangun tepat waktu. "Hmm.. yasudah silahkan duduk di tempat duduk kalian masing-masing, dan Abra besok-besok tolong bawa lakban ya!". "Lakban pak?" Tanya Abra kebingungan karena otaknya tidak sampai dengan topik lakban yang di maksud oleh Pak Tony. "Iya lakban, kamu gatau lakban?" Abra semakin bingung, sedangkan teman-temannya sudah tertawa terpingkal-pingkal melihat kebodohannya yang sangat murni. "Sudah kamu duduk sana!" perintah Pak Tony yang melihat Abra masih berdiri sendirian sedangkan Arok sudah duduk manis di bangkunya dengan wajahnya yang malas melihat ke arah Abra. Abra pun berjalan mendekati bangku di samping Arok, Ia meletakan tasnya dan mengeluarkan buku pelajaran. Karena masih bingung Abra pun menanyakannya kepada Arok, mengapa dirinya di suruh membawa lakban "Ar, gw kenapa di suruh bawa lakban dah sama Pak Tony?" tanya Abra dengan wajahnya yang bingung dan terkesan bodoh di depan Arok. "Bra, gw taukok lu ga bodoh-bodoh banget. Tapi mulut lu tu lain kali emang beneran harus di lakban, itu maksud Pak Tony!" Arok membuang nafas kesal setelah menjelaskan inti dari bawa lakban. Abra hanya ber-oh ria merespon penjelasan Arok, namun beberapa detik kemudian ia langsung memutar badannya menghadap ke arah Arok "Sialan lo anak kambing!" Ucap Abra sambil menendang kursi bagian samping yang di tempati oleh Arok. Arok yang mengetahui Abra sudah sadar dari ke-telmiannya hanya bisa diam menahan tangannya untuk tidak menjitak kepala sahabatnya itu.
Ya, seperti itulah Abra. Sedikit telmi a.k.a telat mikir beda dengan Arok yang cepat tanggap dan sangat pintar walaupun begitu Arok benar-benar bahagia bisa mengenal Abra, hitung-hitung kebodohannya bisa menjadi bahan hiburan di kala penat belajar di seekolah. Sedikit jahat tapi begitulah adanya dan Arok juga tidak bisa percaya kepada orang lain selain Abra padahal Abra terlihat tidak bisa menyimpan rahasia dengan baik baginya, tapi ia yakin Abra adalah sahabat yang tulus karena menemaninya sejak dulu mereka masih duduk dibangku kelas 5 Sekolah Dasar. Saat itu Arok kecil sedang menangis karena ia kehilangan gantungan kunci sepeninggalan almarhum ayahnya, ia sibuk mencari-cari keseluruh penjuru kelas dengan matanya yang buram karena terhalang air mata. Namun entah dari mana munculnya tiba-tiba saja ada yang menyodorkan gantungan kunci yang ia cari. Orang itu adalah Abra, Abra menemukan gantungn kunci itu di toilet. Awalnya Abra tidak mau mengambilnya, namun ia pernah melihat Arok membawa gantungan kunci itu. Abra pun memutuskan untuk mencari Arok yang ia duga pasti sedang mencari gantungan kunci itu. Abra pun berjalan ke kelas Arok, dugaanya tepat sekali. Di dalam ruangan kelas itu hanya ada Arok yang sedang menangis dan terlihat bingung mencari sesuatu. Abra berjalan mendekati Arok, ia menyodorkan gantungan kunci itu tepat di depan Arok, "Ini milikmu kan?" Arok mengusap air matanya ketika melihat benda yang sedang ia cari berada dihadapannya, wajahnya yang sedih prlahan berubah menjadi bahagia. Ia senang sekali karena gantungan kunci itu akhirnya bisa ketemu. Arok sangat berterimakasih kepada Abra. Saat itu Arok kecil belum mengenal Abra walaupun Abra sebenarnya sudah mengenalnya. Itu karena Arok kecil masih sama seperti Arok yang saat ini, pendiam. "Namamu siapa?" Abra saat itu bingung karena ia pikir Arok sudah mengenalnya walaupun mereka beda kelas, Abra lupa kalau Arok adalah anak yang tidak pernah bermain bersama teman ia selalu menyendiri. "Aku Abra, kelasku tepat di sebelah kelasmu, 5 B." Mereka pun saling berkenalan dan mulai berteman akrab sampai sekarang. Bagi Arok, Abra adalah sahabat yang bisa diandalkan, begitu pun sebaliknya.




.
.
.
.
.
.
Maaf ya guys rada gajelas gitu😂 namanya juga pemula🙃. Tapi semoga aja kalian suka ya..
Jangan lupa beri vote and komen ya 😉

BEFORE FAREWELL Where stories live. Discover now